Ahmed Al-Sharaa.(Al Jazeera)
PRESIDEN Suriah Ahmed al-Sharaa secara tegas menutup pintu bagi kemungkinan intervensi militer Suriah di Libanon. Dalam wawancara eksklusif dengan saluran televisi al-Mashhad, Senin (22/6), Al-Sharaa menekankan bahwa Damaskus berkomitmen untuk berkontribusi pada stabilitas area melalui jalur politik, diplomatik, dan ekonomi, alih-alih keterlibatan bersenjata.
Pernyataan itu muncul sebagai respons atas spekulasi nan berkembang mengenai komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Al-Sharaa menjelaskan bahwa sejumlah media telah salah menafsirkan pernyataan Trump sebagai seruan bagi Suriah untuk melakukan intervensi militer di Libanon.
"Baik Presiden Trump maupun pemerintah Amerika Serikat tidak pernah meminta peran militer Suriah. Damaskus tetap pada pendiriannya untuk mengejar upaya diplomatik guna membantu menyelesaikan krisis di Libanon," tegas Al-Sharaa.
Proposal Perdamaian dan Pemulihan Ekonomi
Sebagai langkah konkret, Al-Sharaa mengungkapkan bahwa Suriah mengusulkan proposal kepada Amerika Serikat dan tokoh internasional lain. Proposal tersebut menyerukan penghentian segera permusuhan di Libanon yang diikuti oleh proses politik, ekonomi, dan sosial lebih luas untuk mengatasi akar konflik.
Ia menggarisbawahi bahwa pemulihan hubungan ekonomi antara Suriah dan Libanon sangat krusial untuk memitigasi akibat krisis bagi kedua negara. Mengingat situasi Libanon nan saat ini berada dalam kondisi kritis akibat kelumpuhan politik, pengungsian, dan tantangan keamanan, Al-Sharaa mencatat bahwa instabilitas tersebut berakibat langsung pada Suriah, terutama di wilayah perbatasan dan area nan menjadi pedoman kekuatan Hizbullah.
Konteks Sejarah: Keterlibatan Suriah di Libanon mempunyai rekam jejak panjang. Pasukan Suriah pertama kali memasuki Libanon pada 1976 di bawah kepemimpinan Hafez al-Assad dan baru menarik diri sepenuhnya pada 2005 setelah tekanan internasional pascapembunuhan mantan Perdana Menteri Libanon, Rafik Hariri.
Dialog dengan Hizbullah dan Kerja Sama Regional
Meskipun mengakui ada perbedaan pandangan nan mendalam antara kepemimpinan Suriah saat ini dengan Hizbullah, Al-Sharaa menyatakan bahwa Damaskus tetap terbuka untuk berdialog. Menurutnya, negosiasi adalah sarana terbaik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut demi kepentingan stabilitas regional.
Lebih lanjut, Presiden Suriah menyoroti pentingnya penguatan kerja sama ekonomi di sektor perdagangan, transportasi, energi, dan jasa. Ia meyakini bahwa komplementaritas geografis dan ekonomi kedua negara bakal memainkan peran kunci dalam upaya rekonstruksi dan pembangunan di masa depan.
Menutup pernyataannya, Al-Sharaa menegaskan kembali bahwa Suriah tidak mempunyai niat berbeda terhadap Libanon. Ia menyerukan pergeseran paradigma dari solusi militer menuju konsentrasi pada pembangunan dan stabilitas jangka panjang. "Perdamaian kekal di area ini hanya dapat dicapai melalui dialog, kerja sama, dan kemitraan ekonomi nan saling menguntungkan," pungkasnya. (Daily Sabah/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·