Perusahaan Game Idol Jepang Bangkrut, Biaya Pengembangan yang Tinggi Jadi Sebab

Sedang Trending 49 menit yang lalu
Ilustrasi game Link! Like! Lovelive!. Foto: PREMIO STOCK/Shutterstock

Sebuah perusahaan Jepang nan dikenal lantaran aplikasi game bertema pujaan remaja virtual mengusulkan permohonan bangkrut. Ini merupakan kasus terbaru dalam gelombang kegagalan perusahaan nan mencapai nomor tertinggi dalam 12 terakhir, seiring akibat inflasi dan kekurangan tenaga kerja nan menghantam perusahaan dengan kondisi finansial nan lemah.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (18/8), firma norma linuma & Partners mengatakan ODD No. Inc. nan berbasis di Tokyo memulai proses kebangkrutan pada bulan ini. Menurut Tokyo Shoko Research Ltd., perusahaan nan dikenal dengan aplikasi game animasi interaktif *Link! Like! Lovelive!* ini mempunyai tanggungjawab utang sebesar 10,7 miliar yen (setara Rp 1,19 T). Ini merupakan kebangkrutan terbesar di Jepang sepanjang tahun ini dari segi nilai utang.

Perusahaan itu sukses menarik jumlah pengguna untuk aplikasi buatannya, tapi Tokyo Shoko dalam laporannya tertanggal 13 Agustus mengatakan tingginya biaya pengembangan menghalangi perusahaan untuk meraih keuntungan. Perwakilan perusahaan tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan.

Di tengah pencapaian rekor tertinggi indeks saham Jepang nan didorong oleh lonjakan untung perusahaan, nomor perusahaan nan ambruk juga meningkat, utamanya di kalangan perusahaan berskala kecil. Hal ini diakibatkan oleh faktor-faktor seperti kenaikan biaya bahan baku lantaran inflasi dan kekurangan tenaga kerja nan dipicu oleh penurunan populasi. Kegagalan perusahaan pada semester pertama tahun ini naik 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 5.346, kasus terbanyak sejak 2013.

Sebagian besar kegagalan terjadi pada perusahaan nan mempunyai tanggungjawab utang kurang dari 100 juta yen, nan mencakup sekitar 77 persen dari total kasus pada semester pertamma. Perusahaan penyedia jasa info seperti ODD No. mencatat peningkatan kebangkrutan nan sangat tajam, ialah naik 18,5 persen dari tahun sebelumnya menjadi 166 kasus. Ini dipengaruhi oleh skala perusahaan nan umumnya mini dan persaingan nan semakin ketat di industri nan berubah dengan sigap akibat pesatnya pengaruh AI.

Runtuhnya Zentoshin Co., perusahaan pembayaran kartu angsuran nan berbasis di Osaka, pada bulan lampau telah menimbulkan guncangan bagi bank-bank wilayah maupun restoran nan berjuntai pada layanannya.

"Kami memperkirakan nomor kebangkrutan bakal tetap tinggi," kata peneliti Tokyo Shoko Research, Hiroki Sakurai.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan