Pilu Ningrum dan Kisah di Balik Anak Kayuh Sepeda demi Peluk Ayah di Penjara

Sedang Trending 43 menit yang lalu
Ningrum, saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan

Kehidupan family Slamet (52) berubah setelah dia ditahan di Mapolres Situbondo dalam kasus penganiayaan terhadap seorang tukang becak berjulukan Abdul Majid (62).

Video anaknya nan mengayuh sepeda ke Polres Situbondo untuk berjumpa sang ayah di penjara jadi perbincangan. Di dalam penjara, sang anak memeluk erat ayahnya.

Sejak suaminya ditahan, Ningrum Suliyati (49) kudu mencari penghasilan untuk menghidupi ketiga anak mereka. Ia sekarang bekerja sebagai pekerja pengupas bawang merah di rumah tetangganya dengan bayaran paling besar Rp 30 ribu per hari.

"Dengan bayaran Rp 30 ribu, saya kudu mencukupi makan dua kali sehari untuk saya dan tiga anak. Itu pun lauknya hanya tempe goreng dan sambal," ujar Ningrum saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Panji, Situbondo, Selasa (28/7).

Slamet ditahan sejak Selasa (14/7). Setelah itu, Ningrum mulai mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Anak pertamanya juga mulai bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

"Alhamdulillah, anak pertama saya mulai hari ini juga sudah bekerja sebagai pelayan di salah satu toko di Kota Situbondo," kata Ningrum dengan nada lirih.

Rumah kontrakan Ningrum di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan

Puluhan Tahun Tinggal di Rumah Kontrakan

Ningrum mengatakan kondisi ekonomi keluarganya sudah terbatas sejak lama. Sejak menikah dengan Slamet sekitar 21 tahun lalu, mereka tinggal di rumah kontrakan berukuran 5x4 meter.

Menurut Ningrum, rumah tersebut nyaris tidak mempunyai perabot rumah tangga, seperti bangku maupun tempat tidur. Ketika ada tamu, family itu menggelar tikar di teras rumah.

"Bahkan, rumah kontrakan nan kami tempati puluhan tahun ini tidak dilengkapi bilik mandi. Jadi, setiap hari saya dan anak-anak terpaksa mandi di sungai nan berada tidak jauh dari rumah," tambahnya.

Ningrum berambisi suaminya mendapatkan keringanan dalam proses hukum. Ia mengatakan Slamet selama ini menjadi tulang punggung keluarga.

Perhatiannya terutama tertuju kepada anak bungsunya nan tetap berumur 10 tahun dan duduk di kelas V SD.

"Anak bungsu kami tetap butuh biaya besar untuk sekolah. Sementara dua kakaknya sudah lulus; nan pertama baru saja bekerja dan anak kedua tetap terus mencari pekerjaan," jelas Ningrum.

Ningrum, saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan
Ningrum, saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan

Upayakan Uang Saku Anak

Dengan penghasilan dari mengupas bawang, Ningrum kudu membagi pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Ia juga berupaya menyisihkan duit untuk kebutuhan sekolah anak bungsunya. Namun, ketika tidak mempunyai uang, anaknya terpaksa berangkat sekolah tanpa duit saku.

"Biasanya saya usahakan memberi duit saku Rp5 ribu sehari untuk anak bungsu saya. Tapi jika uangnya betul-betul tidak ada, terpaksa dia sekolah tanpa duit saku," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan