Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.(Dok. Antara)
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut berakhirnya bentrok antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi mengurangi kebutuhan anggaran subsidi energi dalam anggaran pendapatan dan shopping negara (APBN).
Sebelumnya, pemerintah memperkirakan kebutuhan subsidi daya dapat membengkak hingga Rp90 triliun hingga Rp100 triliun akibat kenaikan nilai minyak bumi nan dipicu bentrok di Timur Tengah.
Namun, meredanya ketegangan antara AS dan Iran diperkirakan bakal mengurangi tekanan terhadap nilai minyak bumi sehingga kebutuhan subsidi dapat ditekan.
"Kan kemarin sebagian anggaran sudah kita sisihkan untuk subsidi. Sehingga, (dampak kesepakatan tenteram Iran-AS) bakal jauh berkurang (anggaran subsidi)," kata Purbaya di Jakarta, Senin (15/6).
Dengan adanya perkembangan terbaru mengenai rencana tenteram perang AS-Iran, Purbaya mengatakan penggunaan anggaran negara bisa dioptimalkan. Ruang fiskal nan sebelumnya disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan nilai daya akibat perang diperkirakan dapat dialihkan untuk mendukung beragam program prioritas pemerintah lainnya.
"Ini bakal memberi pembiayaan program-program lain nan dianggap krusial oleh presiden," kata bendaharawan negara.
Meski demikian, pemerintah tetap bakal mencermati perkembangan situasi sebelum memutuskan skema penyesuaian anggaran.
"Jadi, kita lihat seperti apa (potensinya) dan baru kita adjust," jelas Purbaya.
Diketahui, Iran mengumumkan telah memfinalisasi kesepakatan tenteram dengan Amerika Serikat nan menjadi dasar penghentian perang dan operasi militer di seluruh front, termasuk di Lebanon. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) pada Senin (15/6).
Iran menyatakan nota kesepahaman alias memorandum of understanding (MoU) dengan Amerika Serikat telah difinalisasi untuk mengakhiri perang dan operasi militer di seluruh front. Penandatanganan resmi dijadwalkan berjalan pada 19 Juni di Swiss. Selain itu, blokade laut terhadap Iran disebut bakal dihentikan sepenuhnya sesuai isi kesepakatan.
Dalam pernyataannya, SNSC menyebut Iran telah melewati fase negosiasi nan berat dan intensif dengan support rakyat serta abdi negara pertahanan negara. Naskah MoU mengenai penghentian perang juga disebut telah rampung pada 15 Juni.
Pengumuman SNSC tersebut muncul setelah Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sama-sama mengonfirmasi tercapainya kesepakatan penghentian perang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyambut perkembangan tersebut melalui platform Truth Social dan menyatakan persetujuannya terhadap pencabutan blokade Selat Hormuz di Iran.
Apabila penerapan kesepakatan melangkah sesuai rencana, langkah tersebut berpotensi menjadi titik krusial dalam upaya deeskalasi bentrok nan selama beberapa bulan terakhir mengguncang area Timur Tengah sekaligus memicu gejolak di pasar daya global. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·