Penyebab Megathrust Sampai Gempa Kerak Dangkal Kepung Jakarta-Jabar

Sedang Trending 53 menit yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa berkekuatan M4,3 mengguncang wilayah wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dan sekitarnya pada Selasa, 01 September 2026 pukul 17:53:11 WIB.

Hasil kajian BMKG menunjukkan, gempa bumi ini mempunyai episenter di koordinat 6,91 LS dan 107,10 BT, alias tepatnya berlokasi di darat pada jarak 10 km Barat Daya Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada kedalaman 4 km.

Menurut BMKG, gempa dipicu aktivitas Sesar Aktif. Gempa itu dirasakan penduduk di Sukabumi, Bandung, Sukaraja, hingga Jakarta. Menurut kesaksian warga, goyangan akibat gempa itu terasa signifikan.

Pascagempa itu, Sesar Lembang menjadi sorotan.

Apa dan di mana itu Sesar Lembang?

Menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Sesar Lembang adalah patahan aktif sekitar 29 km nan membentang dari Gunung Manglayang hingga Padalarang. Sebagai sesar aktif, keberadaannya mempunyai potensi menimbulkan gempa bumi andaikan terjadi pergerakan lempeng.

Lantas, apa hubungannya gempa nan mengguncang wilayah Jakarta-Jawa Barat dan sekitarnya?

Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengatakan, area Jakarta dan Jawa Barat secara tektonik berdiri di atas area transisi nan sangat aktif akibat subduksi Lempeng Indo-Australia nan menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

"Kompleksitas tatanan tektonik ini membentuk dua ancaman utama kegempaan," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (3/9/2026).

"Ancaman intraslab dan sesar darat aktif (crustal fault) nan mengepung wilayah daratan. Serta, ancaman megathrust di lepas pantai selatan Jawa," sambung Daryono.

Di daratan, jelasnya, Jakarta dan wilayah sekitarnya dipengaruhi oleh akumulasi regangan (strain) dari jaringan sesar aktif darat.

"Sesar Lembang di utara Bandung menjadi salah satu nan paling disorot lantaran mempunyai laju pergeseran (slip rate) sekitar 3-6 mm/tahun dengan potensi magnitudo hingga M6,8," ujarnya.

Namun, imbuh dia, ancaman tidak berakhir di situ.

Tatanan tektonik Jawa Barat bagian barat, sambung Daryono, juga diapit oleh Sesar Cimandiri, Sesar Baribis, hingga Sesar Cugenang, Cileunyi-Tanjungsari, Cipamingkis dan Garut Selatan (Garsela).

"Sesar Baribis, khususnya segmen Jakarta-Bekasi-Purwakarta, Subang hingga Kuningan dan Cirebon menyimpan potensi ancaman tinggi lantaran melintasi area dengan akumulasi populasi dan prasarana terbesar di Indonesia," ungkap dia.

"Gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dari sesar-sesar ini, meskipun magnitudonya sedang (M5,0-M6,5), dapat memicu guncangan kuat (high peak ground acceleration) dan amplify pengaruh lokal akibat lapisan aluvial lunak di cekungan Jakarta," terangnya.

Ancaman Megathrust Hingga Tsunami

Di sisi lain, ancaman megathrust turut mengintai wilayah Jakarta, juga Jawa Barat.

"Di area lepas pantai selatan, ancaman megathrust Selat Sunda membentang sebagai area subduksi dangkal nan menyimpan seismic gap. Zona ini berpotensi melepaskan gempa berinteraksi antar-lempeng (interplate) hingga skala magnitudo M8,7," katanya.

Dia menjelaskan, secara seismologi, periode ulang (recurrence interval) gempa skala raksasa di area subduksi ini terus melangkah seiring akumulasi daya tektonik nan belum terlepaskan secara signifikan dalam kurun waktu panjang.

"Jika rupture terjadi di area megathrust ini, kombinasi gelombang gempa berperiode panjang (long-period ground motion) dan potensi tsunami dapat memberikan akibat sistemik nan luas hingga ke wilayah daratan Jawa Barat dan Jakarta," ucap Daryono.

Interaksi sesar darat aktif dan area subduksi megathrust ini menegaskan potensi ancaman seismik di Jawa Barat dan Jakarta adalah keniscayaan geologi.

Pemahaman bakal potensi ancaman itu, tegas Daryono, kudu menjadi referensi kesiapsiagaan untuk diterapkan dalam mitigasi antisipasi musibah di Jakarta dan Jawa Barat, termasuk di Indonesia secara umum.

"Kesiapsiagaan struktur bangunan, mitigasi berbasis info mikrozonasi, serta pemahaman akibat kegempaan secara teknis menjadi langkah krusial dalam menghadapi dinamika tektonik aktif nan terus berjalan di bawah injakan kita," kata Daryono.

Sebelumnya, Daryono pun telah berulang kali merekomendasikan pentingnya peningkatan kewaspadaan dan mengambil pelajaran dari kejadian gempa, baik di Indonesia maupun di luar negeri, nan menimbulkan fatalitas parah akibat kerusakan bangunan.

Kata dia, krusial adanya audit ketat terhadap standar gedung tahan gempa, pemetaan akibat seismik nan mencakup sumber dalam-lempeng, serta penguatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi akibat sekunder seperti runtuhan material dan potensi kebakaran di area perkotaan padat.

Rekomendasi BMKG

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan langkah mitigasi dengan menempatkan sensor peringatan, edukasi ke masyarakat, mengecek secara berkala sistem peringatan awal nan sudah dihibahkan ke pemerintah daerah, hingga melakukan simulasi terhadap penduduk nan berada di area buta alias blind zone.

Secara terminologi, blind zone adalah wilayah di sekitar titik gempa bumi nan tidak sempat menerima peringatan dini. Ini disebabkan lantaran gelombang gempa sudah lebih dulu sampai namalain bergerak sangat sigap sebelum sistem mengirimkan peringatan.

"Kalau terlalu dekat dengan pusat gempa, waktu itu tidak cukup untuk menghindari guncangan," ujar BMKG dalam unggahan di akun Instagramnya.

Atas dasar ini, BMKG meminta masyarakat jangan menunggu peringatan. Jika terasa guncangan kuat, maka lakukan DROP-COVER-HOLD ON untuk melindungi diri.

Sesuai namanya, DROP berfaedah merunduk agar tidak jatuh akibat goyangan kuat. Lalu, COVER berfaedah melindungi kepala dan leher sembari mencari perlindungan di bawah meja alias barang kokoh agar terhindari dari barang jatuh. Sementara HOLD ON berfaedah memegang erat penyangga alias meja tempat berlindung agar tetap aman.

"Dengan menerapkan langkah ini, kita bisa melindungi diri dari ancaman paling umum saat gempa, ialah tertimpa, terjatuh, alias terbentur benda. Keselamatan bisa kita upayakan. Jadi, biasakan diri untuk selalu ingat Drop, Cover, and Hold setiap kali terjadi gempa," tegas BMKG.

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News