Ilustrasi(Dok Istimewa)
PETANI kakao di Kampung Werianggi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, mulai menjajaki kemitraan dengan Koperasi Produsen Ebier Suth Cokran di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Inisiatif nan difasilitasi Tim Ekspedisi Patriot 16 Universitas Indonesia (TEP 16 UI) ini bermaksud memperkuat pendampingan teknis, meningkatkan kualitas hasil panen, dan membuka kesempatan pemasaran kakao.
Penjajakan tersebut menjadi langkah awal pengembangan kakao sebagai potensi ekonomi Kawasan Transmigrasi Werianggi–Werabur. Melalui kerjasama dengan koperasi dan lembaga terkait, petani diharapkan dapat mengembangkan kebun secara berkepanjangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Mimpi saya, kebun kakao ini bisa terus berkepanjangan sampai turun-temurun, untuk anak cucu. Harapan saya, kita dapat berasosiasi untuk bekerja dan berhasil, agar hasil pengembangan kakao ini memberi faedah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kampung Werianggi,” ujar Ketua Kelompok Tani Kakao Buoworoi 1, Yudas Rudi Werianggi, pada 29 Agustus 2026.
Pada Agustus–September 2026, TEP 16 UI berkoordinasi dengan dinas pertanian kabupaten dan provinsi serta Balai Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Ketiga lembaga tersebut menyambut baik inisiatif pengembangan kakao dan membuka kesempatan support sesuai tugas masing-masing.
Penjajakan kemudian dilanjutkan melalui audiensi dengan Koperasi Produsen Ebier Suth Cokran di Ransiki pada 22 September 2026. Pengurus koperasi, Obe Botto dan Elisa Wayoi, menyatakan kesiapan mendukung pengembangan kakao di Werianggi. Elisa, nan juga menjabat Direktur Lapangan PT Ebier Suth Cokran, membuka kesempatan pendampingan mulai dari pengelolaan kebun hingga penanganan pascapanen.
Koperasi juga membuka kesempatan penyerapan hasil panen melalui unit perdagangan andaikan produksi petani telah berkembang dan memenuhi standar mutu nan ditetapkan. Namun, realisasi kemitraan tersebut tetap berjuntai pada kesiapan produksi dan kualitas kakao nan dihasilkan.
Menelusuri Jejak Kakao Werianggi–Ransiki
Potensi kakao Werianggi tidak hanya bertumpu pada pengembangan kebun saat ini, tetapi juga mempunyai jejak sejarah. Dalam pemetaan kebun, TEP 16 UI mendokumentasikan pohon kakao tua nan menurut Yudas telah tumbuh sejak masa kolonial Belanda.
Foto buah dan biji kakao tersebut diperlihatkan kepada Obe Botto. Ia menilai karakter tanaman itu menunjukkan kemiripan dengan golongan kakao Criollo, Forastero, dan Trinitario. Meski demikian, identitas varietasnya tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Catatan sejarah turut memberikan gambaran mengenai perkembangan kakao di wilayah tersebut. Penelitian J. Ruinard berjudul Cocoa Research in West Irian (West New Guinea) nan diterbitkan dalam Netherlands Journal of Agricultural Science pada 1964 mencatat luas tanaman kakao di West Irian mencapai sekitar 1.350 hektare pada akhir 1962. Sekitar 20 persen di antaranya berada di area Manokwari dan Ransiki.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa perkakaoan telah berkembang di wilayah Manokwari dan sekitarnya sejak puluhan tahun lalu. Namun, belum terdapat bukti nan memastikan hubungan langsung antara tanaman kakao tua di Werianggi dan perkakaoan Ransiki.
“Werianggi ini bagi Cokran sebenarnya bukan perihal baru,” ujar Obe Botto dalam audiensi di Ransiki, 22 September 2026.
Menurut Obe, Werianggi pernah direncanakan sebagai salah satu wilayah pengembangan kakao ketika PT Coklat Ransiki tetap beroperasi. Namun, rencana tersebut tidak terwujud sebelum perusahaan berakhir beraksi pada 2006.
Yudas juga mempunyai pengalaman panjang di industri kakao. Ia pernah bekerja di PT Coklat Ransiki selama 24 tahun, ialah pada 1981–2005, sebelum kembali menanam kakao di Werianggi.
PT Coklat Ransiki nan berakhir beraksi pada 2006 merupakan entitas berbeda dari PT Ebier Suth Cokran dan Koperasi Produsen Ebier Suth Cokran nan sekarang menjadi calon mitra pengembangan kakao Werianggi.
Pengalaman Yudas dan keberadaan tanaman kakao tua menjadi modal awal dalam mengidentifikasi potensi kebun. Ke depan, pengembangannya diarahkan pada perbaikan tata kelola kebun, peningkatan mutu hasil, dan penguatan hubungan upaya dengan calon mitra pemasaran.
Perkuat Kelompok Tani dan Keberlanjutan Kebun
Pengembangan kakao di Werianggi dilakukan melalui dua golongan tani, ialah Buoworoi 1 nan diketuai Yudas Rudi Werianggi dan Buoworoi 2 nan diketuai Melkianus Wetebossy.
Dalam bahasa Wamesa dialek Windesi, buowo berfaedah buah dan roi berfaedah panjang. Nama Buoworoi merujuk pada cempedak berbentuk memanjang dan dimaknai sebagai “buah nan panjang manfaatnya”. Nama tersebut mencerminkan angan agar kebun kakao dapat memberikan faedah bagi masyarakat hingga generasi mendatang.
Untuk mendukung pengembangan kebun, TEP 16 UI menjalankan enam tahapan kegiatan, meliputi koordinasi dan pemetaan kebun, penguatan golongan tani, penyusunan modul, pelatihan, pengembangan lahan percontohan (demonstration plot alias demplot), serta obrolan golongan di tingkat kabupaten.
Tim juga melakukan pemetaan kebun menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS), pengambilan sampel tanah, dan identifikasi tanaman. Langkah ini menjadi dasar untuk menyesuaikan pendampingan dengan kondisi lahan dan kebutuhan petani.
Salah satu pendekatan nan didorong adalah dynamic agroforestry, ialah pengelolaan kebun dengan memadukan kakao dan beragam jenis tanaman lain. Tanaman pendamping nan dikembangkan antara lain pisang, pinang, kelapa, gamal, petai, lamtoro, cabai, dan kunyit.
Pola tersebut diharapkan memberikan faedah ekonomi dan ekologis sekaligus membantu family petani memperoleh hasil dari beragam tanaman selama kebun kakao berkembang.
Ketua TEP 16 UI, Dr. Mega Atria, M.Si., menekankan pentingnya keberlanjutan program setelah pendampingan tim berakhir.
“Kami mau pengembangan kebun kakao masyarakat di Werianggi tidak berakhir pada pembentukan golongan tani dan pembukaan lahan. Meski Tim Ekspedisi Patriot tidak lagi hadir, kami berambisi petani kakao Werianggi tetap berdikari dan melanjutkan kemitraan nan kami fasilitasi,” ujar Mega pada 22 September 2026.
Upaya tersebut sejalan dengan transformasi transmigrasi nan mendorong kerjasama antara perguruan tinggi, bumi usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi kawasan.
Dalam pernyataan nan dimuat Kementerian Transmigrasi pada 8 Juli 2026, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan pengetahuan pengetahuan, bumi upaya dalam membuka kesempatan investasi dan pasar, serta masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.
Melalui fasilitasi TEP 16 UI, petani kakao Werianggi sekarang mempunyai kesempatan memperkuat kapabilitas teknis dan menjajaki kemitraan pemasaran. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesempatan tersebut bersambung melalui peningkatan keahlian petani, perbaikan mutu pascapanen, dan kesiapan produksi sesuai kebutuhan pasar.
Harapan itu terangkum dalam nama Buoworoi, “buah nan panjang manfaatnya”, serta semboyan kelompok, “Myareto!”, nan dimaknai sebagai kepercayaan bahwa masyarakat bisa mengembangkan potensi mereka sendiri. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·