Personalisasi Tiket Pesawat Jadi Tren Baru Industri Penerbangan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Personalisasi Tiket Pesawat Jadi Tren Baru Industri Penerbangan Ilustrasi(Dok Magnific)

SURVEI 2026 mengungkap nyaris 8 dari 10 visitor Amerika Serikat (AS) jarang memanfaatkan sebagian benefit perjalanan. Tren berjalan tersebut menjadi sebuah kesempatan bagi maskapai dunia untuk menghadirkan opsi perjalanan nan lebih relevan, mengingat tidak semua penumpang pesawat memerlukan akomodasi dan jasa penerbangan nan sama. Pelaku perjalanan upaya nan hanya membawa koper alias tas kabin tentu bakal berbeda dengan family nan berjalan liburan. Keduanya membeli tiket penerbangan, tetapi mempunyai kebutuhan dan persepsi nilai penerbangan nan tidak selalu serupa.

Fenomena tersebut tercermin dalam survei Forbes Advisor pada Juni 2026, nan menemukan bahwa 78% dari 1.000 responden dewasa di Amerika Serikat mempunyai setidaknya satu benefit perjalanan nan jarang alias tidak pernah dimanfaatkan. Bahkan, 17% responden jarang menggunakan akomodasi bagasi tercatat cuma-cuma nan tersedia bagi mereka, meskipun 43% menempatkannya sebagai salah satu benefit perjalanan paling bernilai.

Menariknya, 67% responden lebih memilih nilai penerbangan alias akomodasi nan terjangkau dibandingkan akomodasi premium. Survei nan mencakup benefit program loyalitas, kartu angsuran perjalanan, dan perhotelan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan suatu akomodasi tidak selalu berbanding lurus dengan kebutuhan maupun tingkat pemanfaatannya.

Perubahan preferensi tersebut turut memberikan konteks bagi perkembangan produk penerbangan global. Sejumlah maskapai jasa penuh telah mengangkat konsep branded fares, ialah pilihan kategori tarif dengan kombinasi harga, fasilitas, dan elastisitas berbeda sesuai karakter perjalanan pelanggan.

Singapore Airlines, misalnya, pada saat calon penumpang menentukan rencana perjalanannya, maskapai ini bakal menawarkan sejumlah kategori ialah Economy Lite, Value, Standard, Flexi nan dapat dipilih dengan nilai dan jasa sesuai kebutuhan. Lalu, Cathay Pacific pada kelas ekonominya mempunyai kategori Light, Essential, dan Flex. Maskapai timur tengah seperti Emirates dan Qatar Airways juga telah menerapkan konsep branded fares pada penjualan tiket penerbangannya.

Melalui pendekatan tersebut, penumpang dapat memilih kombinasi faedah seperti jatah bagasi, pemilihan kursi, elastisitas perubahan jadwal, hingga perolehan miles sesuai kebutuhan dan anggaran.

Menurut laporan SeatMaps.com Yearbook of Ancillary Revenue dari IdeaWorksCompany di tahun 2026 mencatatkan bahwa tren berjalan penumpang tersebut bisa membawa tambahan pendapatan bagi maskapai selama lima tahun terakhir, nan turut didorong oleh penerapan biaya pemilihan bangku dan semakin luasnya penggunaan branded fares.

Namun demikian, tren tersebut tidak semata mencerminkan strategi peningkatan pendapatan. Diferensiasi tarif juga menjadi pendekatan maskapai untuk menjawab beragam preferensi pelanggan, termasuk mereka nan mengutamakan nilai kompetitif maupun penumpang nan bersedia bayar lebih untuk kenyamanan dan elastisitas tambahan. 

Bagaimana dengan Indonesia? 

Di Indonesia, preferensi penumpang memperlihatkan pertimbangan nan beragam. Survei Jakpat terhadap 338 pengguna penerbangan domestik pada periode mudik Lebaran 2026 menemukan bahwa 84% responden mempertimbangkan keselamatan dalam memilih maskapai, disusul ketepatan waktu (82%) dan keterjangkauan nilai (80%). Sementara itu, elastisitas agenda (74%) dan kemudahan membawa bagasi (73%) juga menjadi pertimbangan penting.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen Indonesia tidak semata mencari tiket paling ekonomis, tetapi juga mempertimbangkan kualitas jasa dan faedah nan relevan dengan kebutuhan perjalanan. Kendati survei terbatas pada periode mudik, hasilnya memberikan perspektif mengenai kesempatan pengembangan produk penerbangan nan semakin berorientasi pada kebutuhan pelanggan. 

Praktik pengemasan jasa dalam beragam pilihan juga mulai dikenal di pasar Indonesia. AirAsia, misalnya, menawarkan paket Value Pack dan Premium Flex dengan kombinasi faedah seperti bagasi, pemilihan kursi, makanan, dan elastisitas perjalanan. Sementara itu, penerapan branded fares pada maskapai jasa penuh tentunya perlu memperlihatkan kesempatan diferensiasi produk tanpa kudu meninggalkan standar jasa inti nan menjadi identitas maskapai.

Dari perspektif industri nasional, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) turut menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan upaya maskapai dan peningkatan kualitas pelayanan di tengah tantangan biaya operasional.

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, dalam Rapat Umum Anggota INACA menekankan perlunya kebijakan nan responsif untuk menjaga industri penerbangan tetap sehat dan berkembang, sekaligus meningkatkan pelayanan kepada konsumen.

Dalam pembahasan revisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 30 Tahun 2021 mengenai Standar Pelayanan Minimal Penumpang Angkutan Udara nan dipublikasikan September 2026, INACA juga menegaskan pentingnya penyelarasan ketentuan pelayanan dengan implikasi biaya, guna menjaga keseimbangan antara kepentingan penumpang dan penyedia jasa penerbangan.

Perspektif tersebut memperlihatkan tantangan industri penerbangan nasional dalam menjaga keterjangkauan harga, kualitas pelayanan, dan keberlanjutan upaya secara bersamaan. Dalam konteks ini, pengembangan pilihan tarif berbasis kebutuhan pengguna dapat menjadi salah satu pendekatan komersial nan relevan untuk dikembangkan.

Namun, transparansi tetap menjadi aspek penting. Studi McKinsey terhadap 7.000 visitor dunia nan diterbitkan pada Mei 2025 menemukan bahwa 36% responden mengeluhkan biaya tersembunyi alias kurangnya transparansi nilai ketika memesan penerbangan. Karena itu, diferensiasi tarif perlu disertai kejelasan manfaat, batas layanan, serta total biaya nan kudu dibayarkan pelanggan.

Pada akhirnya, perkembangan produk penerbangan bukan sekadar memisahkan akomodasi menjadi jasa berbayar, tetapi memberikan kebebasan kepada pengguna untuk memilih kombinasi harga, kenyamanan, dan elastisitas nan paling sesuai dengan kebutuhannya. Sebab, nilai sebuah perjalanan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak akomodasi nan diperoleh, melainkan seberapa berfaedah faedah tersebut bagi setiap penumpang. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