Penjualan Mobil Eropa di RI Makin Seret, Ini Reaksi Bos Toyota

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan pasar otomotif Indonesia tak hanya diwarnai perebutan volume penjualan, tetapi juga perbedaan strategi upaya masing-masing merek. Di tengah kekuasaan merek-merek Jepang dan meningkatnya persaingan dari China, sejumlah merek mobil Eropa tetap mencatatkan penjualan nan sangat mini di pasar domestik.

Berdasarkan info Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Audi nan berasal dari Jerman hanya membukukan penjualan dua unit pada September 2026, disusul Volvo Cars dan Scania nan berasal dari Swedia masing-masing menjual 5 serta 6 unit, baik dari sisi pengedaran mobil dari pabrik ke dealer alias wholesales maupun penjualan dari dealer ke konsumen alias retail sales.

Angka ini jauh di bawah merek dengan volume penjualan besar seperti Toyota, nan bisa menjual puluhan ribu unit dalam sebulan. Bos Toyota menilai, kecilnya volume penjualan merek-merek Eropa bukan kejadian baru di pasar otomotif Indonesia. Karakter upaya merek tersebut mempunyai perbedaan dibandingkan produsen nan mengincar pasar massal.

"Dari dulu Eropa juga penjualannya tidak besar, tetapi untungnya besar," kata Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (16/10/2026).

Merek-merek Eropa selama ini banyak bermain di segmen premium dengan nilai kendaraan nan relatif tinggi. Strategi tersebut membikin pendekatan bisnisnya berbeda dari merek nan mengandalkan penjualan dalam jumlah besar untuk menjangkau konsumen nan lebih luas.

Suasana visitor GIIAS 2019 di Ice BSD, Tangerang, Banten. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)Suasana visitor GIIAS 2019 di Ice BSD, Tangerang, Banten. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Suasana visitor GIIAS 2019 di Ice BSD, Tangerang, Banten. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

"Eropa itu dari dulu kan high-end semua," ujar Nandi.

Di tengah perbedaan strategi tersebut, persaingan tetap menjadi bagian dari dinamika industri otomotif. Bagi produsen, kondisi pasar bukan hanya ditentukan oleh keahlian menjual kendaraan, tetapi juga oleh lingkungan upaya nan memungkinkan setiap pemain menjalankan strategi masing-masing.

"Kalau kita memandang kejuaraan itu selalu positif. Kita melihatnya secara positif. nan kita mau itu kejuaraan nan fair, jadi kebijakannya juga kudu fair," kata Nandi.

Persaingan nan sehat menjadi krusial ketika industri otomotif Indonesia menghadapi perubahan peta persaingan, termasuk kehadiran pemain baru dan perubahan kebijakan nan memengaruhi keputusan investasi. Kepastian berupaya menjadi salah satu aspek nan menentukan keberlanjutan industri otomotif dalam jangka panjang.

"Yang paling rawan sebenarnya adalah ketika penanammodal nan sudah ada di suatu negara keluar. Kalau sudah keluar, mereka tidak bakal pernah kembali. Itu nan menjadi perhatian kita," ujar Nandi.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