Ilustrasi.(Magnific)
WABAH mematikan nan melibatkan hantavirus dilaporkan melanda kapal pesiar asal Belanda nan berlayar dari Argentina di Samudra Atlantik. Berdasarkan info Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejauh ini tercatat 11 orang terinfeksi, dengan tiga di antara mereka dinyatakan meninggal dunia. Meskipun belum ada kasus tambahan nan dilaporkan di wilayah daratan, otoritas kesehatan mengambil langkah pencegahan nan sangat ketat.
Sebanyak 18 penumpang asal Amerika Serikat nan berada di kapal tersebut hingga 10 Mei sekarang menjalani masa karantina di University of Nebraska Medical Center. nan menarik perhatian publik adalah lama karantina nan ditetapkan selama 42 hari namalain jauh lebih lama dibandingkan karantina standar 14 hari nan diterapkan pada masa awal pandemi covid-19 tahun 2020.
Mengenal Virus Andes: Hantavirus nan Menular Antarmanusia
Hantavirus umumnya merupakan family virus nan dibawa oleh hewan pengerat (tikus) melalui urine, kotoran, dan air liur. Namun, jenis nan menyebar di kapal pesiar ini diidentifikasi sebagai Virus Andes, jenis asal Amerika Selatan nan mempunyai karakter unik dibandingkan jenis hantavirus lain.
Fakta Medis: Virus Andes adalah satu-satunya jenis hantavirus nan diketahui dapat menular dari manusia ke manusia. Penularannya terjadi melalui kontak dengan sekresi tubuh, bukan melalui udara (airborne) seperti virus korona alias campak.
Gejala awal jangkitan Virus Andes menyerupai flu, seperti demam, kelelahan, dan nyeri otot. Namun, dalam kasus nan parah, pasien dapat mengalami Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), kondisi paru-paru mengalami peradangan dahsyat dan terisi cairan, nan menyebabkan kesulitan bernapas akut.
Alasan Medis di Balik Karantina 42 Hari
Durasi karantina nan mencapai enam minggu ini didasarkan pada masa inkubasi virus nan tidak lazim. Dan Shirley, master pencegahan jangkitan dari UW Health, menjelaskan bahwa Virus Andes mempunyai jendela waktu inkubasi antara 4 hingga 42 hari sebelum indikasi muncul.
Beberapa argumen masa inkubasi dan karantina ini begitu lama meliputi:
- Replikasi Lambat: Virus ini menginfeksi dan bereplikasi di sel endotel nan melapisi pembuluh darah kapiler dan limfatik. Proses ini melangkah lambat pada tahap awal.
- Risiko Penularan Gejala Awal: Penularan diduga mulai terjadi segera setelah seseorang menunjukkan gejala. Karena jendela waktu antara munculnya indikasi dan kondisi parah sangat sempit, isolasi awal menjadi krusial.
- Standar Maksimum: Otoritas kesehatan menetapkan masa karantina berasas periode inkubasi maksimum nan pernah tercatat untuk memastikan tidak ada pembawa virus (carrier) nan lolos ke masyarakat.
Risiko Global dan Pencegahan
Meskipun pandemi ini mematikan, para mahir menekankan bahwa akibat bagi masyarakat umum tetap rendah. Luis Ostrosky, kepala penyakit menular di UTHealth Houston, menyatakan bahwa paparan ini sangat terlokalisasi pada satu kapal pesiar dan semua perseorangan nan berisiko telah diidentifikasi.
Sebagai langkah pencegahan umum terhadap hantavirus, masyarakat diimbau untuk:
- Menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya.
- Menutup celah alias lubang di rumah nan bisa menjadi akses masuk hewan pengerat.
- Menggunakan masker dan disinfektan saat membersihkan area nan terkontaminasi kotoran tikus.
Wabah ini menjadi pengingat bagi bumi kesehatan dunia bahwa mobilitas manusia nan tinggi dapat membawa virus dari satu bagian bumi ke bagian bumi lain hanya dalam hitungan hari, menuntut kesiapsiagaan sistem karantina nan adaptif terhadap karakter unik setiap patogen. (Washington Post/I-2)
| Masa Karantina | Hingga 42 Hari | Umumnya 14 Hari |
| Metode Penularan | Sekresi tubuh (Manusia ke Manusia) | Droplet & Airborne |
| Inang Utama | Hewan Pengerat (Rodent) | Zoonotik (Diduga Kelelawar) |
English (US) ·
Indonesian (ID) ·