Prediabetes Bisa Dipulihkan, Kenali Gejala, Risiko, dan Cara Mencegahnya sebelum Menjadi Diabetes

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Prediabetes Bisa Dipulihkan, Kenali Gejala, Risiko, dan Cara Mencegahnya sebelum Menjadi Diabetes Ilustrasi(magnifik)

Prediabetes sering dianggap sebagai kondisi nan tidak rawan lantaran belum masuk kategori diabetes. Padahal, dugaan tersebut justru bisa membikin banyak orang terlambat mengambil langkah pencegahan.

Prediabetes merupakan fase ketika kadar gula darah sudah berada di atas pemisah normal, tetapi belum cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai glukosuria jenis 2. Meski belum menimbulkan keluhan nan jelas, kondisi ini menjadi sinyal bahwa tubuh mulai mengalami gangguan dalam mengelola gula darah.

Kabar baiknya, prediabetes bukanlah vonis nan tidak bisa diubah. Dengan penanganan sejak dini, kondisi ini dapat dikendalikan apalagi dipulihkan sehingga akibat berkembang menjadi glukosuria jenis 2 dapat ditekan.

Prediabetes Terjadi Saat Tubuh Mulai Sulit Menggunakan Insulin

Saat seseorang mengonsumsi makanan, tubuh bakal mengubah karbohidrat menjadi glukosa nan kemudian masuk ke aliran darah. Agar glukosa dapat digunakan sebagai energi, tubuh memerlukan hormon insulin nan diproduksi pankreas.

Pada penderita prediabetes, proses tersebut mulai terganggu. Sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal alias dikenal sebagai resistensi insulin. Akibatnya, gula menumpuk di dalam darah sehingga kadar glukosa perlahan meningkat.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kondisi ini merupakan tahap awal nan meningkatkan akibat seseorang mengalami glukosuria jenis 2, penyakit jantung, hingga stroke andaikan tidak segera ditangani.

Mengapa Banyak Orang Tidak Menyadari Mengalami Prediabetes?

Salah satu tantangan terbesar dari prediabetes adalah nyaris tidak adanya indikasi nan khas. Seseorang dapat mengalaminya selama bertahun-tahun tanpa menyadari bahwa kadar gula darahnya sudah berada di atas normal.

Karena tidak menimbulkan keluhan nan jelas, banyak kasus baru diketahui ketika pemeriksaan kesehatan rutin alias setelah berkembang menjadi glukosuria jenis 2.

CDC menyebut sebagian besar penderita prediabetes tidak mengetahui bahwa mereka mempunyai kondisi tersebut. Oleh lantaran itu, pemeriksaan gula darah menjadi langkah penting, terutama bagi mereka nan mempunyai aspek risiko.

Siapa nan Lebih Berisiko?

Prediabetes dapat dialami siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada orang nan mempunyai berat badan berlebih alias obesitas, berumur di atas 45 tahun, jarang beraktivitas fisik, mempunyai riwayat glukosuria dalam keluarga, pernah mengalami glukosuria saat kehamilan (diabetes gestasional), maupun mempunyai tekanan darah tinggi.

Apabila mempunyai satu alias lebih aspek akibat tersebut, berkonsultasi dengan master untuk melakukan pemeriksaan gula darah sangat dianjurkan sebagai langkah penemuan dini.

Bisakah Prediabetes Pulih?

Jawabannya adalah bisa.

Berbeda dengan dugaan bahwa glukosuria selalu berkembang secara berjenjang dan tidak dapat dicegah, CDC menegaskan bahwa prediabetes sering kali dapat dibalik melalui perubahan style hidup nan konsisten.

Langkah pertama adalah menurunkan berat badan andaikan mengalami kelebihan berat badan. Penurunan sekitar 5-7 persen dari berat badan sudah terbukti memberikan faedah besar dalam memperbaiki sensitivitas insulin.

Selain itu, aktivitas bentuk secara rutin juga berkedudukan penting. CDC merekomendasikan sedikitnya 150 menit olahraga intensitas sedang setiap minggu, misalnya melangkah sigap selama 30 menit dalam lima hari.

Perubahan pola makan nan lebih sehat, memperbanyak konsumsi sayuran, buah, biji-bijian utuh, serta membatasi makanan tinggi gula dan lemak jenuh juga menjadi bagian krusial dalam mengendalikan kadar gula darah.

Pemeriksaan Dini Menjadi Kunci Pencegahan

Karena sering tidak bergejala, pemeriksaan gula darah menjadi langkah paling efektif untuk mengetahui apakah seseorang mengalami prediabetes.

Dokter dapat melakukan beberapa jenis pemeriksaan, salah satunya tes HbA1c nan menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Hasil pemeriksaan tersebut bakal membantu menentukan apakah kadar gula darah tetap normal, sudah memasuki tahap prediabetes, alias telah berkembang menjadi diabetes.

Semakin sigap kondisi diketahui, semakin besar kesempatan untuk mencegah kerusakan kesehatan nan lebih serius di kemudian hari.

Jangan Tunggu Sampai Menjadi Diabetes

Prediabetes bukanlah kondisi nan boleh dianggap sepele. Meski belum termasuk diabetes, fase ini merupakan kesempatan terbaik untuk melakukan perubahan sebelum terjadi kerusakan nan lebih berat.

Melalui pola makan nan lebih sehat, olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala, akibat berkembang menjadi glukosuria jenis 2 dapat dikurangi secara signifikan.

Sebagaimana dijelaskan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perubahan style hidup nan dilakukan sejak tahap prediabetes terbukti bisa menurunkan akibat glukosuria jenis 2 hingga sekitar 58 persen, apalagi mencapai 71 persen pada orang berumur di atas 60 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa langkah mini nan dilakukan secara konsisten dapat memberikan faedah besar bagi kesehatan jangka panjang.

Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia