Penyebab Fenomena Bediding di Malang Raya dan Dampaknya Menurut BMKG

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Penyebab Fenomena Bediding di Malang Raya dan Dampaknya Menurut BMKG BMKG ungkap penyebab suhu dingin ekstrem alias bediding di Malang Raya nan mencapai 17 derajat Celsius.(Dok. MI)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur memberikan penjelasan resmi mengenai kejadian bediding alias penurunan suhu udara nan signifikan di wilayah Malang Raya. Fenomena suhu dingin nan terjadi di tengah musim tandus ini diprediksi bakal berjalan hingga September 2026.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul, menjelaskan bahwa bediding merupakan siklus musiman nan dipicu oleh aktifnya angin Monsun Timuran. Angin ini membawa massa udara dari Benua Australia nan berkarakter kering dan dingin menuju wilayah Indonesia.

"Bediding ditandai dengan aktifnya angin monsun timuran nan sifatnya kering dan dingin. Kondisi ini diperparah dengan minimnya tutupan awan dan rendahnya intensitas hujan selama musim kemarau," ujar Linda dilansir dari Antara, Kamis (4/6).

Analisis Suhu Udara Malang Raya

Berdasarkan info pengamatan BMKG, suhu udara di Malang Raya mengalami penurunan drastis, terutama pada awal hari. Berikut adalah rincian rata-rata suhu udara selama kejadian bediding berlangsung:

Waktu Pengamatan Rentang Suhu
Dini Hari (03.00 - 06.00 WIB) 17°C – 18°C
Malam Hari 20°C – 21°C
Pagi Hari (07.30 WIB) 22°C – 25°C
Siang Hari (12.00 - 14.00 WIB) 27°C – 29°C

Waspada Dampak pada Pertanian dan Peternakan

BMKG memperingatkan bahwa kejadian ini tidak hanya berakibat pada kenyamanan manusia, tetapi juga sektor produktif. Di wilayah dataran tinggi, munculnya embun es (frost) menjadi ancaman serius bagi tanaman hortikultura, sayuran, dan kembang lantaran dapat menyebabkan kerusakan jaringan tanaman.

Di sektor peternakan, suhu dingin nan ekstrem dapat memicu stres pada hewan ternak. Kondisi ini jika tidak diantisipasi dapat menurunkan keimunan hewan, memicu serangan penyakit, hingga menyebabkan kematian ternak.

Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh dengan menggunakan busana hangat saat beraktivitas di malam dan pagi hari, serta bagi para petani dan peternak diharapkan melakukan langkah mitigasi untuk meminimalisir kerugian akibat suhu ekstrem. (Ant/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia