Ilustrasi(Dok Istimewa)
KEMENTERIAN Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital meluncurkan program Digital Addiction Response Assistance (DARA) sebagai inisiatif edukasi dan pendampingan bagi orang tua untuk mengatasi adiksi gim pada anak dan remaja.
Layanan konsultasi cuma-cuma ini dikembangkan melalui skema Indonesia Game Rating System (IGRS) nan bekerja sama dengan perusahaan digital wellbeing, Riliv. Kehadiran platform DARA tersebut diharapkan bisa mempermudah family dalam mengenali tanda-tanda penggunaan gim nan berlebihan sekaligus mendapatkan penanganan psikologis nan tepat.
Sebagai corak sosialisasi masif, Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi menggelar aktivitas berjudul "Gimtalks DARA: Main Gim Tetap Aman, Keluarga Jadi Nyaman" di BLOCK71 Bandung, nan menjadi bagian dari rangkaian roadshow di empat kota besar di Indonesia, ialah Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Malang.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, menekankan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendirian dalam menyaring akibat negatif teknologi di ruang domestik. Dibutuhkan pembagian tanggung jawab (sharing responsibility) nan kuat antara negara, lembaga pendidikan, industri, hingga lingkungan keluarga.
“Perlindungan di bumi digital tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sharing responsibility. Jadi gak bisa pemerintah sendiri masuk ke ranah keluarga, tapi kudu bareng-bareng antara pemerintah, keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah kesehatan, dan industri nan seterusnya. Ini contoh nyata bahwa ekosistem nan kuat dibangun bukan cuman melalui line of interest alias kepentingan, tapi juga melalui tanggung jawab nan kita share bersama,” ujar Sonny melalui keterangannya, Senin (22/6/2026).
Senada dengan perihal tersebut, Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Gim Komdigi, Tita Ayuditya Surya, menambahkan bahwa posisi gim saat ini sudah beralih bentuk menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Oleh lantaran itu, pendekatan terbaik bukanlah membatasi alias melarang secara total, melainkan mendampingi mereka agar terbangun kebiasaan digital nan seimbang.
“Saat ini sebenarnya lantaran game sudah jadi bagian dari keseharian anak-anak, kita sebagai orang tua alias nan ada di lingkungan terdekat anak-anak ini harusnya bisa ikut mendampingi,” kata Tita.
Memaksimalkan Sisi Positif Gim Lewat Sistem Klasifikasi Usia
Melalui sesi obrolan interaktif nan bekerja-sama dengan platform Keluargakita dan ParagonCorp, para narasumber lintas sektor nan terdiri dari perwakilan Kementerian PPPA, Kementerian Kesehatan, praktisi psikologi, hingga asosiasi game developer sepakat bahwa pendampingan nan tepat dapat mengubah gim menjadi sarana belajar nan positif. Gim dinilai mempunyai potensi besar untuk merangsang kreativitas, keahlian memecahkan masalah (problem solving), dan hubungan sosial.
Salah satu tembok utama nan didorong oleh Komdigi adalah peningkatan pemahaman orang tua mengenai pengelompokkan usia gim melalui Indonesia Game Rating System (IGRS). Dengan menyaring konten nan sesuai dengan tahap perkembangan usia anak, akibat paparan konten tidak layak, cyberbullying, hingga gangguan kesehatan mental akibat adiksi gawai dapat diminimalisasi secara preventif. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·