Ilustrasi(Dok Antara)
ANGGOTA Komisi VI DPR RI Rahmat Saleh meminta pertimbangan pendidikan latihan dasar kemiliteran alias latsarmil program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) Kopdes-KNMP tidak hanya pada aspek pengawasan kesehatan peserta. Ia berambisi kreasi dan relevansi training nan diberikan kepada calon manajer Koperasi Merah Putih itu dikaji ulang.
Hal itu menyusul jatuhnya tiga korban meninggal saat menjalani latsarmil. Peserta terbaru nan dilaporkan meninggal adalah Novia Rahmadhani Sihotang.
Novia meninggal bumi pada Selasa (23/6) setelah sebelumnya mengalami gangguan kesehatan saat mengikuti pendidikan latsarmil. Sebelum Novia, dua peserta lain nan meninggal adalah Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq. Anisa meninggal bumi akibat heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan.
Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq meninggal bumi saat mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja. Berdasarkan keterangan medis, nan berkepentingan dinyatakan meninggal bumi akibat cardiac arrest atau henti jantung.
Rahmat Saleh mendorong pemerintah melakukan kajian mendalam mengenai efektivitas dan kebutuhan penyelenggaraan Latsarmil bagi calon manajer koperasi nan berasal dari kalangan sipil.
“Kita tentu memahami semangat membangun disiplin, integritas, dan jiwa pengabdian. Namun perlu dievaluasi secara objektif apakah corak training nan diterapkan saat ini sudah paling relevan dengan kebutuhan calon manajer koperasi nan nantinya bakal mengemban tugas-tugas manajerial, bisnis, tata kelola organisasi, hingga pengembangan upaya di desa,” kata Politisi PKS itu dalam keterangan nan diterima, Kamis (25/6).
Rahmat menilai training bagi calon manajer semestinya lebih diarahkan untuk memperkuat kapabilitas teknis dan manajerial nan bakal dibutuhkan dalam operasional KDMP di lapangan.
Menurutnya, konsentrasi utama nan kudu dipastikan adalah gimana para manajer ini betul-betul siap mengelola koperasi secara profesional. “Mereka kudu menguasai aspek manajemen, tata kelola keuangan, pengembangan usaha, digitalisasi, hingga pemberdayaan masyarakat desa. Sistem training kudu optimal untuk mendukung kebutuhan tersebut,” lanjutnya.
Rahmat menekankan bahwa para peserta berasal dari kalangan sipil dengan latar belakang nan beragam, sehingga pendekatan pelatihannya perlu disesuaikan.
“Calon manajer KDMP ini bukan prajurit militer. Mereka berasal dari masyarakat sipil nan sedang dipersiapkan menjadi penggerak ekonomi desa. Karena itu tentu diperlukan penyesuaian metode, intensitas, maupun standar training agar tetap relevan, proporsional, aman, dan sesuai dengan kebutuhan tugas nan bakal mereka jalankan nantinya,” tegasnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·