Jakarta, CNBC Indonesia - Investigasi mendalam terhadap kejadian turbulensi parah nan menimpa maskapai Singapore Airlines (SIA) dengan nomor penerbangan SQ321 pada tahun 2024 lampau akhirnya mencapai babak baru. Biro Investigasi Keselamatan Transportasi Singapura (TSIB) secara resmi merilis laporan akhir nan mengungkap kebenaran mengejutkan mengenai adanya potensi kegagalan sistem pada radar cuaca pesawat. Kegagalan kegunaan ini membikin pilot sama sekali tidak menyadari adanya ancaman cuaca jelek nan mengintai di jalur penerbangan mereka.
Mengutip laporan resmi dari Channel News Asia (CNA) pada Selasa (19/05/2026), laporan komprehensif tersebut menyoroti bahwa cuaca ekstrem nan memicu turbulensi fatal di atas ruang udara Myanmar kemungkinan besar tidak terekam alias kandas ditampilkan oleh radar cuaca pesawat. Akibatnya, kru kabin tetap menjalankan aktivitas normal dan menyajikan sarapan sebelum pesawat tiba-tiba terguncang hebat, nan pada akhirnya menewaskan satu orang penumpang serta melukai puluhan lainnya.
Pihak investigator menilai kesaksian dari para kru pesawat sangat andal dan sesuai dengan bukti digital nan ditemukan pada kotak hitam. Berdasarkan rekaman percakapan di kokpit, tidak ada pembahasan sama sekali mengenai kondisi cuaca jelek sesaat sebelum turbulensi terjadi, nan membuktikan bahwa layar navigasi mereka memang menunjukkan indikasi jalur kondusif nan bersih dari awan badai.
Apa nan Terjadi pada SQ321?
Kala itu, pesawat jenis Boeing 777 tersebut sedang terbang merayap di ketinggian 37.000 kaki di dekat wilayah barat daya Myanmar pada 21 Mei 2024 ketika turbulensi ekstrem menghantam tanpa peringatan. Akibat guncangan vertikal nan terjadi sangat cepat, para penumpang nan sedang tidak mengenakan sabuk pengaman langsung terlempar keras ke langit-langit kabin pesawat.
Dari total 229 orang nan berada di dalam pesawat, sebanyak 79 penumpang dan awak kabin mengalami luka-luka, di mana beberapa di antaranya menderita cedera sangat parah pada bagian kepala dan tulang belakang. Insiden mengerikan ini juga merenggut nyawa seorang laki-laki penduduk negara Inggris berumur 73 tahun, hingga memaksa pesawat melakukan pendaratan darurat di Bangkok, Thailand.
Pihak manajemen maskapai penerbangan Singapura tersebut juga telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan memberikan kompensasi finansial kepada para korban luka. Komponen radar cuaca dari pesawat nahas itu kemudian dicopot dan diterbangkan langsung ke Amerika Serikat tahun lampau untuk menjalani serangkaian pengetesan laboratorium nan ketat.
Kemungkinan Masalah Radar Cuaca
Tim investigasi menemukan indikasi kuat bahwa radar pesawat mengalami kejadian under-painting alias no-painting, sebuah kondisi di mana sistem radar mendeteksi cuaca jelek jauh lebih rendah dari intensitas aslinya alias apalagi kandas mendeteksinya sama sekali. Penemuan ini diperkuat oleh rekam jejak perawatan armada Boeing 777 milik SIA nan menunjukkan adanya puluhan kasus serupa dalam puluhan ribu penerbangan operasional mereka.
"Tim investigasi beranggapan bahwa, dengan mempertimbangkan catatan perawatan, pengamatan kru penerbangan feri terhadap kejadian under-painting memang menunjukkan adanya masalah under-painting pada sistem radar cuaca," tulis TSIB dalam laporan resminya.
Namun, produsen radar cuaca nan tidak disebutkan namanya dalam laporan tersebut membantah temuan investigator dan menyatakan sistem mereka berfaedah normal. Melalui pengetesan di beragam simulasi suhu dan tekanan, pihak pabrikan menegaskan tidak menemukan bukti kuat bahwa radar buatan mereka kandas mendeteksi cuaca selama penerbangan maut itu berlangsung.
Rekomendasi Keselamatan
Guna mencegah tragedi serupa terulang di masa depan, TSIB mengeluarkan rekomendasi darurat kepada perusahaan penerbangan Boeing untuk segera menyusun pedoman taktis bagi pilot dalam mengidentifikasi indikasi kegagalan radar di tengah penerbangan. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) juga didesak untuk mewajibkan seluruh pesawat jet berbadan lebar keluaran lama agar dipasang sistem perekam visual kokpit nan lebih mutakhir.
Merespons seluruh hasil temuan ini, ahli bicara pihak maskapai menyatakan bahwa mereka menerima seluruh hasil investigasi dengan tangan terbuka dan berkomitmen penuh untuk meningkatkan standar keselamatan operasional penerbangan mereka secara menyeluruh. Maskapai tersebut juga langsung memperbarui aplikasi pemantau turbulensi pada perangkat tablet elektronik para pilot.
"Sejak kejadian tersebut, kami secara proaktif meninjau proses manajemen turbulensi dalam penerbangan kami dan meningkatkannya. Kami dengan tulus meminta maaf kepada semua penumpang dan personil kru di dalam penerbangan SQ321 atas pengalaman traumatis nan mereka alami," ujar ahli bicara Singapore Airlines pada Selasa.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·