Pengorbanan Prajurit Perempuan AS Tertinggi dalam Perang Iran: Kisah Ashley Pruitt dan Nicole Amor

Sedang Trending 49 menit yang lalu
 Kisah Ashley Pruitt dan Nicole Amor Ilustrasi.(Magnific)

SEIRING dengan perkembangan peperangan modern, wajah pengorbanan di medan tempur sekarang mengalami perubahan signifikan. Dalam bentrok nan pecah dengan Iran sejak akhir Februari lalu, proporsi prajurit wanita Amerika Serikat nan terluka alias gugur dalam tugas mencapai nomor tertinggi dibandingkan perang-perang sebelumnya di Irak dan Afganistan.

Data Pentagon menunjukkan pergeseran statistik nan mencolok. Jika pada perang Irak dan Afganistan wanita mencakup sekitar 2 persen dari total korban tempur, dalam bentrok dengan Iran saat ini, wanita menyumbang 12 persen dari korban luka (47 dari 405 orang) dan 23 persen dari total prajurit nan gugur (3 dari 13 orang).

Kisah Ashley Pruitt: Dedikasi di Angkasa

Salah satu sosok nan gugur adalah Sersan Teknis Ashley Pruitt, 34. Ia kehilangan nyawanya pada Maret setelah tabrakan di udara antara dua pesawat tanker pengisi bahan bakar KC-135 di atas wilayah Irak. Tragedi ini terjadi di hari-hari awal perang saat lampau lintas udara militer di Timur Tengah sedang sangat padat.

Ashley dikenal sebagai boom operator nan andal, tugas krusial nan bertanggung jawab menyambungkan saluran bahan bakar ke jet tempur di tengah penerbangan. "Dia sangat mencintai tanggung jawab dan dinamika menjadi bagian dari kru," kenang suaminya, Greg Pruitt. Ashley meninggalkan dua anak, Emilia, 3, dan Oliver, 12.

Statistik Korban Prajurit Perempuan:

  • Perang Irak/Afganistan: 2% dari total korban tempur.
  • Konflik Iran (2026): 23% dari total prajurit nan gugur (3 dari 13 orang).
  • Prajurit nan Gugur: Ashley Pruitt, 34, Nicole Amor, 39, dan Ariana Savino, 31.

Nicole Amor dan Pesan Girl Power

Master Sersan Nicole Amor, 39, juga menjadi bagian dari statistik memilukan ini. Ia gugur berbareng lima prajurit lain pada 1 Maret ketika drone Iran menghantam pangkalan mereka di Kuwait. Sebagai logistikus Angkatan Darat, Nicole bertanggung jawab atas pergerakan pasokan dan peralatan unitnya.

Suaminya, Joey Amor, mengenang Nicole sebagai ibu nan luar biasa bagi Adeline, 9, dan Owen, 18. Nicole sering mengajarkan nilai kekuatan kepada putrinya melalui permainan sederhana, Girl Power, saat menunggu lampu merah berubah hijau. "Itu membikin putri saya merasa lebih kuat dan selaras dengan jati dirinya," ujar Joey dengan emosional.

Mengapa Risiko Prajurit Perempuan Meningkat?

Elisa Cardnell, presiden Service Women’s Action Network, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah korban wanita tidaklah mengejutkan. Ada dua aspek utama nan mendasarinya:

  1. Garis Depan nan Meluas: Ketergantungan Iran pada drone serang dan rudal jarak jauh membikin seluruh akomodasi AS di Timur Tengah sekarang berada di garis depan, tanpa memandang posisi administratif alias tempur.
  2. Keterbukaan Posisi Tempur: Sejak militer AS membuka seluruh posisi tempur bagi wanita 10 tahun lalu, semakin banyak wanita nan mengisi pos di infanteri, kavaleri, dan operasi unik nan mempunyai akibat paparan tempur tinggi.

Kehilangan ini terjadi di tengah tinjauan besar-besaran oleh para pemimpin politik di Pentagon untuk mengevaluasi apakah semua peran militer kudu tetap terbuka bagi perempuan. Namun bagi family nan ditinggalkan, seperti Greg Pruitt dan Joey Amor, pengabdian istri mereka telah melampaui perdebatan politik tersebut.

Menjelang peringatan Memorial Day, kisah Ashley dan Nicole menjadi pengingat nyata bakal keberanian prajurit wanita nan sekarang berdiri di barisan terdepan pertahanan negara, memberikan pengorbanan tertinggi demi tugas nan mereka cintai. (Washington Post/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia