Potret Krisis Hantam Tetangga RI, Warga Gali Tanah untuk Dapatkan Air

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Kekeringan parah akibat El Nino melanda Sri Lanka, mengeringkan sumber air dan menggagalkan panen.

T.B. Leelawathie (49 tahun) dan temannya melangkah membawa ember dan bak saat hendak mandi di sungai nan telah mengering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, pada 27 Agustus 2026. (REUTERS/Priyanshu Singh)

Dua penduduk membawa ember dan bak saat hendak mandi di sungai nan mengering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka. Kekeringan parah melanda sejumlah wilayah negara tersebut akibat gangguan cuaca nan dipicu El Nino. Kondisi ini menyebabkan sumber air menyusut, pendapatan petani anjlok, dan sebagian penduduk terpaksa mengandalkan pasokan air dari pemerintah. (REUTERS/Priyanshu Singh)

T.B. Leelawathie (49 tahun) menarik timba berisi air sementara suaminya, A.M. Pathmasena (48 tahun), mengambil air dari sumur nan airnya mulai surut di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, pada 28 Agustus 2026.

A.M. Pathmasena, petani berumur 48 tahun di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, mengatakan sumurnya untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dasawarsa nyaris tidak lagi menyediakan air. Air nan tersisa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan dua ekor sapi. (REUTERS/Priyanshu Singh)

A.M. Pathmasena, 48 tahun, mengambil air dari lubang nan dia gali di dasar sungai nan mengering untuk mandi di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, pada 27 Agustus 2026.

"Kekeringan semakin parah. Air nan merembes ke sumur nyaris tidak cukup," kata Pathmasena. Ia dan keluarganya apalagi kudu menggali lubang mini di dasar sumur dan menunggu air merembes untuk keperluan mandi. (REUTERS/Priyanshu Singh)

Dasar kolam air nan retak dan kering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, 28 Agustus 2026.

Sejumlah distrik pertanian di Sri Lanka mengalami defisit curah hujan hingga 85%-100% dibandingkan rata-rata jangka panjang. Pemerintah menyebut akibat kekeringan tahun ini berpotensi menjadi nan terparah dalam beberapa dekade, dengan ketinggian air di ratusan waduk mini turun hingga sekitar 10%. (REUTERS/Priyanshu Singh)

Dasar sungai nan mengering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, 28 Agustus 2026.

Kekeringan telah membikin sebagian besar wilayah utara, timur dan selatan Sri Lanka mengalami kekurangan air. Waduk kecil, sungai dan waduk nan biasanya memasok air untuk pertanian serta kebutuhan rumah tangga mulai mengering. (REUTERS/Priyanshu Singh)

Warga menggunakan pipa untuk mengisi wadah mereka dengan air minum dari truk tangki air di distrik Monaragala, Sri Lanka, pada 24 Agustus 2026.

Pemerintah pun menyalurkan air bersih menggunakan truk kepada puluhan ribu warga. Rumah-rumah nan mudah dijangkau biasanya menerima pasokan setiap tiga hingga lima hari, sedangkan penduduk di wilayah terpencil kudu menunggu hingga 23 hari. (REUTERS/Priyanshu Singh)

A.M. Pathmasena, 48 tahun, menuangkan air dari ember ke dalam wadah setelah mengambilnya dari sumur nan mulai mengering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, pada 28 Agustus 2026.

Warga di sejumlah wilayah terdampak terlihat menunggu pasokan air di depan rumah dengan membawa drum plastik biru. Sebagian lainnya mendatangi sumur bor untuk mandi dan mengambil air untuk mencuci pakaian, mencuci piring hingga memasak. (REUTERS/Priyanshu Singh)

A.M. Pathmasena, 48 tahun, menggali lubang di dasar sungai nan mengering dan membersihkan air di dalamnya sebelum mandi, di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, pada 27 Agustus 2026.

Dampak kekeringan juga dirasakan langsung oleh petani. Pathmasena mengatakan sebelum krisis dia bisa memperoleh sekitar 20.000 rupee Sri Lanka alias sekitar US$60 alias sekitar Rp1,06 juta per bulan dari menanam kacang tunggak. Namun, tanaman kandas panen akibat kekurangan air sehingga dia sekarang bekerja sebagai pekerja harian untuk memperkuat hidup. (REUTERS/Priyanshu Singh)

A.M. Pathmasena, 48 tahun, memberikan air kepada ternaknya di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, pada 27 Agustus 2026.

Krisis air juga memukul upaya peternakan. Putranya terpaksa menghentikan peternakan ayam beberapa pekan lampau lantaran suhu tinggi dan sulitnya mendapatkan air. Dalam kondisi terbatas, Pathmasena dan keluarganya apalagi kudu mendahulukan pemberian air kepada sapi sebelum makan. (REUTERS/Priyanshu Singh)

T.B. Leelawathie (49 tahun) dan suaminya, A.M. Pathmasena (48 tahun), membawa air kembali ke rumah mereka setelah mengambilnya dari sebuah sumur nan airnya mulai mengering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, pada 28 Agustus 2026.

"Pada beberapa hari, ketika kami tidak punya apa-apa, kami melewatkan waktu makan," ujarnya. El Nino merupakan pola cuaca nan ditandai oleh kenaikan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik khatulistiwa. Fenomena tersebut dapat memicu kondisi lebih kering di sejumlah wilayah Asia dan angin besar dahsyat di area lainnya. (REUTERS/Priyanshu Singh)

Dasar tangki air nan retak dan kering di Desa Galwela Yaya, Distrik Ampara, Sri Lanka, 28 Agustus 2026.

Untuk saat ini, para petani di Sri Lanka hanya dapat menunggu datangnya hujan dan berambisi memperoleh pekerjaan serta hasil panen nan dapat menyelamatkan kehidupan mereka. (REUTERS/Priyanshu Singh)

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News