Kasus dugaan pelecehan seksual terjadi di lingkungan Universitas Riau (Unri). Terduga pelaku merupakan seorang master laki-laki nan bekerja di klinik kampus. Korban nan sudah melapor sebanyak 30 mahasiswi.
Presiden Mahasiswa (Presma) Unri 2026, Muhammad Azhari, menegaskan bahwa pihaknya menerapkan prinsip nol toleransi terhadap segala corak kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Azhari menyampaikan bahwa seluruh korban telah diarahkan untuk melapor ke Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), nan merupakan lembaga resmi kampus dalam menangani kasus kekerasan.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 30 korban telah melapor dan terus mendapatkan pendampingan.
"Ini persoalan serius. Korban tidak hanya satu, dan kami setiap hari terus berkoordinasi dengan mereka," kata Azhari kepada kumparan melalui telepon seluler, Kamis (30/4).
Ia menjelaskan, pihak mahasiswa juga telah melakukan audiensi dengan pihak klinik kampus agar kasus ini ditangani secara serius dan transparan.
"Kampus semestinya menjadi tempat nan kondusif dan nyaman untuk beraktivitas akademik, termasuk berobat. Tapi sekarang banyak mahasiswi takut dan tidak nyaman, apalagi cemas ada predator seksual," ujarnya.
Lebih lanjut, Azhari mengungkapkan bahwa kekhawatiran tidak hanya tertuju pada satu oknum, tetapi juga meluas hingga ke tenaga kesehatan lainnya. Bahkan, terdapat kekhawatiran serupa terhadap jasa kesehatan di rumah sakit nan berafiliasi dengan kampus.
"Korban takut, apalagi untuk pergi ke akomodasi kesehatan lain pun muncul rasa was-was. Karena itu kami meminta agar dilakukan pemeriksaan menyeluruh, tidak hanya pada dokter, tetapi juga seluruh tenaga kesehatan," tegasnya.
Korban Trauma, Takut Datang ke Kampus
Mereka juga telah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit universitas dan berencana melaporkan kasus ini ke Polda Riau dalam waktu dekat. Sejumlah korban bakal turut dihadirkan beserta support family korban untuk memperkuat laporan tersebut.
"Sebagian korban mengalami trauma dan gangguan mental akibat peristiwa nan dialami. Oleh lantaran itu, pihaknya tengah melakukan pendampingan intensif, termasuk konseling dan upaya pemulihan psikologis melalui kerjasama dengan beragam pihak," ungkapnya.
"Beberapa korban mengalami trauma mendalam, apalagi ada nan tidak berani datang ke kampus alias beraktivitas seperti biasa," tambahnya.
"Kami juga mendesak pihak rektorat untuk mengambil langkah tegas dan komprehensif dalam menangani kasus ini, demi memulihkan rasa kondusif di lingkungan kampus serta memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali," pungkasnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·