Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, menjelaskan rencana kerja sama mineral kritis Indonesia dengan India. Nantinya, kerja sama tersebut turut melibatkan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas).
Menurut Brian, India sekarang memang mempunyai teknologi pemurnian mineral kritis nan ditawarkan ke Indonesia. Sehingga penjajakan tetap berlangsung.
“Tim dari Perminas dan BRIN juga sudah ke India, perbicaraan-perbicaraan. Jadi India mempunyai teknologi-teknologi untuk pemurnian rare earth dan mereka menawarkan teknologi untuk pembangunan industri magnet. Ini kita sedang jajaki seperti apa. Sehingga kita berambisi kita juga bisa membangun industri magnet maupun pemurnian rare earth dan bekerja sama dengan India,” kata Brian di Istana Negara, Jakarta pada Selasa (7/7).
Brian memastikan kerja sama dengan India mengenai mineral kritis bakal berujung pada pembangunan pabrik di Indonesia.
“Cuma kerja samanya seperti apa, itu nan sedang kita bicarakan,” ujarnya.
Sebelumnya Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengungkap India dan Indonesia sepakat memperkuat kerja sama rantai pasok mineral kritis dan industri baja. Hal itu dia sampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto
Modi mengatakan, penguatan rantai pasok teknologi menjadi salah satu konsentrasi kerja sama kedua negara di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku strategis.
"Di era sekarang, ketahanan rantai pasok teknologi sangatlah penting. Perjanjian krusial juga telah dibuat untuk memperkuat rantai pasok di bagian mineral kritis dan baja," kata Modi dalam pernyataan berbareng usai pertemuan bilateral.
Kedua negara juga mendorong terbentuknya kemitraan baru di sektor manufaktur berbasis mineral strategis.
"Kemitraan baru antara perusahaan-perusahaan kita dalam bagian baja tahan karat (stainless steel) dan magnet tanah jarang (rare earth magnet) juga sedang dimulai," ucapnya.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·