Hengki menegaskan pentingnya peran aktif pemerintah wilayah dalam mengidentifikasi lahan-lahan terbengkalai.
Dia menjelaskan, komoditas jagung dipilih lantaran mempunyai masa tanam relatif singkat, biaya produksi rendah, serta tidak memerlukan perawatan dan pengairan seintensif padi.
Selain itu, kata Hengki, nilai jual jagung di pasaran juga dinilai cukup kompetitif dan menguntungkan petani.
"Langkah pemanfaatan lahan ini dapat mendukung program swasembada jagung di Provinsi Banten. Pasalnya, kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak di wilayah Banten tergolong tinggi, ialah mencapai sekitar 4.000 ton per hari alias setara 1,5 juta ton per tahun," terang dia.
Sementara itu, lanjut Hengki, produksi jagung di Banten saat ini baru bisa memenuhi sekitar tiga hingga lima persen dari total kebutuhan, sehingga provinsi tersebut tetap kudu berjuntai pada pasokan dari wilayah lain seperti Lampung dan Nusa Tenggara Barat.
"Melalui optimasi lahan tidur dan eks tambang, diharapkan ketahanan pangan di wilayah Banten dapat semakin kuat sekaligus bisa mendongkrak taraf kesejahteraan para petani lokal," jelas Hengki.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·