Pentingnya Etika Sains dalam Biologi Modern

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pentingnya Etika Sains dalam Biologi Modern (Dok. Pribadi)

BEBERAPA waktu lampau seorang mahasiswa bertanya kepada saya: berapa nilai satu spesies? Saya tertegun. Pertanyaan itu membawa saya pada Oscar Wilde, nan pernah menyindir bahwa orang sinis adalah mereka nan tahu nilai segala hal, tetapi buta pada nilainya. Di tengah gegap gempita biologi modern, sindiran itu terasa makin getir.

Kita hidup pada era ketika urutan DNA manusia dapat dibaca dalam hitungan jam. Bandingkan dengan Human Genome Project yang dulu menyantap waktu 13 tahun. Lewat Preimplantation Genetic Diagnosis, embrio apalagi bisa disaring untuk memilih karakter bentuk tertentu, seolah hidup adalah menu restoran nan tinggal dipesan. Namun, di kembali kecanggihan itu ada neraca nan bolong. Pada saat nan sama, manusia sedang memimpin gelombang kepunahan massal keenam. Kali ini pemicunya bukan meteor, melainkan tangan kita sendiri.

EKSTERNALITAS YANG TAK TERCATAT

Dalam pengetahuan ekonomi, kita mengenal eksternalitas: biaya nan ditanggung pihak lain, tetapi tidak pernah masuk ke dalam pembukuan si pengambil keputusan. Kemajuan bioteknologi kerap dipuja sebagai kemenangan logika budi. Akan tetapi, jika sejarahnya dibedah, fondasinya tidak selalu bersih.

Ingatlah sel HeLa. Pada 1951, Henrietta Lacks, seorang wanita Afrika-Amerika, kehilangan kewenangan atas sel tubuhnya sendiri. Tanpa izin, sel kanker rahimnya diambil lantaran kemampuannya membelah secara nyaris abadi. Sel itu kemudian menjadi tambang emas farmasi, dari vaksin polio sampai riset covid-19. Keluarganya sendiri lama tak tersentuh kemakmuran nan justru lahir dari tubuh mereka.

Inilah eksternalitas etika nan tak pernah dicatat. Tuskegee, studi sifilis nan membiarkan pasien tanpa pengobatan demi data, adalah peringatan serupa. Sains tanpa bioetika mudah beranjak dari pencerahan menjadi eksploitasi. Objektivitas, begitu kehilangan nurani, dengan mudah berubah menjadi alibi.

Ada ironi nan tajam di sini. Kita sibuk membayangkan bayi desainer, sementara pada waktu nan sama menghancurkan keragaman genetik nan sesungguhnya. Di Sumatra dan Kalimantan, rimba hujan nan menjadi rumah orang utan dan harimau dikonversi menjadi kebun sawit. Kita memperlakukan genom manusia seolah satu-satunya modal berharga, sembari mengabaikan jasa ekosistem. Penyerbukan lebah, misalnya, nan nilainya miliaran dolar.

Dalam bahasa neraca, kita sedang melikuidasi aset biologis bumi. Kita memetik pertumbuhan jangka pendek, tetapi menimbun defisit ekologis jangka panjang. Persoalannya, defisit semacam itu tidak bisa direstrukturisasi. Spesies nan punah tidak bisa diterbitkan ulang seperti obligasi. Di sinilah letak kekeliruan langkah kita menghitung. Pasar giat memberi nilai pada kayu nan ditebang, tetapi membisu terhadap rimba nan tetap berdiri.

KETIKA ALAM MENGOREKSI

Kesalahan kita nan paling fatal barangkali adalah menganggap perkembangan sebagai urusan masa silam nan melangkah lambat. Padahal seleksi alam bekerja secepat kilat di bumi mikroskopis. Penyalahgunaan antibiotik melahirkan superbug seperti MRSA. Bakteri itu tidak bermutasi lantaran antibiotik. Mereka memperkuat lantaran kita giat membunuh nan lemah dan menyisakan nan paling kuat untuk berkembang biak. Tekanan seleksi itu kita ciptakan dengan tangan sendiri. Dengan kata lain, resistansi bukan kebetulan, melainkan nilai atas kelalaian nan kita tanggung bersama.

Bila pola ini diteruskan, kita berisiko kembali ke era pra-antibiotik, ketika jangkitan sederhana bisa menjadi vonis mati. Alam, pada akhirnya, selalu punya langkah melakukan koreksi atas kecerobohan kita.

Biologi memberi kita perangkat nan luar biasa, dari kloning molekuler hingga terapi gen. Akan tetapi, pengetahuan tanpa kebijakan adalah resep bencana. Reinhold Niebuhr pernah menulis, kapabilitas manusia untuk melakukan setara membikin kerakyatan menjadi mungkin, dan kecenderungan manusia melakukan sewenang-wenang membikin kerakyatan menjadi perlu. Kalimat itu, bagi saya, bertindak pula untuk sains. Kemampuan kita membaca kode kehidupan membikin kemajuan menjadi mungkin. Kecenderungan kita menyalahgunakannya membikin etika menjadi wajib.

Karena itu, pertanyaan bagi intelektual dan kreator kebijakan hari ini bukan lagi ‘apa nan bisa kita lakukan’, melainkan ‘apa nan semestinya kita lakukan demi keberlangsungan seluruh kehidupan’. Tanpa komitmen pada bioetika dan keanekaragaman hayati, sejarah perkembangan bisa mencatat manusia bukan sebagai puncak kecerdasan, melainkan sebagai anomali nan memusnahkan dirinya sendiri lewat arogansi.

Sudah waktunya kita berakhir memandang alam sebagai komoditas, dan mulai memperlakukannya sebagai konstitusi nan kudu dipatuhi. Maka, kembali pada pertanyaan mahasiswa tadi. Harga satu jenis mungkin nol di pasar. Namun nilainya, seperti kata Wilde, justru tak terhingga.

Kita hendak menjadi penjaga kehidupan, alias sekadar fosil nan kelak dipelajari peradaban berikutnya? Jawabannya tidak ditentukan oleh secanggih apa laboratorium kita, melainkan oleh sejauh mana kebijakan hari ini berani meletakkan kehidupan di atas keuntungan.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia