Piala Dunia atau Arena Politik? Dilema Timnas Iran di Tanah Amerika

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Source: ChatGPT

Bagi sebagian besar negara, Ajang Piala Dunia merupakan panggung besar untuk menunjukkan kekuatan mereka di sepak bola dan mencapai prestasi olahraga di hadapan dunia. Seperti halnya Piala Dunia 2026 nan menjadi arena pembuktian ketiga negara tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Lain perihal dengan Iran, Piala Dunia 2026 menjadi suatu cerita nan dilematis bagi mereka. Di saat para pemain berupaya konsentrasi membuktikan kapabilitas mereka di kancah Piala Dunia, mereka justru kudu mengadapi bayang-bayang bentrok geopolitik nan telah berjalan selama puluhan tahun antara negaranya dengan Amerika Serikat.

Pandangan bahwa olahraga sepak bola dan politik merupakan dua ranah nan kudu dipisahkan, namun faktanya tidak semudah nan diharapkan. Dalam praktiknya, sepak bola sering kali menjadi ruang nan mempertemukan antara rumor sosial dan politik, mulai dari pemerintahan, hubungan internasional, kewenangan asasi manusia, diskriminasi, hingga kekerasan. Dalam konteks saat ini nan terjadi, sepak bola tidak hanya dapat dipahami sebagai arena pembuktian para pemain di lapangan, tetapi juga menjadi suatu kejadian nan menggambarkan relasi kekuasaan bekerja dalam ranah ini.

Dalam kitab nan berjudul The Politics of Football, hubungan antara suporter, klub, tim nasional, federasi, hingga badan pengatur internasional menunjukkan bahwa sepak bola berada pada ranah nan kompleks, menjadi bagian dari kekuasaan dan tidak terlepas dari hubungannya dengan politik. keberadadan FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola bumi juga menunjukkan adanya ketegangan antara idealisme olahraga dan realitas politik. di satu sisi, FIFA mempunyai komitmen terhadap nilai kewenangan asasi manusia serta menolak segala corak diskriminasi berasas ras, bangsa, agama, dan pandangan politik, dan memaksa FIFA untuk menjadi lembaga nan netral terhadap urusan politik dan agama. Namun nan tidak bisa dielakkan juga, bahwa penyelenggaraan turnamen besar seperti piala bumi ini tidak pernah betul-betul bersih dari kepentingan politik negara, baik nan muncul pada corak kebijakan keamanan, izin imigrasi, diplomasi internasional, maupun hubungan antar negara nan sedang bersitegang (Kassimeris, 2024).

Kasus nan terjadi oleh Iran di Piala Dunia 2026 ini menjadi contoh nyata untuk kita memandang gimana nyaris tidak ada pembatas antara sepak bola dan politik. di tengah perjuangan Iran untuk mencatatkan timnas mereka dalam sejarah partisipasi mereka di Piala Dunia, Iran juga dihadapkan dengan beragam akibat dari hubungan diplomatik mereka dengan AS nan tidak baik-baik saja, ditambah lagi AS menjadi salah satu tuan rumah dari turnamen ini. oleh lantaran itu, perjalanan Iran di Piala Dunia 2026 ini perlu diamati lebih lanjut sebagai corak realitas nan terjadi dari ketegangan geopolitik hari ini.

Konflik Berkepanjangan AS-Iran

Dalam sejarah pertandingan Piala Dunia, Konflik antara AS dengan Iran bukan suatu perihal nan baru. Pasalnya kedua negara ini pernah dipertemukan dalam pertandingan Pialada Dunia nan saat itu terselenggara di Lyon, Prancis. Saat itu Iran menang 2-1 atas AS. Namun bukan hasil pertandingan nan menjadi konsentrasi utama, tetapi pertandingan tersebut menjadi icon berhistoris dalam gelaran piala bumi nan disebut-sebut sebagai pertandingan paling sarat muatan politik dalam sejarah Piala Dunia. Meskipun diliputi ketegangan diplomatik, pertandingan tersebut tetap melangkah dan relatif tenteram dan dan dikenang sebagai momen diplomasi simbolik dalam sepak bola.

Hubungan antara AS dan Iran diawali dengan kecurigaan dan permusuhan nan intens sejak Revolusi Islam 1979. Akar bentrok ini didorong dari tuduhan AS mengenai program nuklir Iran serta keterlibatan Iran dalam mendukung organisasi-organisasi nan dianggap AS sebagai teroris, seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, dan organisasi militan di Irak. Meskipun Iran secara terbuka membantah tuduhan pembangunan senjata nuklir dan menyatakan program tersebut ditujukan untuk perdamaian. Ketegangan ini semakain meluas setelah persaingan kekuasaan di timur tengah. Bagaimana Iran membangun kekuatannya dengan partai politik syiah di Irak paska penggulingan Saddam Hussein. Kemudian di Lebanon memberikan support finansial kepada Hisbullah (Bahgat, 2008).

Memasuki periode Tahun 2018-2019, bentrok semakin memanas ketika Presiden AS Donald Trump menarik keluar AS dari perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) dan memberikan kebijakan “Maximum Pressure” kepada Iran. Langkah ini bermaksud untuk memberi hukuman ekonomi berbentuk penghentian total ekspor minyak Iran, nan berakibat terhadao ekonomi Iran dan menyebabkan nilai mata duit dan PDB menurun drastis. hingga untuk pertama kalinya menetapkan Korps Garda Revolusi Islam sebagai organisasi teroris (Stategic Comments, 2019).

