
Menteri HAM Natalius Pigai (Foto: Ari Sandita/Okezone)
JAKARTA - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai memerintahkan Kantor Wilayah (Kanwil) HAM Jawa Tengah turun tangan untuk memeriksa kasus penggeledahan di Pondok Pesantren (Ponpes) Hamalatul Qur'an di Sukoharjo dan Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng).
Pernyataan tersebut disampaikan Pigai sekaligus merespons tindakan penggeledahan nan dilakukan Polda Jateng. Tindakan tersebut memicu protes keras dari pihak pengelola pesantren, masyarakat, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) lantaran dinilai menimbulkan trauma berat terhadap para santriwati.
"Saya sudah perintahkan Kanwil HAM Jawa Tengah untuk datangi dan cek langsung secara objektif ke Pondok Pesantren dan Saya tunggu laporan secepatnya," ujar Pigai dalam unggahan di akun Instagram-nya, @natalius_pigai, Minggu (1/11/2026).
Pigai pun menegaskan Ponpes merupakan tempat pendidikan untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) nan unggul. Sebagai informasi, Polda Jateng menggerebek Ponpes tersebut pada Selasa, 27 Oktober 2026. Langkah itu merupakan bagian dari pengembangan kasus pembakaran dan perusakan Warung Mi Babi Tepi Sawah di wilayah Grogol, Sukoharjo, nan terjadi pada September 2026.
Polisi mengejar terduga pelaku nan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan diyakini mempunyai keterkaitan dengan letak tersebut. Berdasarkan keterangan Polda Jateng, dari hasil penggeledahan di dua letak tersebut, polisi menyita sejumlah peralatan bukti, seperti puluhan senjata tajam (celurit, parang, samurai, sangkur, dan pisau lipat), busur dan anak panah.
Selain itu, polisi juga menyita cairan masam kuat (strong acid), spiritus, drone, CCTV, perangkat komunikasi (HT), serta kotak amunisi berwarna hijau dengan gambar bendera tertentu. Salah satu orang nan diamankan berinisial ST, nan diketahui merupakan mantan narapidana kasus terorisme pada 2015.
Namun, pihak pengelola menyayangkan tindakan abdi negara nan mendobrak pintu pondok putri sekitar pukul 03.20 WIB. Aparat bersenjata laras panjang dilaporkan masuk ketika para santriwati tetap tidur. Tindakan tersebut memicu kepanikan lantaran banyak santriwati belum sempat mengenakan hijab. Selain itu, terdapat laporan mengenai santriwati di bawah umur nan dibentak dan diminta tiarap.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan buletin terkini dengan jeli dan terpercaya. Ikuti info terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa krusial lainnya, langsung dari sumber nan terpercaya.
13 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·