Kekeringan di Jerman menyingkap Hungersteine alias "batu kelaparan" di Sungai Rhine, penanda sejarah krisis akibat rendahnya air.
Surutnya permukaan Sungai Rhine di Jerman kembali menyingkap Hungersteine alias "batu kelaparan" di wilayah Worms. Kemunculan batu-batu tersebut menjadi penanda nyata rendahnya permukaan air sekaligus mengingatkan pada sejarah kekeringan nan pernah menakut-nakuti kehidupan masyarakat. (REUTERS/Andreas Buerger)
Hungersteine merupakan penanda hidrologis nan ditempatkan di sungai dan perairan lainnya saat permukaan air sangat rendah. Batu-batu ini berfaedah sebagai peringatan bagi generasi mendatang mengenai akibat kekeringan, termasuk potensi kandas panen dan kelaparan. (Tangkapan Layar Video Reuters/)
Kemunculan kembali batu tersebut terjadi ketika Jerman dan sebagian besar wilayah Eropa menghadapi gelombang panas berturut-turut dengan curah hujan minim pada musim panas ini. Kondisi tersebut menyebabkan permukaan air sejumlah sungai, termasuk Rhine, menyusut drastis. (REUTERS/Andreas Buerger)
Surutnya Sungai Rhine juga menyingkap benda-benda nan sebelumnya berada di bawah permukaan air. Di Neuss, sebuah perahu nelayan tua nan pernah digunakan pada 1990-an kembali terlihat. Perahu tersebut terakhir kali muncul pada 2022. (REUTERS/Stephane Nitschke)
Sungai Rhine merupakan jalur pelayaran krusial bagi pengedaran beragam komoditas di Eropa, seperti biji-bijian, mineral, batu bara, dan produk minyak olahan. Rendahnya permukaan air akibat kekeringan berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran dan pengangkutan barang. (REUTERS/Stephane Nitschke)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·