Setelah kegagalan dalam negosiasi nuklir, situasi kembali memanas pada 28 Februari 2026, dimana AS mengadakan Operasi Epic Fury dengan meluncurkan militer besar-besaran nan menghantam pertahanan Iran. Kemudian Iran merespon dengan serangan jawaban ke pangkalan militer AS di timur tengah, seperti nan terjadi di Israel dan negara-negara teluk nan menjadi sekutu AS. Iran kemudian mengambil langkah besar dengan menutup selat Hormuz hingga melumpuhkan jalur perdagangan minyak dunia. Hingga mendekati piala bumi 2026, Timnas Iran tetap mempunyai kekhawatiran dan maju mundur untuk berperan-serta langsung ke Pialada Dunia nan diselenggarakan di AS.

Soft Power AS lewat Sepak Bola

Dalam teori nan diperkenalkan oleh Joseph Nye, soft power adalah keahlian suatu negara untuk mempengaruhi pihak lain bukan dari paksaan alias militer (hard power) melainkan dengan pendekatan budaya, nilai-nilai, industri nan dimiliki (Nye, 2017). Dalam konteks ini, piala bumi 2026 ini bisa dimanfaatkan oleh AS sebagai instrumen soft power mereka. Pertandingan nan digelar di AS ini bukan hanya sekedar memperlihatkan corak stadion, prasarana kota, dan kapabilitas negara dalam mengelola turnamen, tetapi juga gimana AS menggunakan kesempatan ini untuk memperkuat gambaran merapa dihadapan bumi nan terbuka bagi beragam bangsa dan budaya.

Jika dilihat lebih jauh lagi, penyelenggaraan piala bumi 2026 ini juga digunakan untuk memperluas pengaruh budaya AS ditengaj ketidakpastian bentrok geopolitik global. Jika dilhat beberapa tahun kebelakang alias mungkin dalam sejarahnya, sepak bola bukan merupakan olahraga nan digandrungi oleh masyarkat AS. Dengan menjadi tuan rumah piala dunia, angan bakal keberlangsungan sepak bola di tanah amerika ini semakin terbuka. Ditambah upaya negara dengan memperbaiki kejuaraan domestik mereka ialah Major League Soccer (MLS), apalagi sampai mendatangkan pemain sepak bola nomor satu bumi Lionel Messi untuk menarik antusiasme para masyarakat Amerika terhadap sepak bola. Dari perspektif soft power ini, keberhasilan turnamen menjadi keharusan untuk menjamin narasi bahwa AS tidak hanya mendominasi di bagian ekonomi dan politik, tetapi juga bisa menjadi referensi di bagian olahraga.

Ketika Politik Masuk ke Ruang Ganti

Tidak bisa dipungkiri ketegangan politik antar negara sangat mempengaruhi kesiapan para pemain timnas khsususnya timnas Iran sebagai tamu. Setalah berjalan partai pembuka piala bumi beberapa hari lalu, sekarang masuk dalam pembahasan gimana timnas Iran melakukan perjuangannya di arena pentas Piala Dunia 2026. Dilansir dari BBC Sport, Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengatakan bahwa mereka adalah tim “paling tertindas” di Piala Dunia 2026 ini setelah pembatasan perjalanan di menit-menit akhir diberlakukan kepada mereka. Ada beberapa masalah nan terjadi nan merugikan pihak timnas Iran selama piala bumi ini berlangsung. Pertama, nan awalnya kamp latihan mereka berbasis di Tucson, Arizona, kemudian kudu dipindahkan ke Tijuana, Meksiko, setelah menghadapi masalah logistik dan visa. Kedua, persoalan Visa untuk delegasi Iran nan mengalami masalah untuk memasuki wilayah AS. Ketiga, paska pertandingan pembuka melawan Selandia Baru, seluruh punggawa timnas iran diharuskan untuk pergi dari Los Angeles, nan seharus dijadwalkan mereka beristirahat semalam. nan mana permasalah nan terjadi ini membikin Iran dilanda ketidakpastian selama berjalannya turnamen, akibat dari perang nan sedang berjalan di Timur Tengah dan persoalan keamanan.

Selain itu, kejadian nan kontroversial juga tersajikan ketika Iran berhadapan dengan Selandia Baru. Gol penyeimbang nan dicetak oleh Mohammad Mohebi tidak hanya menghidupkan angan Iran dilapangan, tetapi juga memperlihatkan gimana selebrasi menjadi suatu ekspresi bagi pemain Iran di Piala Dunia, walaupun perihal ini susah dipisahkan dari konteks politik nan sedang terjadi. Walaupun sudah ada penjelasan langsung dari Mohebi mengenai “itu hanyalah sebuah selebrasi dan tidak lebih dari itu”. Walapun begitu, publik sudah terlanjur membaca gestur tersebut sebagai simbol keteguhan dari sebuah timnas nan datang ke turnamen dengan kondisi nan sedang tidak baik-baik saja.

Pada akhirnya, apa nan diraih iran di lapangan, perjalanan mereka di Piala Dunia membuktikan bahwa apa nan terjadi antara politik dan sepak bola adalah suatu perihal nan tidak bisa secara sepenuhnya dipisahkan. Maka di sini peran FIFA sangat dibutuhkan, tagline FIFA “for the game. For the world” tidak boleh hanya sekedar selogan semata, tetapi gimana adanya perwujudan bahwa sepak bola adalah milik seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan politik, budaya, maupun ideologi. Bahwa sepak bola kudu menjadi bahasa universal nan bisa mewujudkan persatuan dunia nan melampaui batas-batas negara.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan