Pertimbangan Sebelum Pake Muse AI

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Sebelumnya saya sudah bagikan pengalaman saya menggunakan Muse AI dan ulasan kenapa Muse AI bisa sepopuler itu. Bagaimana banyak orang berbondong2 pake Muse AI sampai jumlah downloadnya menjadi nan tercepat sejak era ChatGPT rilis. Saat ini Muse AI menjadi aplikasi nomor satu di Apple App Store dan juga Google Play Store di US, menggeser aplikasi AI terkenal lain seperti ChatGPT, Claude, Gemini, apalagi juga Grok.

Di Indonesia nan belum resmi dirilis aja — penggunanya sudah sangat banyak.

Tetapi sebelum temen2 memutuskan untuk pake Muse AI, ada beberapa pertimbangan krusial nan bisa temen2 pikirkan sebelum memutuskan pake Muse AI.

Bisnis Model

Banyak nan bilang kalo sesuatu itu gratis, kitalah nan jadi produknya. Untuk bisa menyediakan jasa seperti Muse ini cost nya sangat mahal. Dengan spesifikasi VM 2 vCPU AMD prosesor, 7.7GB RAM, 100GB home storage, dan 7.5GB root storage berbasis SSD, biaya Cloud VM nya saja bisa 200rb lebih per bulannya. Dengan 100 juta token cuma-cuma setiap minggu, biaya AI inference nya juga pasti tidak murah, terlepas routing model apapun nan dijalankan dibelakangnya.

Fakta bahwa kita bisa menikmatinya secara cuma-cuma artinya meta tetap merugi. Tetapi mereka gak bisa merugi selamanya. Pasti ada upaya model nan melangkah di belakangnya, dan sigap alias lambat semua bakal dijalankan.

Ada beberapa upaya model dibalik Muse ini nan sepertinya bakal berjalan. Pertama adalah direct upgrade. Dimana kalo kita sebagai pengguna butuh batas lebih, kita bisa upgrade ke paket diatasnya. Saya cek di laman upgrade nya, ada dua paket nan tersedia, 290 ribuan rupiah per bulan untuk 500 juta token per minggu dan 1,4 jutaan rupiah per bulan untuk 3 milar token per minggu.

Bisnis model lain untuk jangka panjang, Meta bakal menarik fee transaksi dari setiap pembelanjaan nan dilakukan oleh Muse AI untuk pengguna. Muse AI ini bisa melakukan tugas untuk shopping dan bisa konek ke e-wallet juga, jadi suatu saat Meta bakal menarik fee ke seller saat terjadi transaksi. Saat ini lantaran tetap di US dan Kanada, Meta sudah bekerja sama dengan retailer seperti Walmart, Best Buy, dll — dan ketika sudah sampai di Indonesia bukan tidak mungkin bakal bekerja sama dengan Shopee, Tokopedia, apalagi mungkin Alfamart dan Indomaret untuk pembelian otomatis nan dilakukan oleh pengguna melalui Muse AI, dan menarik fee ke partner2 ini di setiap kali terjadi transaksi.

Bisnis model lain nan sudah mulai dipikirkan meta adalah Confidential VM. Jadi sebagai pengguna cuma-cuma memang kita dikasih 1 VM cuma-cuma nan terpisah dari VM lainnya. Jadi sebenarnya data-data kita sudah kondusif dan private dari pengguna Muse AI lainnya. Tetapi Meta tetap bisa mengakses VM kita untuk beberapa keperluan entah itu apa. Nah Confidential VM ini bakal menjadi extra add-on berbayar untuk dapet VM terenkripsi nan mana cuman kita nan bisa buka apalagi Meta pun tidak.

Lalu ada juga beberapa tanda-tanda nan mulai dikode oleh Meta, kemungkinan kelak bakal ada monetization juga dari connector marketplace. Jadi setiap jasa nan pengen konek ke Muse Agent ini kan perlu menyediakan konektor, nah bisa jadi bakal ada fee untuk penyedia konektor ini. Ya mirip seperti upaya model App Store dan Play Store nan juga mengambil fee dari setiap transaksi aplikasi, cuman bedanya ini untuk Muse konektor.

Jadi kita kudu aware bahwa gratisnya Muse adalah kail untuk membiasakan kita pake AI agent. Mengubah habit kita biar terbiasa cari informasi, belanja, dan melakukan apapun menggunakan Muse agent. Begitu sudah terbiasa, baru deh upaya model ini mulai dijalankan. Skema nan sama seperti di era bakar-bakar biaya di awal2 masuknya e-commerce, transportasi online, dsb.

Privacy

Privasi juga jadi perihal nan perlu kita pikirkan. Data-data di sosial media kita seringkali ditracking untuk iklan, dan meskipun Meta sendiri menyatakan bahwa info profile dan individual kita di Muse AI tidak konek dengan sistem iklan mereka, tetapi habit belanja, interest, dan perincian individual kita datanya jelas bakal dimiliki Meta. Terlebih dibanding sosial media, AI agent seperti ini bisa lebih dekat dengan kita, lantaran memberikan kesan seolah-olah percakapan private nan membikin kita bisa lalai menjaga privasi nan ada.

Meskipun tidak sedikit orang nan merasa bahwa daripada bayar pake uang, mending bayar pake data. Itu juga nan terjadi saat kita pake Google Search, Gmail, sosial media, dsb.

Security

Hal lain nan menjadi perhatian adalah keamanan. Meta sendiri menyatakan bahwa resiko security tetap nyata terjadi di ranah AI agent, seperti misalnya prompt injection dsb. Di Muse juga ada resiko nan sama.

Memang engineer meta mengusahakan maksimal keamanan Muse AI ini dengan merancang prasarana nan secure, menambahkan agent unik nan mereka kasih nama Sentinel nan tugasnya menjadi seperti security nan menolak beragam tindakan beresiko nan bakal dilakukan oleh agent, membikin Agent tidak bisa membaca password, API, dan info krusial lainnya secara langsung, dsb.

Tetapi resiko kemanan tetap sangat nyata, terutama dari prompt injection, terlebih AI agent juga tetap merupakan teknologi baru sampai saat ini.

Limitasi

Lalu perihal lain nan perlu jadi concern adalah pembatasan Muse AI ini dibanding AI agent self hosted seperti OpenClaw, Hermes Agent, alias nan lainnya. Karena agent nya ada di VM milik meta nan di manage juga oleh meta, maka ada pembatasan besar di gimana kita bisa mengakses dan memanage VM ini. Kita tidak mendapatkan akses langsung ke VM ini via SSH, tidak diberikan root access nya, tidak punya kebebasan nan sama dengan setup open source AI agent sendiri di rumah.

Setiap VM restart juga bakal otomatis wipe sistemnya, selain home storage nan memang dibuat persisten. Tetapi apa nan kita minta Muse AI install di sistemnya bisa lenyap dan memulai lagi dari awal saat VM ini kena restart entah lantaran pembaruan dsb.

Docker belum jalan di VM ini, inbound access juga tidak ada, artinya kita gak bisa host services apapun didalamnya. Kecuali outbond access ke services di luar Muse VM menggunakan API, MCP, dsb. Itupun setiap akses outbond tetap kudu melewati Sentinel, misalnya Cloudflare nan di block by default oleh Sentinel ini.

Bandwidth cap nya juga terbatasi di 20Mbps. Lalu AI model, kita juga tidak bisa memilih sendiri, Meta nan bakal routing AI model nan digunakan Muse secara otomatis. Pada intinya ya tidak sebebas pake Open Source dan ada resiko ekosistem locked-in, dimana kita bakal tergantung di ekosistem Muse AI dan beragam jasa Meta lainnya.

Permasalahan

Dan perihal terakhir nan perlu jadi perhatian juga beragam persoalan nan tetap bisa terjadi saat kita mempercayakan alias mendelegasikan aktivitas kita ke AI agent. AI agent seperti Muse AI ini tetap jauh dari sempurna. Ada beberapa kekacauan nan terjadi sejak perilisan Muse AI, nan dialami oleh pengguna dan menjadi viral. Misalnya ada penjual di FB Marketplace nan menemukan bahwa Muse AI memberikan alamat dia ke pembeli dan memberikan potongan nilai untuk COD tanpa mengabari dulu. Pembeli nan sudah datang pun akhirnya marah-marah lantaran gak ditemui oleh penjual, lantaran penjualnya memang sama sekali tidak tahu kalo ada janjian COD dengan pembeli. Akhirnya sang penjual pun dapat rating jelek di FB marketplace nya.

Lalu ada nan melaporkan juga bahwa Muse AI diam-diam membaca private iMessage nya tanpa ijin.

Dan meskipun kondusif saat konek ke jasa milik Meta sendiri seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan juga Thread — Muse AI menghadapi persoalan nan sama seperti Agent Lainnya saat konek ke jasa pihak ketiga. Ada user nan melaporkan akun instacart mereka di ban setelah Muse AI mencoba login kesana. Amazon juga memblokir Muse AI untuk shopping di platform mereka, dan sesekali juga tetap terjadi error di Muse AI lantaran compute power nan terlalu padat, seperti kandas searching, jawaban AI nan stuck, terpotong, dsb.

Coba Sendiri

Tetapi ini semua tidak kudu menghentikan rasa penasaran kita buat nyobain AI agent baru dari Meta ini. Kalo temen2 memang penasaran dan pengen nyoba seperti apa rasanya pake Muse AI, langsung aja dicoba sendiri.

Tinggal daftar menggunakan VPN US, redeem kode LUZFFF untuk dapet extra 1B token nya, dan silakan di eksplorasi.

Tapi dari pengalaman saya saat daftar kemarin, kalo kita tidak hubungkan dengan akun IG alias FB (atau tidak mempunyai kedua akun tersebut di smartphone kita saat melakukan pendaftaran), kita bakal diminta untuk memasukkan info payment seperti Visa dan Mastercard dari virtual debit card, credit card, dsb demi verifikasi usia. Ini juga kudu teman2 perhatikan, terlebih kalo pake VPN gratisan, kudu ekstra hati-hati lantaran info payment temen2 bakal dikirimkan lewat VPN ini.

Jadi jangan sembarangan pake VPN cuma-cuma nan gak jelas kalo mau daftar Muse AI ini. Pastikan VPN nan dipake nan kondusif tanpa log data. Dan seperti nan saya bilang, officialnya tetap untuk US dan Canada saja. Jadi buat temen2 nan daftar dari Indonesia pake jalur VPN, resiko ditanggung masing2 ya. Kalo pengen jalur nan kondusif saran saya tunggu aja sampai Muse AI ini benar2 sudah resmi dirilis di Indonesia.

Bagi nan sudah pake Muse AI, silakan di share pengalaman pake AI agent cuma-cuma siap pakai dari Meta ini.


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.

Written by

Febian

Productivity addict. Geek by nature. Platform Agnostic.

Post navigation

Previous Post

Selengkapnya
Sumber Winpoin.com
Winpoin.com
↑