Suasana meriah menyelimuti kota Sidon di Lebanon selatan pada Kamis (17/4/2026), saat gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku. Mobil-mobil membunyikan klakson, sementara penduduk turun ke jalan, bersorak, bernyanyi, dan mengangkat tanda kemenangan sebagai corak perayaan.(REUTERS/Aziz Taher)
Seorang penduduk desa Ras al-Ain, Mohamad Qassim, mengungkapkan rasa harunya atas momen tersebut. “Selatan bercahaya lantaran rakyatnya. Semoga Tuhan mengampuni para martir nan membikin kita kembali,” ujarnya di tengah euforia warga. (REUTERS/Aziz Taher)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan video menyatakan telah menyetujui jarak pertempuran selama 10 hari. Ia menyebut ada kesempatan untuk mencapai kesepakatan berhistoris dengan Lebanon, meski masa depan gencatan senjata tetap belum pasti, terutama dalam bentrok antara Israel dan Hezbollah. (REUTERS/Aziz Taher)
Namun demikian, Netanyahu menegaskan tidak menyetujui tuntutan Hizbullah untuk menarik pasukan Israel dari Lebanon selatan hingga ke perbatasan internasional. Ia juga menyatakan bakal tetap mempertahankan “zona keamanan” nan luas hingga perbatasan Suriah. (REUTERS/Aziz Taher)
Di sisi lain, gencatan senjata ini dinilai berpotensi membuka jalan bagi kesepakatan perdamaian nan lebih luas, termasuk dengan Iran. Jika terwujud, perihal ini dapat menjadi capaian krusial bagi pemerintahan Donald Trump, nan tengah berupaya menjaga stabilitas kawasan, termasuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz dan menahan ambisi nuklir Iran. (REUTERS/Aziz Taher)
Sejak 2 Maret, serangan Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.100 orang di Lebanon serta memaksa lebih dari 1,2 juta penduduk mengungsi, menurut otoritas setempat. Sementara itu, serangan Hizbullah disebut menewaskan dua penduduk sipil Israel, dan 13 tentara Israel tewas dalam operasi di Lebanon dalam periode nan sama. (REUTERS/Aziz Taher)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·