PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memprediksi harga minyak mentah bumi bakal berada di level lebih tinggi dibandingkan capaian periode Januari-Maret 2026. Tren kenaikan ini diperkirakan tetap bersambung hingga akhir tahun.
Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PHE, Edi Karyanto, mengatakan pergerakan nilai minyak memang sangat bergerak dan susah ditebak. Namun, dia memandang adanya indikasi kuat bahwa nilai ke depan bakal melampaui kisaran saat ini nan berada di sekitar USD 100 per barel.
“Kemungkinan besar bakal lebih tinggi dari realisasi Januari, Februari, Maret ini. Dan mungkin sampai Desember bakal lebih improve,” kata Edi dalam aktivitas media gathering di Batu, Malang, Kamis (9/4).
Edi menjelaskan sejumlah aspek eksternal menjadi penentu utama arah nilai minyak global, di antaranya adalah dinamika geopolitik, seperti bentrok di area Timur Tengah hingga gangguan pengedaran di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Situasi tersebut membikin proyeksi nilai minyak sangat berjuntai pada kondisi dunia nan berada di luar kendali pelaku industri.
Di tengah potensi kenaikan nilai itu, PHE justru memandang adanya kesempatan untuk meningkatkan kinerja. Edi menyebut nilai minyak nan lebih tinggi membikin sejumlah rencana kerja nan sebelumnya tertunda sekarang menjadi lebih layak secara ekonomi untuk dijalankan.
“Momentum ini justru bagus untuk kita meningkatkan produksi. Rencana kerja nan sebelumnya tetap pending alias menunggu prioritas, sekarang bisa lebih visible dan ekonomis untuk dieksekusi,” ungkap Edi.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·