Petani Sawit Sambut Gembira Langkah Mentan Pulihkan Harga TBS

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Petani Sawit Sambut Gembira Langkah Mentan Pulihkan Harga TBS ilustrasi(Antara)

Langkah sigap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam mengawal pemulihan nilai Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mendapat respons positif dari petani di beragam daerah. Dalam Rapat Koordinasi Pengembangan dan Upaya Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit nan digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/6), para petani menyampaikan bahwa nilai TBS mulai berangsur membaik meskipun tetap diperlukan pengawalan agar pemulihan terjadi secara merata.

Perwakilan petani dari beragam sentra sawit, mulai dari Sumatra Selatan, Lampung, Sumatra Utara hingga Banten, menyampaikan kondisi riil di lapangan sekaligus angan agar nilai TBS kembali stabil dan memberikan untung nan layak bagi petani. Ardiansyah Saragih, misalnya, petani sawit dari Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara itu menilai kebijakan dan perhatian pemerintah terhadap persoalan harga sawit memberikan angan baru bagi jutaan petani.

"Harga sawit memang sempat turun sangat dalam, tetapi sekarang mulai naik kembali. Kami berambisi hasil rapat ini membikin nilai kembali ke posisi semula apalagi lebih baik lagi. Pak Menteri sangat pro terhadap masyarakat petani mini dan kami percaya nilai sawit bisa kembali meningkat," kata Ardiansyah.

Ardiansyah menambahkan bahwa paparan Menteri Pertanian mengenai tren kenaikan nilai CPO dunia, penguatan dolar AS, dan tingginya permintaan ekspor memberikan optimisme bahwa nilai sawit ke depan tetap mempunyai prospek nan baik.

Sementara itu, Septriadi, petani sawit asal Sumatra Selatan, mengatakan nilai sawit nan mengikuti referensi Dinas Perkebunan tetap berada pada tingkat nan layak. Namun, tetap terdapat petani nan kudu menjual hasil panennya ke tengkulak lantaran tidak memenuhi standar pembelian perusahaan mitra.

"Kalau nilai nan mengikuti standar Disbun tetap layak. Untuk sawit umur lima tahun kemarin sekitar Rp3.499 per kilogram. Tetapi petani nan tidak bisa masuk ke perusahaan mitra terpaksa menjual ke tengkulak dengan nilai jauh lebih rendah. Karena itu kami berambisi nilai bisa kembali normal seperti sebelumnya," ungkapnya.

Senada, Hulibarawan dari Lampung Tengah, menyampaikan bahwa nilai TBS di wilayahnya saat ini sudah mencapai sekitar Rp3.200 per kilogram, mendekati nilai standar provinsi sebesar Rp3.350 per kilogram.

"Kami sudah cukup nyaman dengan kondisi saat ini. Namun kami berambisi nilai sawit tetap distabilkan lantaran beberapa waktu lampau sempat turun mendadak nyaris Rp1.000 per kilogram," terang dia.

Sementara itu, kondisi berbeda tetap dirasakan petani sawit di Banten. Aryadi, petani asal Pandeglang, menyebut nilai TBS di tingkat pabrik berada di kisaran Rp2.500 per kilogram, sedangkan pendapatan bersih nan diterima petani jauh lebih rendah setelah dipotong biaya panen, angkut, dan operasional lainnya. Meski demikian, dia mengakui kondisi saat ini mulai membaik dibanding beberapa waktu lalu.

"Alhamdulillah setelah aktivitas Kementerian Pertanian nan mengingatkan perusahaan dan pabrik kelapa sawit untuk meningkatkan nilai kembali, nilai TBS di Banten mulai berangsur naik. Harapan kami ke depan nilai nya semakin membaik seperti provinsi lain" imbuh dia.

Menurut Aryadi, kehadiran pemerintah sangat krusial untuk memastikan petani sawit di wilayah nan belum mempunyai sistem penetapan nilai nan kuat tetap memperoleh perlindungan dan kepastian usaha.

Dalam kesempatan nan sama, Mentan Amran menegaskan pemerintah bakal terus mengawal pemulihan nilai TBS agar faedah kenaikan nilai komoditas sawit dunia dapat dirasakan langsung oleh petani. Pemerintah juga memastikan tidak ada pihak nan mengambil untung dengan mengorbankan kesejahteraan petani.

"Kita mau membangun ekosistem sawit nan sehat. Petani sejahtera, pengusaha juga sejahtera. Tidak boleh ada nan dirugikan. Karena itu nilai TBS kudu kembali normal dan petani kudu merasakan manfaatnya," tegas Amran. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia