Peringati D-Day di Prancis, Menhan AS Pete Hegseth Sebut Arus Migrasi Eropa Sebagai 'Invasi'

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Peringati D-Day di Prancis, Menhan AS Pete Hegseth Sebut Arus Migrasi Eropa Sebagai 'Invasi' Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengkritik keras kebijakan migrasi Eropa dalam pidato peringatan D-Day di Prancis. (Dept of War)

MENTERI Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara Eropa mengenai rumor migrasi. Dalam pidato peringatan D-Day di Prancis, Hegseth menggambarkan gelombang kehadiran migran di pesisir Benua Biru sebagai sebuah "invasi".

Hegseth berbincang di Normandia, 82 tahun setelah pasukan sekutu menyerbu pantai-pantai Prancis untuk membebaskan Eropa Barat Laut dari pendudukan Nazi pada 1944.

"Sayangnya, hari ini, pantai-pantai Eropa nan berbeda diserbu oleh ideologi rawan nan berbeda," ujar Hegseth. "Pantai di Spanyol, di Italia, di Yunani, dan Bulgaria. Perahu dan orang-orang berdatangan. Kapan ibu kota Eropa bakal melakukan sesuatu terhadap invasi itu?"

Hegseth menilai beberapa ibu kota Eropa sekarang terlalu "nyaman" dengan kebebasan nan dulu diperjuangkan dengan susah payah, hingga lupa bahwa kebebasan tidaklah gratis.

"Para laki-laki nan bertempur dan gugur di sini mengembalikan kebebasan ke Eropa," kata Hegseth. "Kebebasan itu kudu dipertahankan oleh generasi pemimpin dan pejuang saat ini, alias apa nan mereka perjuangkan hanyalah berkarakter sementara."

Pernyataan keras Hegseth ini menambah panjang daftar kritik dari pejabat senior pemerintahan Donald Trump terhadap kebijakan migrasi Eropa. Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance sempat menyalahkan "invasi massal migran" atas kematian seorang mahasiswa Inggris, Henry Nowak. Namun, pernyataan Vance langsung menuai respons negatif dari Downing Street (Pemerintah Inggris) nan mengecam adanya upaya kombinasi tangan dalam kerakyatan mereka. Terlebih, pihak kejaksaan Inggris telah mengonfirmasi bahwa pelaku penusukan tersebut sebenarnya lahir sebagai penduduk negara Inggris.

Isu imigrasi sendiri memang menjadi konsentrasi utama domestik pemerintahan Trump, nan juga tercermin dalam Strategi Keamanan Nasional baru mereka nan dirilis Desember lalu. Dokumen tersebut mengeklaim Eropa terancam mengalami "penghapusan peradaban" dalam 20 tahun ke depan jika tren migrasi saat ini terus berlanjut. Presiden Donald Trump apalagi sempat menyebut negara-negara Eropa "menuju kehancuran" akibat migrasi nan tidak terkendali.

Kritik dari Trump sebelumnya telah dibantah oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, nan menyatakan bahwa penilaian sang presiden "tidak tepat", meskipun Inggris tetap menerima tantangan untuk mengatasi migrasi ilegal.

Secara data, kehadiran migran lewat jalur laut ke Eropa daratan sebenarnya telah melewati masa puncaknya tahun 2015. Berdasarkan info antara April 2025 hingga Maret 2026, tercatat ada 169.341 kehadiran via laut campuran ke Inggris, Yunani, Italia, Spanyol, dan Siprus. Khusus untuk Inggris, jumlah orang nan menyeberangi Selat Inggris dari Prancis menggunakan perahu mini antara 1 Januari hingga 3 Juni 2026 mencapai 9.142 orang, nan berfaedah mengalami penurunan sebesar 38% dibandingkan periode nan sama pada tahun sebelumnya. (BBC/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia