Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII di Gorontalo, Rabu (24/6).(Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan capaian swasembada pangan Indonesia merupakan hasil kerja kolektif, bukan keberhasilan satu orang. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII di Gorontalo, Rabu (24/6).
Prabowo menyebut keberhasilan meningkatkan produksi pangan nasional sebagai salah satu capaian terbesar pemerintah dalam satu tahun delapan bulan terakhir.
"Yang paling besar kita capai dan saya merasa berterima kasih adalah kita swasembada pangan," kata Prabowo.
Menurut Prabowo, produksi beras dan jagung Indonesia sekarang mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah republik. Ia menegaskan capaian itu lahir dari kerja keras petani, nelayan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta support TNI dan Polri.
Prabowo juga mengapresiasi jejeran nan menangani sektor pangan, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Kelautan dan Perikanan, para wakil menteri, serta pemerintah daerah.
Ia menilai ketahanan pangan merupakan agenda strategis nan menuntut keterlibatan seluruh kekuatan bangsa. Karena itu, support abdi negara negara dalam sektor pertanian dinilainya sebagai bagian dari kepentingan nasional.
"Hanya di Indonesia polisi ngurus pertanian. Hanya di Indonesia tentaranya sering ada di sawah. Hanya di Indonesia angkatan laut tanam kedeleh. Hanya di Indonesia angkatan udara tanam tebu. Tapi ini adalah strategis," ujarnya.
Prabowo mengingatkan swasembada pangan bukan sasaran nan mudah dicapai. Dalam sejarah Indonesia, keberhasilan serupa hanya pernah terjadi pada 1984 dan berjalan relatif singkat.
"Kita percaya kita swasembada pangan tidak hanya untuk satu tahun. Untuk seterusnya, kita bakal swasembada pangan," tuturnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut kesejahteraan petani berada pada level tertinggi dalam lebih dari tiga dasawarsa terakhir. Ia mengaitkan capaian itu dengan peningkatan produksi pangan, kenaikan ekspor pertanian, serta berkurangnya ketergantungan terhadap impor beras.
Amran mengatakan produksi pangan Indonesia menempati ranking keempat bumi dengan total 38 juta ton berasas pengumuman FAO dua hari lalu.
"Itu adalah diumumkan oleh FAO. Jadi bukan kita nan umumkan, tetapi FAO," kata Amran.
Ia menambahkan Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian berasas info BPS juga disebut mencapai 5,74%, tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Kinerja sektor pertanian, lanjut Amran, turut terlihat dari nilai ekspor nan mencapai Rp166 triliun. Pada saat nan sama, pengurangan impor beras medium membikin nilai impor turun hingga Rp41 triliun.
Pemerintah juga mempercepat hilirisasi kakao, jambu mete, dan tebu di lahan 870 ribu hektare. Program itu diproyeksikan menciptakan sedikitnya tiga juta lapangan kerja hingga 2029.
Di bagian tata kelola, Amran menyebut pemerintah berbareng Polri, Kejaksaan, dan KPK telah menindak 77 pihak nan terlibat pelanggaran sektor pertanian. Kementerian Pertanian juga mencopot 248 orang nan terindikasi melakukan penyimpangan. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·