Pengusaha Konveksi Tahan-tahan PHK, Tapi Kondisinya Sudah Megap-Megap

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Lemahnya daya beli ditambah pelemahan rupiah menambah tekanan bagi industri mini dan menengah (IKM) di dalam negeri. Kalangan pengusaha mengklaim memang saat ini belum melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), namun ruang memperkuat mereka semakin sempit apalagi nilai bahan baku naik.

"Hingga saat ini IKM belum melakukan PHK. Kami tetap bertahan," kata Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman kepada CNBC Indonesia, Kamis (11/6/2026).

Tekanan mulai terasa sejak gejolak geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan beragam komoditas bahan baku. Situasi tersebut diperparah oleh penguatan dolar AS hingga sempat di atas Rp 18.000/US$ nan membikin biaya produksi semakin membengkak.

"Sejak bentrok Iran-Amerika, nilai bahan baku sudah naik sampai 20%. Kondisi makin berat lantaran dolar sekarang menembus Rp18.000," ujarnya.

Ilustrasi Konveksi. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)Ilustrasi Konveksi. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki) Foto: Ilustrasi Konveksi. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)

Di tengah kenaikan biaya produksi, pelaku upaya mini berambisi pemerintah tidak hanya konsentrasi pada stabilitas makroekonomi, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi sektor riil tetap berjalan. Apalagi tantangan nan dihadapi pelaku upaya lokal bukan hanya persoalan kurs dan biaya produksi. Persaingan dengan produk impor murah juga menjadi ancaman nan terus menggerus daya saing upaya dalam negeri.

"Sudah saatnya pemerintah melakukan revitalisasi UMKM dan IKM secara serius. Kalau UMKM terus dihadapkan pada banjir peralatan impor murah, kami tidak bakal kuat. Lama-lama bisa terjadi penutupan usaha," tegasnya.

Namun, ketahanan tersebut mempunyai batas. Apabila kondisi upaya terus memburuk tanpa adanya langkah nyata dari pemerintah, dampaknya berpotensi meluas ke sektor ketenagakerjaan.

"Tapi jika pemerintah terlambat merespons dan tidak turun memandang kondisi lapangan, saya cemas pengangguran bakal makin bertambah," katanya.

Nandi menegaskan ada tiga langkah konkret nan dinilai mendesak untuk dilakukan pemerintah agar industri mini dan menengah tetap memperkuat di tengah tekanan ekonomi saat ini.

"Kuncinya pemerintah kudu mau mendengar pelaku upaya mini di bawah. Kami minta tiga perihal nyata, pertama jaga pasar domestik agar produk lokal punya ruang tumbuh. Kedua, penegakan norma dan pengawasan ketat di Bea Cukai agar peralatan impor terlarangan tidak membanjiri pasar. Ketiga, platform e-commerce kudu berpihak ke produk lokal dan tegas melarang peralatan impor terlarangan masuk lewat penjualan online," pungkasnya.

(fys/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News