Malaysia mencatat lonjakan pertumbuhan ekonomi nan melampaui ekspektasi pada kuartal II 2026. Pertumbuhan itu didorong oleh kuatnya sektor jasa dan ekspor produk elektronik nan bisa mengimbangi akibat perang di Timur Tengah.
Berdasarkan perkiraan awal Departemen Statistik Malaysia nan dirilis Jumat (17/7), produk domestik bruto (PDB) Malaysia tumbuh 5,8 persen pada periode April-Juni 2026 dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan median 5,2 persen dalam survei Bloomberg.
Sebagai perbandingan, pada kuartal I 2026 ekonomi Malaysia tumbuh 5,4 persen. Kuatnya permintaan domestik serta lonjakan ekspor semikonduktor membantu meredam gangguan akibat perang di Timur Tengah.
Kondisi ini memperkuat prospek Malaysia untuk tetap menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara pada tahun ini.
Arus investasi nan meningkat di sektor semikonduktor dan kepintaran buatan (AI) juga menopang pertumbuhan meski prospek ekonomi dunia tetap dibayangi ketidakpastian.
“Sektor jasa tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026,” demikian pernyataan Departemen Statistik Malaysia, dikutip dari Bloomberg.
Sektor pertambangan juga kembali mencatat pertumbuhan sebesar 10,2 persen, didorong oleh peningkatan produksi gas alam. Sementara itu, sektor bangunan tumbuh 6,6 persen, antara lain ditopang pembangunan proyek-proyek pusat data.
Di sisi lain, inflasi Malaysia melambat menjadi 1,9 persen pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi analis nan memperkirakan tetap berada di level 2 persen seperti pada Mei. Malaysia dinilai sukses menjaga kenaikan nilai konsumen tetap terkendali melalui kebijakan subsidi bahan bakar nan meredam akibat tingginya nilai minyak mentah.
Setelah info tersebut dirilis, nilai tukar ringgit melemah sekitar 0,2 persen terhadap dolar AS. Namun, info ini semakin memperkuat indikasi bahwa sejumlah ekonomi Asia Tenggara tetap bisa memperkuat menghadapi akibat perang di Timur Tengah.
Singapura dan Vietnam juga sebelumnya melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal II nan melampaui perkiraan. Meski demikian, prospek dunia tetap dibayangi ketidakpastian setelah ekonomi China pada kuartal lampau tumbuh lebih lambat dari nan diperkirakan.
Pernyataan terpisah dari Departemen Statistik Malaysia menyatakan secara keseluruhan ekonomi Malaysia tumbuh 5,6 persen pada semester I 2026, meningkat dari 4,5 persen pasa periode nan sama tahun sebelumnya.
Ekonom United Overseas Bank Ltd, Julia Goh, mengatakan capaian semester pertama tersebut menunjukkan kondisi ekonomi Malaysia lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
“Kinerja semester pertama menempatkan ekonomi pada posisi nan lebih kuat daripada nan kami perkirakan. Kami bakal meninjau kembali proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun sebesar 4,5 persen, dengan akibat nan sekarang condong mengarah ke potensi pertumbuhan nan lebih tinggi dari proyeksi kami saat ini,” ujarnya melalui surat elektronik.
Ketahanan ekonomi Malaysia juga mendorong sebagian analis memperkirakan bank sentral bakal meningkatkan suku kembang acuan. Bank Negara Malaysia (BNM) pekan lampau mempertahankan suku kembang kebijakan semalam di level 2,75 persen.
Ekonom senior Oversea-Chinese Banking Corp, Lavanya Venkateswaran, menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi saat ini tetap memberikan ruang bagi BNM untuk mempertahankan suku kembang pada pertemuan Juli. Namun, dia tetap memandang kesempatan normalisasi kebijakan moneter ke depan.
“Kombinasi pertumbuhan dan inflasi saat ini mendukung BNM untuk mempertahankan suku kembang pada pertemuan Juli. Namun, kami tetap memandang adanya argumen untuk melakukan normalisasi. Saya tetap memandang probabilitas nan lebih tinggi bahwa BNM bakal menormalkan suku kembang kebijakan menjadi 3 persen pada Januari 2027,” katanya.
Data awal PDB nan bakal memuat rincian komplit keahlian ekonomi Malaysia pada kuartal II dijadwalkan dirilis pada 14 Agustus 2026.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·