Ilustrasi(Magnific)
PENYAKIT autoimun menjadi salah satu masalah kesehatan nan semakin banyak ditemukan, terutama pada wanita usia produktif. Menurut master dari Universitas Gadjah Mada (UGM), wanita mempunyai akibat lebih tinggi mengalami autoimun dibandingkan laki-laki. Selain dipengaruhi aspek hormonal, kondisi psikologis seperti stres juga dinilai berkedudukan besar dalam memicu munculnya penyakit tersebut.
Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, menjelaskan penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel tubuh sendiri sebagai ancaman. Akibatnya, sistem imun justru menyerang organ tubuh nan semestinya dilindungi. Kondisi ini dapat menyerang beragam organ, mulai dari kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga hati.
Menurut Nyoman, sekitar 80% penderita autoimun adalah perempuan, sedangkan sisanya laki-laki. Salah satu penyebab utamanya adalah hormon estrogen nan memengaruhi kerja sistem kekebalan tubuh. Ketidakseimbangan hormon dapat meningkatkan akibat munculnya penyakit autoimun, terutama pada wanita usia reproduksi maupun mereka nan sedang merencanakan kehamilan.
Selain aspek hormonal dan genetik, style hidup serta kondisi lingkungan juga mempunyai pengaruh besar. Polusi udara, pola makan nan kurang sehat, hingga tekanan psikologis menjadi aspek nan dapat memicu berkembangnya penyakit autoimun pada seseorang nan mempunyai kerentanan.
Nyoman menyoroti stres menjadi salah satu pemicu paling dominan. Ia mengaku banyak menemukan pasien, termasuk mahasiswa, nan awalnya dalam kondisi sehat, namun mulai menunjukkan indikasi autoimun setelah menghadapi tekanan akademik maupun beban hidup nan berat. Menurutnya, stres nan tidak dikelola dengan baik dapat memperburuk kondisi sistem kekebalan tubuh sehingga memicu munculnya penyakit.
Karena itu, dia menekankan pentingnya manajemen stres sebagai bagian dari upaya pencegahan. Penderita maupun perseorangan nan mempunyai aspek akibat dianjurkan untuk tidak memaksakan diri hingga kelelahan, menjaga kualitas tidur, serta berupaya menikmati aktivitas sehari-hari agar tekanan mental tidak terus menumpuk.
Selain mengelola stres, Nyoman juga menyarankan masyarakat menghindari paparan sinar mentari secara berlebihan, terutama bagi penderita autoimun tertentu seperti lupus. Menurutnya, penggunaan pelindung seperti tabir surya alias payung dapat membantu mengurangi akibat kekambuhan.
Ia juga mengingatkan bahwa hingga sekarang belum ada bukti ilmiah nan menunjukkan satu jenis makanan tertentu sebagai penyebab utama autoimun. Oleh karena itu, masyarakat disarankan mengenali respons tubuh masing-masing terhadap makanan tertentu dan menerapkan pola hidup sehat, termasuk menghindari rokok dan konsumsi alkohol.
Menurut Nyoman, tantangan terbesar dalam penanganan autoimun bukan hanya pengobatan, tetapi juga pemahaman pasien terhadap penyakitnya. Sebagian pasien berakhir berobat ketika merasa kondisinya membaik, sementara nan lain justru mengalami kekhawatiran berlebihan setelah didiagnosis. Kedua kondisi tersebut dapat memengaruhi keberhasilan terapi.
Ia berambisi masyarakat tidak hanya konsentrasi pada pengobatan ketika penyakit sudah muncul, tetapi juga mulai menerapkan langkah pencegahan melalui pengelolaan stres, rehat nan cukup, aktivitas bentuk nan seimbang, serta menjaga kesehatan secara menyeluruh. Dengan langkah tersebut, akibat munculnya penyakit autoimun diharapkan dapat ditekan sejak dini. (Universitas Gadjah Mada/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·