Perang AS-Iran Picu Rencana Pembangunan PLTN di Asia dan Afrika

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

loading...

Rencana Pembangunan PLTN di Asia dan Afrika. FOTO/ daily

CAPE - Konflik antara AS dan Iran menyebabkan guncangan daya global, mendorong beberapa negara di Asia dan Afrika untuk meningkatkan produksi tenaga nuklir mereka.

Guncangan daya dunia nan disebabkan oleh bentrok AS-Iran mendorong beberapa negara di Asia dan Afrika untuk meningkatkan produksi tenaga nuklir, sekaligus mempercepat rencana pengembangan daya atom di negara-negara nan belum pernah menggunakan teknologi ini di kedua benua tersebut, menurutAP.

Banyak negara sedang mempertimbangkan untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.
Saat ini, 31 negara dan wilayahdi seluruh duniamengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir, nan menyediakan sekitar 10% dari produksi listrik global, menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Badan tersebut menambahkan bahwa 40 negara lain sedang mempertimbangkan alias bersiap untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.

Asia, tempat sebagian besar minyak dan gas alam dari Timur Tengah diangkut, adalah wilayah pertama dan paling terdampak oleh gangguan rute pengiriman bahan bakar, diikuti oleh Afrika. AS dan Eropa juga berada di bawah tekanan lantaran bentrok mendorong kenaikan nilai energi.

Negara-negara Afrika dan Asia nan mempunyai pembangkit listrik tenaga nuklir meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan daya jangka pendek, sementara negara-negara tanpa tenaga nuklir mempercepat rencana jangka panjang untuk melindungi diri dari guncangan bahan bakar fosil di masa depan.

"Energi nuklir bukanlah solusi instan untuk krisis daya saat ini. Pengembangan daya atom dapat menyantap waktu puluhan tahun, terutama bagi negara-negara nan baru memulai. Namun, komitmen jangka panjang terhadap daya nuklir nan dibuat sekarang kemungkinan bakal membentuk struktur daya masa depan suatu negara," komentar Joshua Kurlantzick dari Council on Foreign Relations.

Di Asia, bentrok Iran mendorong Korea Selatan untuk meningkatkan produksi tenaga nuklirnya, sementara Taiwan (China) sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali reaktor-reaktor nan telah dinonaktifkan. Di Afrika, rencana pembangunan reaktor di masa depan menjadi semakin mendesak, dengan Kenya, Rwanda, dan Afrika Selatan menegaskan support mereka terhadap tenaga nuklir.

Energi nuklir memanfaatkan daya nan dilepaskan ketika inti atom, seperti uranium, terbelah dalam proses nan disebut fisi. Tidak seperti bahan bakar fosil, proses ini tidak menghasilkan CO2, nan berkontribusi terhadap perubahan iklim. Namun, proses ini menghasilkan limbah radioaktif berbahaya, itulah sebabnya banyak negara berhati-hati terhadap daya nuklir.

Di Asia, di mana langkah-langkah penanggulangan daya mencakup peningkatan penggunaan batu bara dan pembelian minyak mentah Rusia, banyak negara dengan pembangkit listrik tenaga nuklir berupaya memaksimalkan pemanfaatan reaktor nan ada.

Korea Selatan meningkatkan produksi di pembangkit listrik tenaga nuklirnya dan mempercepat perawatan pada lima reaktor nan saat ini dimatikan, dengan perkiraan bakal diaktifkan kembali pada bulan Mei.

Jepang membalikkan kebijakan penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir setelah musibah Fukushima 2011, ketika gempa bumi dan tsunami melumpuhkan sistem pendingin reaktor.

Taiwan sedang mempertimbangkan proses multi-tahun untuk menghidupkan kembali dua reaktor lantaran krisis saat ini, nan memerlukan inspeksi menyeluruh, penilaian keselamatan, dan verifikasi sistem kendali.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews