Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) mulai menerapkan sistem pengelolaan daya pandai di gedung perkantorannya dengan menghadirkan program Smart & Green Building. Inisiatif ini diluncurkan di Kantor Pusat PLN, Jakarta pada Jumat (8/5).
Berkat program ini, instansi PLN dilengkapi PLTS Atap, sistem pengatur penggunaan listrik, hingga pendingin ruangan berbasis digital untuk meningkatkan efisiensi daya dan menekan emisi.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo mengatakan, perkembangan teknologi membikin pengelolaan daya di gedung sekarang semakin terintegrasi dan otomatis. Oleh karena itu, PLN perlu beradaptasi dengan membangun sistem daya nan lebih elastis dan modern.
"Dulu, paradigma PLN adalah menjual listrik dan mengoptimalkan biaya. Sekarang PLN beralih bentuk menjadi Energy Digital Platform nan mengorkestrasi ekosistem daya melalui kerjasama dan value creation," ujar Darmawan dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (11/5/2026).
Dia melanjutkan, perkembangan teknologi seperti PLTS Atap, kendaraan listrik, hingga otomasi gedung membikin gedung dan rumah sekarang tidak lagi hanya menjadi pengguna energi.
"Ke depan gedung dan rumah tidak lagi hanya memakai energi, tetapi juga bisa memproduksi dan mengelolanya sendiri. Karena itu PLN kudu siap menghadapi ekosistem daya nan semakin digital dan dua arah," terangnya.
Sebagai proyek percontohan, Gedung Trapesium di Kantor Pusat PLN sekarang telah dilengkapi PLTS Atap berkapasitas 89,28 kilowatt peak (kWp) nan terintegrasi dengan Energy Management System sebagai pusat kendali digital gedung. Sistem tersebut memungkinkan pemantauan dan pengaturan penggunaan daya secara lebih efisien dan real time.
Di sisi lain, Komisaris Independen PLN, Andi Arief menilai penerapan Smart & Green Building menjadi langkah krusial agar PLN dapat menghadirkan praktik efisiensi daya secara nyata di lingkungan perusahaan.
"Kita ini perusahaan penjual energi. Tidak elok rasanya jika bicara transisi daya kepada pelanggan, tetapi instansi kita sendiri tetap boros. PLN kudu menjadi etalase efisiensi daya itu sendiri," ujar Andi.
Andi bilang, penerapan prinsip keberlanjutan juga menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun operasional nan lebih efisien dan berkelanjutan.
"Sustainability bukan sekadar biaya tambahan, tetapi bagian dari efisiensi dan investasi masa depan perusahaan," tambah Andi.
Sementara itu, Executive Vice President Umum dan Aset Properti PLN, Khairullah menjelaskan, bahwa program Smart & Green Building dijalankan melalui sinergi PLN Group di mana PLN Icon Plus berbareng Dana Pensiun PLN sebagai building management provider dengan skema managed service.
"Pada tahap awal 2026, PLN memulai penerapan di 10 gedung, termasuk Gedung Trapesium Kantor Pusat PLN nan telah beraksi dengan PLTS Atap dan Energy Management System terintegrasi," ujar Khairullah.
Pada tahap awal tersebut, PLN menargetkan pemasangan PLTS Atap berkapasitas 1.100 kWp dan 471 unit IoT Smart AC nan terhubung dengan sistem pemantauan daya digital.
Ke depan, PLN telah memetakan sekitar 400 gedung nan layak dipasangi PLTS Atap dari total 1.300 gedung nan dikelola perusahaan di seluruh Indonesia.
"Dalam roadmap 2026-2035, PLN menargetkan kapabilitas PLTS Atap mencapai 12 megawatt peak (MWp), penggunaan 7.251 unit IoT Smart AC, serta kontribusi pengurangan emisi karbon hingga 0,3 juta ton CO2 equivalent," tutup Khairullah.
Lebih jauh, PLN menargetkan program ini diterapkan secara berjenjang pada ratusan gedung PLN group di seluruh Indonesia hingga 2035 sebagai bagian dari modernisasi pengelolaan daya dan operasional perusahaan.
(bul/bul)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·