
Pentingnya Merasa Cantik Secara Sehat bagi Remaja Perempuan. (Ilustrasi: Freepik)
SIAPA yang tidak mau tampil cantik? Pemikiran tentang corak tubuh nan ideal dan tampilan tubuh bagi remaja wanita ketika dilihat oleh orang-orang di sekitarnya menjadi sebuah perihal nan penting.
Menurut Erik Erikson seorang tokoh Psikologi, perkembangan usia remaja mempunyai tantangan dalam pembentukan identitas diri nan biasanya terjadi pada usia 12-18 tahun alias hingga awal 20-an.
Pada fase ini, remaja secara aktif mencari jawaban atas pertanyaan "Siapa saya?", Bagaimana saya perlu tampil dan seterusnya.
Perubahan bentuk nan sigap pada perkembangan remaja, khususnya pada remaja perempuan, seringkali berakibat pada gimana mereka memandang kondisi tubuh dan rasa percaya diri nan mereka miliki.
Remaja wanita nan mempunyai persepsi terhadap tubuh nan positif bakal memengaruhi perkembangan emosional, sosial, dan bentuk mereka selama masa transisi pubertas nan penuh perubahan.
Saat ini remaja wanita tidak hanya perlu tampil elok dan sempurna di lingkungan sekolah namun juga gimana mereka tampil prima di media sosial, seperti nan kita lihat tekanan tentang standar kecantikan ideal sering kali menimbulkan ketidakpuasan diri nan berakibat serius pada kesehatan mental.
Tampilan fitur-fitur filter di media sosial secara instan bisa membikin remaja langsung tampil elok di media sosial, namun menjadi berakibat kurang percaya diri ketika mereka perlu berinteraksi langsung dengan orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut tentunya bakal berakibat padai kesehatan mental remaja perempuan.
Definisi dan Pentingnya Body Image pada Remaja Perempuan
Body image adalah persepsi subjektif seseorang terhadap bentuk, ukuran, dan penampilan fisiknya, nan mencakup aspek emosional, kognitif, dan perilaku. Pada remaja wanita usia 11-17 tahun, fase ini krusial lantaran pubertas menyebabkan perubahan bentuk seperti pertumbuhan payudara, pinggul, dan penambahan lemak tubuh, nan sering bertentangan dengan gambaran ideal langsing dari media. Penelitian dari Andrew, R., Tiggemann, M., & Clark, L. (2016) menjelaskan bahwa Persepsi seseorang terhadap tubuh berakibat jangka panjang pada aspek psikologis, sosial dan kesehatan mental.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·