Presiden Prabowo Subianto meminta alokasi anggaran untuk mitigasi musibah ditambah secara signifikan. Menanggapi perihal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap sejumlah kebutuhan anggaran untuk memperkuat sistem penemuan awal dan peringatan awal bencana.
Sekretaris Utama (Sestama) BMKG Guswanto mengatakan, BMKG mempunyai tugas dalam penemuan awal dan sistem peringatan dini. Karena itu, salah satu kebutuhan utama BMKG adalah memastikan peralatan operasional utama tetap layak dan sah digunakan.
“Kalau dari BMKG sendiri itu kan musibah secara nasional ya. Namun kita kan BMKG sendiri bekerja dalam bagian penemuan dini, sistem peringatan dini. Kalau dari sisi sistem peringatan awal nan banyak difokuskan adalah gimana kita memperkuat peralatan perangkat operasional utama kita itu tetap sah tetap layak untuk operasional. Itu nan pertama,” kata Guswanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).
Selain penguatan dan pemeliharaan peralatan, BMKG memerlukan anggaran untuk edukasi publik. Guswanto mengatakan edukasi tersebut dilakukan melalui beragam program sekolah lapang nan disesuaikan dengan bagian dan kebutuhan masyarakat.
“Yang kedua juga kita memerlukan penganggaran di dalam edukasi publik nan kita menggunakan sekolah lapang iklim, sekolah lapang bencana, sekolah lapang cuaca nelayan, sekolah lapang meteorologi penerbangan dan sekolah lapang barangkali ada satu lagi nan gempa, gempa bumi dan tsunami. Itu kita lakukan,” ujarnya.
Menurut Guswanto, BMKG juga memerlukan support anggaran untuk sosialisasi dan diseminasi informasi. Hal ini dinilai krusial agar info mengenai cuaca, iklim, gempa bumi, hingga tsunami dapat diterima masyarakat dengan cepat.
Butuh Bandwidth Besar untuk Diseminasi Informasi
Guswanto menjelaskan, kebutuhan anggaran BMKG juga berangkaian dengan prasarana komunikasi data. Ia menyebut proses diseminasi info BMKG memerlukan bandwidth nan cukup besar.
“Perlu dipahami juga dalam perihal diseminasi info BMKG ini cukup menyantap banyak bandwidth. Kita juga sudah bekerja sama dengan BRI, menggunakan support BRI-sat, ya, kemudian kita juga menggunakan dalam diseminasi info itu tidak hanya informasinya, tapi kita juga menggunakan komunikasi data,” tuturnya.
Menurutnya, kebutuhan bandwidth tersebut dapat mencapai kapabilitas nan sangat besar. Bahkan, dalam kondisi tertentu, kebutuhan komunikasi info BMKG dapat mencapai hingga 1 gigabit.
“Satu hari bisa berapa Giga itu untuk komunikasi saja bandwidth-nya? Sampai 1 Giga satu hari itu, satu detik apalagi kadang-kadang. Ya itu nan cukup besar nan dibutuhkan, jadi anggaran sistem peringatan ini, anggaran pemeliharaan peralatan, anggaran edukasi, anggaran untuk sosialisasi dan ini itu dibutuhkan,” jelas Guswanto.
Efisiensi Anggaran Jadi Tantangan
Guswanto juga menanggapi kemungkinan adanya perangkat BMKG nan rusak alias susah diganti dan dipelihara akibat efisiensi anggaran. Ia mengatakan BMKG memandang kondisi tersebut sebagai tantangan, tetapi tetap memastikan peralatan nan digunakan untuk menghasilkan info memenuhi standar kelayakan.
“Jadi gini, untuk menghadapi masalah efisiensi anggaran kami itu kami anggap itu sebagai tantangan, ya. Sebagai tantangan. nan krusial itu adalah perangkat BMKG itu valid, ya, layak operasi dan dikalibrasi setiap saat. Itu nan penting. Data nan keluar maka itu bakal valid. Nah jika info sah maka untuk prakiraan itu bagus, ya, artinya hasilnya kelak juga baik,” kata Guswanto.
