Jakarta, CNBC Indonesia - Para intelektual mengembangkan teknologi pendingin baru nan berpotensi mengurangi ketergantungan pada refrigeran berbasis hydrofluorocarbon (HFC) alias freon.
Teknologi ini memanfaatkan garam sebagai komponen utama dalam sistem pendingin, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.
Berdasarkan laporan IFL Science nan dikutip Minggu (26/7/2026), sistem pendingin pada umumnya menggunakan cairan unik penghantar panas.
Cairan tersebut kemudian diuapkan menjadi gas dan dialirkan melalui sistem tertutup, sebelum dikondensasikan kembali menjadi cairan untuk mengulangi proses pendinginan.
Proses ini sangat efektif sehingga menjadi teknologi standar untuk kulkas, pendingin ruangan (AC), hingga dispenser air minum. Permasalahannya, material nan digunakan itu menyimpan ancaman bagi lingkungan.
Peneliti asal Lawrence Berkeley National Laboratory dari University of California, Berkeley mengembangkan langkah baru untuk menyerap dan memindahkan daya panas. Model nan mereka gunakan memanfaatkan langkah daya tersimpan dan dilepas saat material berubah bentuk, contohnya seperti saat es berubah menjadi air.
Jika suhu ruangan naik, es bakal mencair. Pada saat nan sama, es nan mencair menyerap panas dari sekitarnya sehingga membikin ruangan menjadi dingin.
Untuk mencari pengganti proses pendinginan, peneliti konsentrasi menemukan langkah "mencairkan es" tanpa meningkatkan suhu. Metode nan ditemukan adalah dengan menambahkan partikel nan berisi daya nan dikenal sebagai ion.
Proses pencairan menggunakan partikel ion ini contohnya adalah saat garam digunakan untuk mencegah terbentuknya es di jalan raya ketika musim dingin di negara-negara empat musim. Siklus perubahan corak ini diberi nama siklus ionokalori (ionocaloric cycle)
"Belum ada solusi pengganti nan sukses menciptakan dingin, nan bekerja dengan efisien, memenuhi aspek keselamatan, dan tidak berakibat jelek untuk lingkungan. Kami pikir siklus ionocalori punya potensi," kata Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory.
Tim peneliti telah menguji coba garam nan dibuat menggunakan yodium dan natrium untuk mencairkan etilena karbonat. Cairan nan diproduksi memanfaatkan karbon dioksida ini juga digunakan dalam baterai lithium-ion. Artinya, proses pembuatannya tidak hanya nol emisi, tetapi emisi negatif.
Dalam uji coba itu, temperatur berubah hingga 25 derajat Celcius dengan hanya "charge" sebesar 1 volt.
Kini, peneliti tengah menciptakan sistem praktis nan bisa terapkan secara komersial. Salah satu pengembangannya adalah mencari "garam" nan paling efektif untuk menarik panas dari ruang. Pada 2025, peneliti menemukan bahwa garam nan paling efisien adalah garam nan berbasis nitrat.
(arj/arj)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·