Pesan Toleransi Bahlil di Acara Paskah Golkar: Apa Artinya Debat Tentang Suku?

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia dalam aktivitas Pentas Musik dan Refleksi Paskah Nasional Partai Golkar 2026 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta pada Jumat (24/4/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya toleransi dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Hal itu dia sampaikan dalam aktivitas Pentas Musik dan Refleksi Paskah Nasional Partai Golkar 2026 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Jumat (24/4).

Bahlil menilai, perdebatan soal perbedaan identitas seperti suku dan asal wilayah sudah tidak relevan di era modern saat ini.

“Di era modernisasi seperti sekarang, apa artinya kita berdebat tentang suku? Apa artinya kita berdebat tentang dari mana wilayah? Apa artinya kita berdebat tentang satu hitam, satu putih? Satu lurus rambut, satu keriting rambut? Bukan zamannya lagi,” kata Bahlil.

Ia menegaskan, nilai nan semestinya dijunjung adalah saling mengasihi sesama manusia, sebagaimana diajarkan dalam aliran agama.

“Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama umat manusia,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bahlil juga menyinggung sejarah Partai Golkar nan menurutnya lahir dari keberagaman, termasuk kontribusi dari organisasi berbasis Kristen.

“Partai Golkar dilahirkan pada bulan Oktober tahun ’64. Sebelum Partai Golkar hadir, itu namanya ada Sekber, Sekretariat Bersama. Ada 97 organisasi nan melahirkan Sekber, dan salah satu organisasi nan melahirkan Sekber dari 97 organisasi itu adalah Pemuda Intelijen Kristen Indonesia,” jelas dia.

Menurutnya, sejak awal Golkar tidak pernah membedakan latar belakang suku maupun kepercayaan anggotanya.

“Di Golkar tidak pernah membedakan di mana kau, dari mana kau berasal, suku apa, kepercayaan apa. Karena Golkar lahir untuk datang dalam rangka memberikan karya nyata, seperti kasih menembus perbedaan,” ucapnya.

Bahlil juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi, terutama di media sosial nan kerap memicu perpecahan.

“Perselisihan bakal selalu diadu terus, perbedaan bakal selalu diadu terus,” katanya.

Ia lampau mengutip semangat Sumpah Pemuda sebagai fondasi persatuan bangsa.

“Pada tanggal 28 Oktober tepat Sumpah Pemuda, itu telah kita mencanangkan: kita boleh berbeda-beda tapi kita telah bersepakat, kita telah bersumpah, bahwa kitalah satu nusa, satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa ialah Indonesia,” ujar dia.

Bahlil menambahkan, perbedaan kepercayaan tidak semestinya menjadi penghalang untuk berasosiasi sebagai sesama manusia.

“Katakanlah jika kita tidak berkerabat dalam agama, tapi kita sesungguhnya disatukan dan kita berkerabat dalam kemanusiaan,” tuturnya.

Di akhir, dia membujuk generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam perjuangan politik tanpa memandang latar belakang identitas.

“Bagi Partai Golkar selalu terbuka untuk siapa pun dan dari mana pun untuk kita bersama-sama,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan