Jakarta, CNBC Indonesia - Gelaran akbar Piala Dunia 2026 nan dijadwalkan mulai bergulir pada Kamis diwarnai oleh gelombang kekacauan serta ketegangan politik nan masif. Kebijakan pembatasan perjalanan nan super ketat dari pemerintah Amerika Serikat (AS), lonjakan nilai tiket nan gila-gilaan, hingga diskriminasi imigrasi dilaporkan telah merusak reputasi pesta sepak bola terbesar sejagat tersebut.
Mengutip laporan RT, turnamen perdana nan mencatatkan rekor sejarah dengan diikuti oleh 48 negara serta diselenggarakan di tiga negara tuan rumah ialah AS, Kanada, dan Meksiko justru berubah menjadi panggung kontroversi. Sejumlah tim nasional, perangkat pertandingan resmi, hingga ratusan ribu suporter internasional sekarang terancam tidak bisa memasuki area stadion akibat ketatnya barikade imigrasi di bandara-bandara utama Amerika Serikat.
1.Wasit Terbaik Afrika Diinterogasi 11 Jam Lalu Diusir
Salah satu skandal terbesar nan memicu kemarahan publik internasional menimpa Omar Abdulkadir Artan, wasit berprestasi asal Somalia nan terpilih sebagai wasit pertama dari negaranya untuk memimpin laga Piala Dunia. Meskipun mengantongi visa resmi nan sah, laki-laki berumur 34 tahun nan menyabet gelar Africa's Referee of the Year pada 2025 tersebut langsung ditahan begitu mendarat di Bandara Internasional Miami.
Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) Amerika Serikat menundukkan Artan dalam proses interogasi nan melelahkan selama 11 jam penuh sebelum akhirnya mendeportasinya tanpa argumen nan jelas.
Media The New York Times mensinyalir bahwa Artan kemungkinan menjadi korban salah tangkap akibat kemiripan nama dengan seorang penduduk Somalia lain nan masuk dalam daftar hukuman terorisme Washington, di tengah kebijakan pembatasan arsip perjalanan (travel ban) era Donald Trump nan memblokir penduduk dari 12 negara.
2.Pemain Bintang Irak Ditahan, Skuad Senegal Dikuliti
Aroma diskriminasi imigrasi di pintu masuk Amerika Serikat juga dirasakan langsung oleh skuad Tim Nasional Irak dan Senegal. Kapten timnas Irak, Aymen Hussein, dilaporkan sempat ditahan dan dicecar pertanyaan oleh petugas keamanan selama nyaris tujuh jam setibanya di Chicago, sementara ahli foto resmi kepanduan mereka, Talal Salah, secara sewenang-wenang ditolak masuk ke dalam negeri.
Pemandangan serupa juga dialami oleh skuad Senegal nan terekam kamera kudu menjalani pemeriksaan keamanan nan sangat ekstrim dan berlebihan, mulai dari penggeledahan bentuk secara menyeluruh (pat-downs) hingga pemeriksaan detektor logam berlapis.
Mantan kapten timnas Italia pemenang Ballon d'Or, Fabio Cannavaro, dikabarkan tidak luput dari proses pemeriksaan arsip nan melangkah sangat lambat dan berbelitan pasca-mendarat.
3.Kampanye Iran Berantakan, Terdepak ke Meksiko
Dampak dari eskalasi politik luar negeri Washington juga memukul telak persiapan tim nasional Iran. Akibat ketidakpastian persetujuan visa dari pemerintah Amerika Serikat nan baru diterbitkan beberapa hari menjelang sepak mula, federasi sepak bola Iran terpaksa memindahkan markas pemusatan latihan mereka dari Arizona, Amerika Serikat, ke kota Tijuana di Meksiko.
Ketegangan semakin meruncing setelah federasi Iran melayangkan protes keras kepada FIFA lantaran alokasi tiket resmi untuk suporter mereka dicabut secara sepihak oleh pihak penyelenggara hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
Langkah diskriminatif ini dinilai telah melanggar prinsip keadilan bagi seluruh negara peserta, sementara jutaan fans ekstrem dari wilayah Afrika dan Timur Tengah, termasuk Yordania, Maroko, Mesir, hingga Pantai Gading, mengaku frustrasi lantaran permohonan visa mereka ditolak massal oleh kedutaan Amerika Serikat.
"Amerika Serikat telah bersikap jelas kepada kami, mengatakan mereka tidak mau memandang suporter kami. Ini merupakan sebuah corak segregasi nyata dalam olahraga," ketus Julien Kouadio Adonis, Presiden Asosiasi Suporter Pantai Gading, meluapkan kekecewaannya kepada AFP akibat ketatnya seleksi imigrasi.
4.Skandal Harga Tiket Gila-gilaan FIFA Diusut Hukum
Di luar urusan imigrasi, FIFA sekarang berada dalam radar pemeriksaan norma oleh Jaksa Agung New York dan New Jersey atas dugaan manipulasi pasar, kelangkaan tiket buatan, serta penerapan nilai tiket nan dinilai "mustahil untuk dijangkau" oleh masyarakat biasa. Strategi demand-based pricing alias nilai bergerak nan diterapkan badan sepak bola bumi tersebut dituding sebagai tindakan pemerasan terstruktur terhadap para fans sepak bola.
Berdasarkan laporan di lapangan, nilai tiket untuk babak penyisihan grup telah meroket hingga menembus nomor US$ 4.000 alias setara Rp 65 juta per lembar di platform resmi maupun spekululan, sementara tiket babak final meroket jauh lebih tinggi. Angka ini naik ribuan persen jika dibandingkan dengan nilai tiket termurah pada Piala Dunia 2022 di Qatar nan hanya berkisar antara US$ 70 hingga US$ 220, alias Piala Dunia 2018 di Rusia nan dimulai dari nilai US$ 105 (Rp 1,8 juta).
5.Larangan Atribut Bendera Picu Ketegangan Politik Baru
Kekacauan Piala Dunia 2026 kian melebar ke ranah domestik negara-negara Eropa setelah beberapa majelis wilayah di Inggris mengeluarkan imbauan kontroversial nan melarang para suporter untuk mengibarkan alias menempelkan bendera Salib St. George di akomodasi publik demi menjaga sentimen kohesi organisasi migran. Langkah ini diambil pasca rilis laporan Lembaga Pemantau Independen (IMB) nan menyatakan bahwa penggunaan atribut bendera oleh petugas imigrasi berisiko menimbulkan persepsi intimidasi bagi para pencari suaka.
Keputusan politik tersebut langsung memicu reaksi keras dari pemimpin Reform UK, Nigel Farage, nan menilai kelas politik saat ini telah bertindak gila dan kebablasan atas nama inklusivitas. Melalui akun FB pribadinya, Farage mengecam keras izin tersebut nan dinilai telah mengkriminalisasi identitas nasional para fans sepak bola lokal demi memuaskan agenda politik tertentu di tengah gelombang turnamen internasional.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·