Feby Novalius
, Jurnalis-Minggu, 12 Juli 2026 |19:34 WIB

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap menghadapi sejumlah tantangan untuk menembus pasar internasional. (Foto: Okezone.com/Kemenkop)
JAKARTA - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap menghadapi sejumlah tantangan untuk menembus pasar internasional, mulai dari rumitnya birokrasi, hambatan bahasa, hingga keterbatasan pemahaman terhadap peta persaingan global. Padahal, terdapat kesempatan besar nan belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku upaya dalam negeri, terutama untuk memasuki pasar ekspor Tiongkok.
“Saya memandang ada potensi besar nan belum tergarap secara optimal oleh para pelaku upaya lokal lantaran kurangnya keberanian serta minimnya akses info untuk melangkah keluar dari area nyaman pasar domestik,” ujar Pendiri Next Step, Assed Lussak, Minggu (12/7/2026).
Menurut Assed, pelaku UMKM memerlukan pendampingan untuk memahami karakter pasar nan dituju, termasuk melalui penyediaan info pasar dan aktivitas business matching. Hal tersebut dinilai krusial mengingat Tiongkok mempunyai jumlah masyarakat sekitar 1,4 miliar jiwa dengan potensi pasar nan besar.
Selain akses pasar, dia menilai diperlukan proses kurasi terhadap produk-produk potensial unik Indonesia agar bisa bersaing di pasar Tiongkok. Produk tersebut mencakup beragam sektor, mulai dari komoditas, furnitur, hingga industri imajinatif lokal.
“Kami melakukan pendampingan mulai dari tahap pengenalan pasar, kajian potensi produk, hingga peninjauan arsip kerja sama legal seperti Letter of Agreement (LOA) dan Letter of Intent (LOI),” lanjut Assed.
Meski jumlah UMKM lokal nan sukses masuk ke pasar Tiongkok tetap terbatas, langkah tersebut dinilai dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak pelaku upaya untuk mengenal potensi pasar internasional.
Jembatan Baru Pendidikan Indonesia-Tiongkok
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·