Ia menjelaskan BMKG menerapkan dua lapis pemeliharaan peralatan, ialah pemeliharaan preventif dan pemeliharaan korektif.
“Nah kita juga memandang bahwa dari ditanyakan tadi tentang susah enggak sih? Kita mempunyai dua lapis maintenance. Satu preventive maintenance, satu corrective maintenance,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, BMKG memandang jenis dan karakter setiap alat. Sebab, akibat kerusakan satu perangkat dengan perangkat lainnya tidak selalu sama.
“Preventive maintenance itu kita berupaya mana sih nan alat-alat nan bekerja dengan jaringan? Ada nan alat-alat bekerja dengan single. Seperti seismograf itu bekerja dengan jaringan. Kalau satu Jawa Barat ada 100 meninggal satu mungkin tetap oke. Tapi jika radar, itu jangkauannya misalkan 250 km. Kalau radar nan meninggal ya lenyap sudah. Maka itu enggak bisa. Jadi ada alat-alat kan gitu,” jelas Guswanto.
Karena keterbatasan anggaran, BMKG menerapkan strategi shifting dalam pemeliharaan peralatan. Artinya, prioritas pemeliharaan dapat bergantian dari satu perangkat alias letak ke perangkat alias letak lainnya.
“Kita melakukan strategi shifting. Hari tahun ini, ini nan dipelihara tahun besok nan ini. Sampai seperti itu,” katanya.
“Yang krusial adalah kami melakukan jasa 24 jam per tujuh. Itu, dan kecermatan kami mempunyai minimal, minimal standar akurasi,” sambung dia.
Standar Akurasi hingga Golden Time Tsunami
Guswanto mengatakan, BMKG mempunyai standar minimum kecermatan untuk masing-masing layanan. Untuk info meteorologi kepada publik, misalnya, tingkat kecermatan tidak boleh berada di bawah 90 persen.
“Kalau di meteorologi misalkan publik tidak boleh kurang dari 90. Kalau di penerbangan kudu 100 persen,” katanya.
Ia menekankan tingkat kecermatan tersebut krusial lantaran info BMKG berangkaian langsung dengan keselamatan masyarakat. Khususnya dalam penerbangan, kesalahan info cuaca dapat memengaruhi keputusan keselamatan penerbangan.
“Kalau akurasinya rendah kan baca alat. Kalau alatnya salah yo orang kan takut naik pesawat terbang,” ujar Guswanto.
Sementara dalam bagian geofisika, BMKG mempunyai pemisah waktu tertentu untuk menyampaikan info peringatan dini. Salah satunya mengenai tsunami nan mempunyai golden time kurang dari tiga menit.
“Jadi ada minimum kecermatan nan dimiliki, seperti di geofisika kan punya golden time. Untuk tsunami itu kurang dari 3 menit. Ya udah kudu terinformasi. Kalau kita molor sampai 5 menit, wah nggak ada gunanya itu. Jadi peringatan dininya sudah terlambat,” pungkasnya.
Prabowo Minta Anggaran Mitigasi Ditambah
Sebelumnya, Prabowo menyampaikan permintaan penambahan anggaran tersebut saat memimpin rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan sejumlah musibah di Indonesia secara hibrida dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9).
Menurutnya, kondisi Indonesia nan berada di dalam lingkaran api membikin pemerintah kudu selalu siap menghadapi segala kemungkinan bencana.
“Ini adalah takdir kita, negara nan berada di lingkaran api, the Ring of Fire. Jadi, ini membawa kita untuk kudu siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat,” kata Prabowo.
Prabowo mengapresiasi seluruh unsur nan telah bekerja dalam penanganan bencana. Meski demikian, dia meminta setiap hambatan maupun keterlambatan nan tetap terjadi dicatat sebagai bahan pertimbangan untuk memperkuat langkah antisipatif pemerintah.
“Alokasi anggaran untuk mitigasi musibah kudu kita tambah secara signifikan,” katanya.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·