Perusahaan di Depok Tutup-PHK 350 Karyawan, Biang Keroknya Terungkap

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengungkapkan telah terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 350 orang tenaga kerja PT Xactie Indonesia nan berlokasi di Depok, Jawa Barat.

Perusahaan tersebut juga dinyatakan tutup akibat tidak bisa memperkuat di tengah tekanan ekonomi dan lesunya pasar global.

Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, mengatakan kasus PT Xactie Indonesia menjadi bukti nyata bahwa ancaman gelombang PHK nan sebelumnya disampaikan KSPI betul-betul terjadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Benar, telah terjadi PHK sekitar 350 orang tenaga kerja PT Xactie di Depok dan perusahaan tersebut tutup. Ini membuktikan bahwa apa nan disampaikan KSPI sebelumnya bukan ngarang alias menakut-nakuti. Informasi ini berasal dari bawah, dari perusahaan-perusahaan sendiri, dan sekarang mulai terjadi," kata Said Iqbal dalam keterangannya, dikutip Senin (8/6/2026).

Said menerangkan para pekerja nan terkena PHK mendapatkan nilai pesangon sebesar dua kali ketentuan dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Selain itu juga ada penghargaan masa kerja dan duit penggantian kewenangan nan telah disepakati bersama.

Said menegaskan penyebab utama PHK dan penutupan perusahaan tersebut adalah tekanan ekonomi dunia akibat perang nan berkepanjangan. Gejolak dunia itu menyebabkan nilai bahan baku industri melambung tinggi dan ongkos produksi meningkat tajam.

"Perang membikin nilai bahan baku impor nan dibeli dengan dolar naik drastis. Ongkos produksi meningkat, sementara pasar ekspor lesu. PT Xactie adalah perusahaan orientasi ekspor, sehingga ketika pasar dunia melemah, mereka tidak bisa bersaing dan akhirnya tutup," jelas Said Iqbal.

Potensi PHK di 10 Perusahaan

Ia menambahkan, sejak awal April 2026 KSPI telah memperingatkan adanya potensi PHK di 10 perusahaan dengan jumlah pekerja terdampak nan diperkirakan mencapai sekitar 9 ribu orang. Saat ini, lanjut Said Iqbal, peringatan tersebut mulai terbukti satu per satu.

"KSPI sudah mengingatkan sejak awal bahwa bakal ada ancaman PHK besar-besaran. Ini bukan asumsi. Kami diingatkan langsung oleh manajemen di tingkat perusahaan. Dan sekarang kenyataannya mulai terjadi," tutur ia.

Selain di Depok, PHK juga telah terjadi di sejumlah wilayah industri lainnya. Di wilayah Banten, Tangerang, dan Serang, beberapa perusahaan seperti PT Shewa, Luncheong, dan PT PWI telah melakukan PHK terhadap ratusan pekerja, terutama di sektor sepatu dan tekstil.

"Bahkan perusahaan besar seperti Nikomas juga mengurangi sekitar 279 pekerja. Ini menunjukkan situasi industri umum sedang tidak baik-baik saja," imbuh Said Iqbal.

Menurutnya, di Karawang, terdapat perusahaan nan telah tutup dengan jumlah pekerja terdampak sekitar 295 orang. Selain itu, terdapat efisiensi sekitar 294 pekerja dan PHK lantaran disharmoni industrial sekitar 200-an orang.

Sementara itu di Jawa Timur, tepatnya di Sidoarjo, CV Asri juga telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja.

"Perusahaan otomotif dan turunannya juga mulai terpukul. Harga jual mobil naik, permintaan turun, daya beli masyarakat melemah, akhirnya perusahaan melakukan efisiensi dan PHK," lanjutnya.

Ia memperkirakan dalam tiga bulan ke depan ancaman PHK tetap bakal terus terjadi, terutama lantaran banyak perusahaan mulai kalah bersaing akibat tingginya biaya produksi dan menurunnya permintaan pasar.

Menghadapi situasi tersebut, dia menyatakan bakal terus berkomunikasi secara intensif dengan pemerintah maupun DPR RI agar langkah mitigasi dapat segera dilakukan.

"Pemerintah sudah membentuk Satgas Mitigasi PHK. KSPI bakal terus memberikan info dan mendorong langkah-langkah konkret. nan paling krusial adalah memastikan hak-hak pekerja diberikan secara penuh," tambah Said Iqbal.

Selain itu, KSPI juga mendorong adanya fasilitasi penempatan kerja baru bagi para korban PHK.

"Kalau memungkinkan, para pekerja bisa disalurkan ke perusahaan lain. Seperti kasus di Tangerang, ada pekerja nan dipindahkan ke pabrik baru di Brebes," terang Said.

(rea/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance