Penyakit Mental BPD Banyak Dialami Gen-Z, Benarkah?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi kesehatan mental ibu alias wanita alami depresi. Foto: aslysun/Shuttterstock

Kesehatan mental menjadi topik nan selalu hangat diperbincangkan, terutama di kalangan Gen Z. Isu ini dianggap sangat krusial lantaran berpengaruh besar terhadap kualitas hidup dan produktivitas manusia sehari-hari. Pengalaman masa lalu, seperti kehilangan, pelecehan, alias peristiwa traumatis sering dipandang sebagai pemicu utama terganggunya kondisi mental.

Selain itu, beberapa aspek lain juga berperan, misalnya kurangnya kasih sayang dan support emosional, kekerasan dalam rumah tangga alias lingkungan, serta kondisi hidup nan penuh tekanan. Pikiran nan terus-menerus "berisik" alias sering disebut dengan overthinking, juga kerap memperburuk kondisi mental seseorang.

Bahkan pola asuh nan terlalu terlalu keras dapat berakibat negatif lantaran membikin perseorangan kurang mempunyai keahlian mengatasi stres. Semua aspek tersebut saling berinteraksi, sehingga memicu gangguan mental nan serius jika tidak dikelola dengan baik. Lalu, sebenarnya apa itu BPD (Borderline Personality Disorder)? apa pemicu dari munculnya penyakit mental tersebut? dan gimana langkah kita mengatasinya?

Apa Itu BPD (Borderline Personality Disoder)?

BPD (Borderline personality disorder) adalah gangguan mental serius nan ditandai dengan ketidakstabilan emosi, impulsivitas, dan kesulitan membangun hubungan interpersonal. Laporan literatur psikiatri dunia dalam jurnal medis The Lancet (Lieb et al.) nan mencatat nomor komparatif gangguan mental BPD mencapai 1,6-5,9%. Ketidakstabilan emosi merupakan salah satu karakter utama nan sangat sering ditemukan pada perseorangan dengan penyakit mental BPD.

Kondisi ini ditandai oleh adanya kesulitan dalam mengendalikan dan menyesuaikan respons emosional terhadap beragam situasi nan dihadapi sehari-hari. Akibatnya, penderita dapat mengalami ledakan emosi secara mendadak, kesulitan dalam menghadapi tekanan alias stres, serta perubahan suasana hati nan sangat sigap dan ekstrem dalam waktu nan relatif singkat.

Hasil studi mengungkapkan bahwa nyaris 90% penderita BPD mengalami gangguan dalam izin emosi, sehingga kondisi tersebut memberikan pengaruh signifikan terhadap hubungan sosial dan keahlian mereka di lingkungan kerja. Ketidakmampuan dalam mengelola emosi ini turut berakibat pada relasi interpersonal, karena perseorangan nan mengalaminya sering kali merasa tidak mendapatkan pemahaman alias justru mengalami penolakan dari orang-orang terdekat.

Perilaku impulsif juga menjadi salah satu karakter nan kerap muncul pada perseorangan dengan penyakit BPD. Bentuk impulsivitas ini dapat tercermin melalui tindakan seperti penyalahgunaan zat, perilaku melukai diri sendiri, hingga percobaan bunuh diri.

Berdasarkan sejumlah penelitian, sekitar 60% hingga 80% penderita BPD memperlihatkan perilaku impulsif nan berpotensi membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Di Indonesia, info dari Rumah Sakit Jiwa juga menunjukkan bahwa sekitar 30% pasien dengan gangguan kepribadian menjalani perawatan lantaran tindakan bunuh diri nan dilakukan secara berulang.

Perilaku impulsif tersebut umumnya dipicu oleh ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi negatif, seperti kemarahan dan frustrasi. Kondisi ini dapat menyeret penderita ke dalam pola nan rawan dan justru memperburuk kesehatan mental mereka, misalnya melalui ketergantungan pada unsur adiktif alias penarikan diri dari lingkungan sosial.

Pemicu Munculnya BPD (Borderline Personality Disoder)

Peran genetik pada BPD tetap belum sepenuhnya dapat dipastikan, namun seseorang nan mempunyai personil family dekat dengan gangguan ini, condong mempunyai akibat nan lebih tinggi untuk mengalaminya. Risiko tersebut biasanya tidak muncul dari aspek genetik saja, melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungan, seperti pengalaman traumatis, hubungan family nan kurang sehat, dan pola asuh nan buruk.

Studi longitudinal twin study oleh Bornovalova dkk. (2009) nan berjudul "Stability, change, and heritability of borderline personality disorder traits from adolescence to adulthood", mengatakan bahwa ciri-ciri pada BPD dapat diwariskan dalam tingkat nan sedang, dan kecenderungannya mulai menurun pada rentang usia 14 hingga 24 tahun.

