Prabowo Keliling Museum Marsinah, Takjub Lihat Barang Peninggalan Sang Aktivis Buruh

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim) pada Sabtu (16/5/2026). Prabowo sempat memandang dan berkeliling Museum Marsinah sembari memandang peralatan peninggalan aktivis buruh wanita itu.

Berdasarkan pantauan Liputan6.com dari YouTube Sekretariat Presiden, Prabowo didampingi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, hingga Ketua Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea.

Prabowo sempat memandang pakaian, tas, hingga sandal terakhir nan dipakai Marsinah. Prabowo kemudian tampak memasuki ruangan nan berisi bilik tidur Marsinah. Kamar tersebut tampak sederhana dengan tembok kayu serta tempat tidur Marsinah nan jauh dari kata modern.

Selain itu, Prabowo juga sempat memandang sepeda ontel milik Marsinah. Sepeda tersebut biasa dipakai Marsinah untuk pergi kerja ke pabriknya dari kostannya di Sidiarjo, Jawa Timur.

Tampak pula patung bergambar Marsinah nan dipajang di museum tersebut. Dalam patung itu, Marsinah tengah mengangkat tangan. Patung itu juga bertuliskan 'Pahlawan Buruh Ibu Marsinah'.

Masyarakat juga dapat memandang riwayat hidup dan perjuangan Marsinah melalui media digital nan ada di dalam museum. Usai diresmikan Prabowo, museum tersebut terbuka untuk masyarakat.

Prabowo Beri Gelar Pahlawan

Sebagai informasi, Prabowo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah pada 11 November 2025. Marsinah nan merupakan aktivis pekerja wanita gugur saat masa Orde Baru, Marsinah.

Melansir dari beberapa sumber, Marsinah merupakan aktivis dan pembela kewenangan pekerja kelahiran 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Dia merupakan anak dari pasangan Astin dan Sumini.

Marsinah juga diketahui mempunyai kakak wanita berjulukan Marsini dan adik wanita berjulukan Wijati. Ketika masa Orde Baru, Marsinah melalui kisah hidup nan berhujung dengan tragis.

Awalnya, Marsinah nan hanya lulusan SLTA memutuskan untuk merantau di tahun 1989 ke Surabaya. Dia juga mempunyai kemauan mengenyam pendidikan perkuliahan tetapi kudu pupus lantaran kondisi ekonomi nan tidak memungkinkan.

Berada di Surabaya, Marsinah tinggal di rumah Marsini nan telah berfamili dan bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut. Namun, gajinya di pabrik tersebut jauh dari cukup sehingga tetap mencari tambahan penghasilan dengan berdagang nasi bungkus.

Selain itu, Marsinah juga pernah bekerja di sebuah perusahaan pengemasan peralatan sebelum akhirnya pindah ke pabrik arloji PT Catur Putra Surya (PT CPS) di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo pada 1990.

Marsinah Perjuangkan Nasib Rekannya

Ketika bekerja di PT CPS, Marsinah dikenal sebagai pekerja nan aktif untuk memperjuangkan nasib rekan-rekan sesamanya. Dia juga berasosiasi menjadi aktivis dalam organisasi pekerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT CPS.

Kemudian pada 1993, pemerintah mengeluarkan petunjuk Gubernur KDH TK I Jawa Timur dalam surat info No. 50/Th. 1992 nan berisi imbauan kepada pengusaha Jawa Timur untuk meningkatkan penghasilan pokok tenaga kerja sebesar 20 persen.

Namun kala itu, imbauannya tidak segera dipenuhi oleh para pengusaha termasuk PT CPS tempat Marsinah bekerja. Alhasil memicu tindakan unjuk rasa dari para pekerja nan menuntut kenaikan upah.

Pada 2 Mei 1993, Marsinah terlibat dalam rapat perencanaan unjuk rasa nan digelar di Tanggulangin, Sidoarjo. Sehari kemudian para pekerja mencegah teman-temannya bekerja untuk melakukan tindakan mogok.

Namun, Komando Rayon Militer (Koramil) setempat langsung turun tangan untuk mencegah tindakan para pekerja PT CPS tersebut. Ada pun pada 8 Mei 1993 para pekerja mogok total dan mengusulkan 12 tuntutan kepada PT CPS.

Marsinah menjadi salah satu dari 15 orang perwakilan pekerja nan melakukan perundingan dengan pihak perusahaan dan tetap terlibat hingga 5 Mei 1993. Pada siang harinya, sebanyak 13 pekerja dianggap menghasut rekan-rekannya untuk berunjuk rasa.

Marsinah Sempat Dikabarkan Menghilang

Mereka digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo dan dipaksa mengundurkan diri pada PT CPS lantaran dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah tenaga kerja lain bekerja.

Marsinah nan mendengar kondisi tersebut dikabarkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan 13 rekannya. Kemudian pada malam harinya sekitar pukul 10 dia dikabarkan menghilang.

Marsinah dikabarkan menghilang sejak 5 Mei 1993 waktu malam hingga akhirnya ditemukan tewas mengenaskan di Nganjuk pada 9 Mei 1993. Berdasarkan hasil autopsi, Marsinah diketahui meninggal bumi pada 8 Mei 1993.

Kemudian dari hasil autopsinya penyebab kematiannya dikarenakan penganiayaan berat dan diketahui juga telah diperkosa. Kematian Marsinah memicu reaksi keras masyarakat dan menuntut pemerintah mengusut tuntas serta mengadili para pelaku pembunuhan.

Namun, upaya dalam menemukan pelaku sampai saat ini tetap belum ditemukan dan jadi misteri. Sosoknya sekarang tetap dikenang sebagai pahlawan pekerja dan sempat dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien dan kisah hidupnya terus diceritakan terutama pada hari buruh.

Kisah hidup Marsinah juga diangkat ke dalam beragam karya sastra hingga seni pementasan. Keberanian nan dimiliki Marsinah menjadi inspirasi terutama dalam bumi pekerja sampai saat ini.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita