Perjuangan Relawan Pulihkan Air Bersih Usai Banjir Porak-porandakan Takengon Aceh

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Malam itu Rizky Fajar, relawan Dompet Dhuafa sibuk dengan kejuaraan panjat tebing di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Keseruan laga berubah ketika berita banjir bandang dia terima. Kabupaten Bireun, kampung halamannya, tidak luput dari terjangan air bah.

Tanpa pikir panjang, saat itu juga dia meluncur. Menelusuri jalur lintas timur Aceh. Rizky merasakan, perjalanan malam itu sangat panjang, seolah tidak ada akhirnya.

"Dua malam ketahan di jalan lantaran banjir, enggak bisa lewat. Titik banjir dari Bandar Aceh waktu itu malam pertama, nyangkut di Meureudu, Pidie Jaya," kata Rizky mengawali cerita kepada Liputan6.com, Kamis (30/4/2026).

Akses dari Banda Aceh ke daerah-daerah lain sepanjang garis pantai timur, lumpuh lantaran jembatan di Pidie Jaya putus. Keesokan sorenya, Rizky baru mendapatkan jalur alternatif. Namun kondisinya tidak lebih baik. Dia tertahan lantaran luapan banjir menenggelamkan jalan di Kecamatan Peudada, Bireun.

Hari berganti, Rizky akhirnya tiba di rumah. Butuh tenaga ekstra untuk membersihkan sisa genangan air bercampur lumpur dari dalam rumah.

"Dengan kondisi juga waktu itu lampu padam, jaringan enggak ada. Jadi jenuh enggak tahu mau ngapain. Akhirnya keluar jadi relawan," ucapnya.

Selama masa tanggap darurat bencana, Rizky ditugaskan di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Meski dia original Bireun, namun pengalaman jelajahnya nan lebih banyak di Takenongan membuatkan dipercaya untuk membantu penanggulangan musibah di dataran tinggi Gayo.

Berawal dari Kebutuhan Medis

Takengon menjadi salah satu wilayah terparah akibat banjir bandang. Kebutuhan utama saat itu adalah pembangunan pos medis. Mengingat kondisi penduduk pascabencana sangat rentan mengalami masalah kesehatan, baik itu sakit kulit alias ISPA.

Bahkan di Gampong Wihlah Setie, Kecamatan Bintang, penduduk kudu memperkuat selama dua bulan di pengungsian balai desa dengan kondisi apa adanya.

Sambil menjalankan tugas, Rizky juga mulai mengumpulkan info mengenai kebutuhan pengungsi. Dari sana diketahui bahwa korban banjir kesulitan mendapatkan air bersih.

Pipa-pipa sepanjang dua kilometer nan menyalurkan air bersih dari sumber di pegunungan menuju perkampungan, lenyap terbawa arus banjir. Dahsyatnya banjir bercampur material kayu dan batu, merusak pipa. Sontak selama di pengungsian, penduduk mengonsumsi air tidak layak, air tangkapan hujan dan air irigasi.

"Ternyata mereka tidak punya air bersih pada saat itu. Malah air bersih itu, nan mereka konsumsi itu mungkin kita anggap tidak bersih pada saat itu. Bukan air bersih, tapi mereka anggap itu bersih lantaran memang tidak ada pilihan lain," ceritanya.

Dari sana, Rizky melaporkan kondisi penduduk dan kebutuhan terhadap pasokan air bersih ke Disaster Management Center Dompet Dhuafa. Kurang dari satu bulan, kemudian laporannya tersebut disetujui.

Perjuangan Salurkan Air Bersih

Awal Februari 2026 menjadi pertanda dimulainya penyambungan ulang pipa air bersih. Diakui Rizky, ini bukan pekerjaan mudah. Tantangan utamanya adalah akses dari desa ke titik mata air itu banyak nan putus.

"Longsor, kemudian juga jembatan alur sungai itu juga putus," lanjut dia.

Belum lagi kondisi topografi di sana berupa perbukitan, memaksa relawan dan penduduk menggunakan segala langkah untuk menaklukkan medan.

Namun semua itu bukan tidak bisa dilewati. Dengan semangat gotong royong, melibatkan 40 warga, mobilisasi pipa dari bawah menuju sumber air sukses dilakukan.

"Alternatif waktu itu lantaran pipanya terlalu berat, besar, pipanya kita buka dulu, jadi mikul bareng-bareng sampai 20-30 orang. Satu pipa itu untuk naik pelan-pelan ke atas," tutur Rizky.

Pipa-pipa baru sepanjang dua kilometer akhirnya terpasang. Pemasangan pipa ini juga dibarengi dengan pembangunan bak penampungan air. Total ada tiga bak. Pertama di sumber air. Kedua di pertengahan jalur dan ketiga di dekat permukiman.

Namun untuk saat ini jalur pipa air dari bak penampungan air kedua dilangsungkan menuju bak penampungan lama nan berada tidak jauh dari bak penampungan ketiga.

Kini hasil keras relawan terbayar dengan senyum kebahagiaan penunggu desa. Air bersih nan segar kembali mengaliri bak-bak bilik mandi, bajan dan penampungan di rumah-rumah warga.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita