Perang AS-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Pakar UMY Ingatkan Hal Ini

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran nan telah berjalan lebih dari sebulan mulai menunjukkan akibat serius terhadap perekonomian global. Salah satu parameter paling nyata adalah kenaikan nilai minyak dunia.

Dosen Hubungan Internasional sekaligus Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMY, Prof. Faris Al-Fadhat, M.A., Ph.D, menilai perang ini tidak lagi berkarakter regional, melainkan berakibat luas pada stabilitas ekonomi dunia.

"Ini bukan sekadar perang tiga negara alias satu kawasan. Dampaknya sudah global, terutama pada sektor ekonomi dan rantai pasok dunia," ujar Faris, dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, salah satu akibat paling krusial adalah potensi perlambatan ekonomi global. Proyeksi pertumbuhan ekonomi bumi tahun 2026 nan sebelumnya berada di kisaran 2,7-3,3 persen sekarang terancam terganggu. Bahkan, dia mengingatkan adanya potensi resesi jika bentrok terus bersambung tanpa solusi.

"Kalau perang ini tidak bisa dinavigasi dengan baik, maka potensi resesi sangat terbuka. Dampaknya bakal terasa pada supply chain global, mulai dari kebutuhan dasar seperti pangan hingga sektor industri,"sambungnya.

Minyak Jadi Pemicu Utama Disrupsi

Faris menyoroti daya khususnya minyak, sebagai aspek kunci krisis ini. Gangguan pada sektor daya bisa berakibat domino ke beragam sektor lain, termasuk manufaktur, teknologi, hingga industri makanan.

Ia juga menjelaskan kenaikan nilai minyak dipicu oleh dua aspek utama: gangguan suplai dan aspek psikologis pasar. Secara geografis, jalur pengedaran minyak bumi sangat berjuntai pada area Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz.

"Sekitar 40 persen lebih pasokan minyak bumi berasal dari area tersebut dan melewati Selat Hormuz. Jika jalur ini terganggu alias diblokir, maka suplai dunia bakal langsung terdampak,"jelasnya.

Kondisi ini diperparah kepanikan pasar nan mendorong lonjakan nilai lebih tinggi. Harga minyak nan sebelumnya berada di kisaran 62-70 dolar AS per barel sempat menembus nomor 100 dolar, dan sekarang tetap berada di level tinggi sekitar 90 dolar per barel.

Dampak Nyata bagi Indonesia

Bagi Indonesia, sebagai negara semi-produsen minyak, dampaknya signifikan. Produksi minyak domestik nan hanya berkisar 600-700 ribu barel per hari tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi nasional nan mencapai 1 juta barel per hari.

"Kita tetap defisit, sehingga kudu impor. Ketika nilai dunia naik, beban anggaran negara ikut meningkat," katanya.

Ia menambahkan pemerintah menghadapi dilema antara mempertahankan subsidi alias membebankan kenaikan nilai kepada masyarakat. Jika subsidi ditingkatkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bakal tertekan. Sebaliknya, jika nilai dinaikkan, inflasi meningkat dan berakibat pada daya beli masyarakat.

"Kalau ini terus berlangsung, bukan hanya sektor daya nan terdampak, tapi seluruh sektor ekonomi bakal ikut berfluktuasi," tambahnya.

Perlu Diplomasi Global

Faris menegaskan, solusi utama dari krisis ini adalah penghentian bentrok melalui jalur diplomasi. Ia mendorong Indonesia, khususnya berbareng negara-negara ASEAN, untuk aktif dalam upaya mediasi internasional.

"Tidak ada pihak nan betul-betul diuntungkan dari perang ini. Oleh lantaran itu, penyelesaian melalui diplomasi multilateral sangat krusial untuk memulihkan stabilitas ekonomi global," pungkasnya.

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News