Prancis meminta maaf kepada Amerika Serikat (AS) setelah perselisihan diplomatik mengenai voting di Majelis Umum PBB. Washington menyambut baik permintaan maaf tersebut.
Misi Prancis untuk PBB menyampaikan permintaan maaf melalui pernyataan di situs resminya pada Jumat (11/9).
“Prancis dan Amerika Serikat baru-baru ini mengambil posisi berbeda dalam satu pemungutan bunyi di Majelis Umum PBB. Perbedaan ini menyangkut satu pemungutan suara, bukan soal pembelaan kewenangan asasi manusia,” demikian pernyataan tersebut, dikutip AFP.
Prancis juga menegaskan perbedaan pendapat itu tidak mengganggu hubungan dekat kedua negara, aliansi historis, maupun kerja sama untuk mendorong perdamaian dan stabilitas.
Permintaan maaf itu mendapat respons positif dari Washington.
“Kami mencatat dan menghargai pernyataan Prancis serta berambisi dapat bekerja sama untuk memajukan nilai dan kepentingan bersama,” kata pejabat Departemen Luar Negeri AS kepada AFP dengan syarat anonim.
Perselisihan bermulai pada 24 Juli, ketika AS menjadi salah satu dari 10 negara nan menolak memperpanjang masa kedudukan Volker Turk sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk HAM.
Seusai voting tersebut, misi Prancis untuk PBB mengunggah pernyataan di X nan berbunyi, “AS dulu merupakan mercusuar kewenangan asasi manusia. Tidak lagi.”
Komentar itu memicu kemarahan Washington. Beberapa hari kemudian, perwakilan AS apalagi meninggalkan rapat Dewan Keamanan PBB namalain walkout ketika Duta Besar Prancis mulai berbincang sebagai corak protes.
Dampak perselisihan juga merembet ke penunjukan diplomat.
AS menahan persetujuan Aurelien Lechevallier, pilihan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk menjadi duta besar berikutnya di Washington, menggantikan Laurent Bili.
Persetujuan AS terhadap calon duta besar Prancis biasanya hanya menjadi formalitas, tetapi proses Lechevallier tetap tertahan sejak perselisihan tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·