Faktor psikososial pada BPD mencakup lingkungan dan pengalaman traumatis nan dialami pada masa kanak-kanak. Banyak penderita BPD pernah mengalami hal-hal nan menyakitkan, seperti pelecehan, pengabaian, kekerasan, alias penelantaran saat tetap kecil.

Trauma ini terbukti berkedudukan dalam perkembangan disosiasi dan dapat berasosiasi dengan aspek akibat BPD lainnya, seperti aspek genetik, neurobiologis, serta pengalaman hidup nan penuh tekanan. Pengalaman nan tidak menyenangkan sejak mini juga dapat menjadi tekanan psikologis nan kemudian memunculkan indikasi BPD ketika seseorang beranjak dewasa.

Perkembangan BPD juga dipengaruhi oleh kondisi emosi nan tidak sehat sejak masa kecil. Hal ini sering berasal dari lingkungan keluarga, terutama dari hubungan antara orang tua dan anak, langkah orang tua mendidik, serta suasana rumah nan tercipta.

Jika anak tumbuh dalam lingkungan seperti ini, dia bisa kesulitan memahami, mengatur, alias menahan emosinya sendiri. Akibatnya, anak condong mengalami halangan emosional dan perubahan suasana hati nan sangat tidak stabil.

Bagaimana Cara Mengatasi Masalah Mental Ini?

Untuk mendapatkan pemeriksaan Borderline Personality Disorder (BPD) nan lebih tepat, master biasanya bakal melakukan beberapa pemeriksaan, seperti wawancara secara mendalam, pertimbangan psikologis melalui kuesioner, meninjau riwayat kesehatan, serta membahas tanda dan indikasi nan dialami pasien.

Namun, pemeriksaan BPD umumnya diberikan kepada orang dewasa, bukan anak-anak alias remaja, lantaran indikasi pada usia tersebut tetap bisa berubah alias menghilang seiring perkembangan mereka.

Pengobatan BPD pada umumnya dilakukan melalui psikoterapi, meskipun dalam beberapa kasus master juga dapat memberikan penanganan tambahan. Jika kondisi pengidap membahayakan keselamatan dirinya, misalnya lantaran percobaan bunuh diri, master bisa menyarankan rawat inap.

Perawatan ini bermaksud membantu pengidap mengelola emosi, mengatasi kesulitan nan dialami, dan memperbaiki kualitas hidup. Beberapa jenis terapi nan sering digunakan adalah Dialectical Behavior Therapy (DBT), nan membantu mengatur emosi, menahan tekanan, dan memperbaiki hubungan sosial. Mentalization-Based Therapy (MBT), nan mengajarkan pengidap untuk berpikir sebelum bereaksi dan memahami pikiran serta perasaannya sendiri. Serta Schema-Focused Therapy, nan membantu mengenali kebutuhan masa mini nan belum terpenuhi dan mengubah pola perilaku negatif menjadi lebih sehat.

Apa Benar Penyakit Ini Sering Dialami oleh Gen-Z?

Tidak ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa BPD (Borderline Personality Disorder) “sering dialami” Gen Z sebagai kebenaran umum. Namun, rumor kesehatan mental pada Gen Z meningkat dan ada kejadian self-diagnose BPD di media sosial.

Self-diagnose adalah upaya seseorang mendiagnosis dirinya sendiri berasas info nan diperoleh secara berdikari dari sumber nan tidak profesional, seperti teman, keluarga, internet, alias pengalaman masa lalu. Dalam proses ini, seseorang menempatkan dirinya pada posisi sebagai orang sakit.

Biasanya, perihal ini dilakukan lantaran rasa mau tahu terhadap indikasi nan dirasakan, alias lantaran indikasi tersebut dianggap sesuai dengan perilaku dan kondisi dirinya. Selain itu, ada juga orang nan melakukan self-diagnose lantaran takut menerima pemeriksaan penyakit serius setelah memeriksakan diri ke dokter.

Salah satu gangguan kesehatan mental nan sering menjadi bahan self-diagnose adalah Borderline Personality Disorder (BPD). BPD juga sering dibahas di media sosial, termasuk TikTok. Video nan membahas indikasi alias pengalaman mengenai BPD bisa memberi pengetahuan dan support bagi orang nan merasa terasing alias tidak dipahami.

Namun, ada akibat info tersebut disederhanakan alias apalagi tidak akurat, sehingga dapat memengaruhi langkah seseorang memahami kondisi dirinya.

Self-diagnose berasas info dari media sosial tidak hanya bisa menyesatkan, tetapi juga dapat membikin seseorang mengabaikan penanganan ahli nan sebenarnya dibutuhkan. Maka, gangguan ini perlu didiagnosis dan ditangani oleh ahli kesehatan mental, lantaran penanganan nan tidak tepat justru bisa memperburuk kondisi pasien.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan