Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus mendorong ekspansi pangsa pasar ekspor baru, termasuk ke negara-negara di Eropa. Hal ini dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa salah satu negara Eropa nan disasar adalah Inggris. Bersama Inggris, Airlangga membeberkan saat ini tengah berproses menuju kesepakatan jual beli bilateral Free Trade Agreement (FTA) alias Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
"Terkait langkah pemerintah mengenai ekspor, salah satunya adalah di dalam ketidakpastian ini membuka pasar lebih luas," kata Airlangga saat konvensi pers di Kantor Kemenko perekonomian, Jakarta pada Selasa (5/5/2026).
"Dengan Inggris sendiri kita ada perjanjian mengenai dengan ekonomi growth partnership dan ini bakal berproses menuju FTA alias CEPA. Jadi dalam rangka ini bakal terus kita buka," sambung Airlangga.
Pada awal tahun ini, Menko Airlangga melakukan pertemuan dengan Secretary of State for Business and Trade (DBT) Kerajaan Inggris The Rt Hon Peter Kyle MP, sekaligus menandatangani Arrangement between the Government of the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland and the Government of the Republic of Indonesia to Establish an Economic Growth Partnership (EGP) di London, Senin (19/01/2026).
Penandatanganan arsip kerja sama ekonomi strategis tersebut menjadi langkah krusial dalam memperdalam hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Inggris, nan juga merupakan salah satu pilar utama dalam Accord for a New Indonesia-United Kingdom Strategic Partnership nan diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kerajaan Inggris.
Menko Airlangga menyampaikan bahwa kerja sama ekonomi strategis tersebut menjadi fondasi nan sangat krusial untuk mendorong kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, dan penemuan antara Indonesia dan Inggris. Kemitraan ini sejalan dengan pengarahan Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 8% nan memerlukan support perdagangan dan investasi nan besar, khususnya dari sektor swasta dan mitra strategis internasional lainnya.
"Dokumen kerja sama ekonomi strategis tersebut merupakan bentuk nyata dari komitmen kedua negara dalam membangun pertumbuhan ekonomi nan inklusif, berkelanjutan, dan saling menguntungkan," ujar Menko Airlangga dikutip dari rilis Kemenko Perekonomian, dikutip Rabu (6/5/2026).
Perjanjian tersebut juga dirancang sebagai kerangka kerja sama nan praktis dan berorientasi pada pelaku usaha, mencakup sektor-sektor prioritas seperti daya bersih, ekonomi digital, keuangan, pendidikan, prasarana dan transportasi, pertanian dan pangan, kesehatan dan life sciences, penguatan rantai pasok, serta perdagangan dan pembangunan berkelanjutan. Melalui kemitraan tersebut, Indonesia dan Inggris diharapkan dapat memanfaatkan potensi ekonomi masing-masing secara optimal di tengah dinamika perekonomian global.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·