Ketum MUI: Persatuan Umat Tak Berarti NU dan Muhammadiyah Harus Melebur

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar. Foto: PBNU

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menegaskan persatuan umat Islam tidak berfaedah seluruh organisasi masyarakat (ormas) Islam kudu melebur menjadi satu.

Menurutnya, setiap ormas tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, sementara MUI berkedudukan sebagai perekat agar seluruh ormas dapat berasosiasi dalam perjuangan bersama.

Menurutnya, persatuan merupakan modal utama untuk menghadapi tantangan bangsa dan membangun kekuatan umat.

“Kita perlu sekali untuk sekaligus memberikan satu kesepakatan bahwa kita semuanya memahami pentingnya ukhuwah islamiyah. Sebagaimana nan sudah sering sekali diputuskan dalam beragam kongres, mulai kongres pertama sampai sekarang, basic ukhuwah itu tetap terus kudu kita gaungkan,” kata Anwar saat Penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (26/7).

Ia menjelaskan, makna persatuan bukan berfaedah menghapus identitas masing-masing organisasi Islam nan selama ini telah mempunyai sejarah dan perannya sendiri.

“Kalau dulu ukhuwah itu kemudian digunakan untuk merebut kemerdekaan, dan seterusnya untuk menyatakan resolusi jihad seperti nan tadi disampaikan oleh Dewan Pertimbangan. Maka hari ini, kongres ini, bakal menyatakan pentingnya ukhuwah islamiyah itu, dan ketika kita bersatu, berasosiasi tidak berfaedah kemudian melebur, ya, nan NU biarlah menjadi NU, nan Muhammadiyah biarlah menjadi Muhammadiyah,“ ujar Anwar.

“Tidak usah nan NU kudu jadi Muhammadiyah alias nan sebaliknya, tidak usah begitu. Tapi ibaratkan sapu lidi, sapu lidi itu bisa berfaedah ketika mereka berkumpul dalam satu ikatan, ikatan itulah dan Majelis Ulama inilah nan bakal menjadi pengikat dari ormas-ormas Islam di Indonesia ini. Agar apa? Agar menjadi kekuatan,” lanjutnya.

Anwar menegaskan kekuatan umat hanya dapat terbangun andaikan seluruh ormas mengesampingkan ego masing-masing dan menjadikan MUI sebagai wadah pemersatu.

Persatuan untuk Pembangunan Bangsa

Kantor pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Foto: Helmi Afandi/kumparan

Menurut Anwar, setelah menjadi kekuatan, persatuan tersebut kudu dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan bangsa sekaligus memajukan umat Islam.

“Nah, setelah menjadi kekuatan, bakal kita gunakan kekuatan ini untuk memberi manfaat. Satu, faedah untuk kepentingan bangsa dan negara Republik Indonesia nan memang sekarang ini lagi menuju sesuatu nan banget krusial dan menjanjikan sekali. Kita sudah mendengarkan mulai kemarin gimana pidato para menteri, para pakar, para ahli, nan memastikan dan meyakinkan kepada kita bahwa pemerintah kita sekarang ini sedang sungguh-sungguh melaksanakan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 45 nan sangat berpihak kepada rakyat menuju sebuah Indonesia nan mandiri,” ungkap Anwar.

“Kita gunakan kekuatan kita untuk membersamai pemerintah menuju cita-cita bersama, ialah Indonesia nan maju, nan mandiri, tapi juga bersih dari praktik-praktik korupsi, manipulasi, dan pelanggaran-pelanggaran nan lain. Ini nan pertama. nan kedua, kekuatan kita ini bakal kita gunakan juga untuk membangun, membangun umat Islam dalam bagian ekonomi, dalam bagian pendidikan, dalam bagian dakwah, dan nan lain-lain,” sambungnya.

Anwar mengatakan umat Islam tetap mempunyai pekerjaan rumah besar, khususnya dalam bagian ekonomi dan pendidikan. Ia menilai jumlah umat Islam nan besar belum berbanding lurus dengan kekuatan ekonominya.

“Karena kita butuh umat ini ekonominya itu kuat, pendidikannya kuat, tetap banyak sekali nan kurang,” ujar Anwar.

“Karena itu mesti ada kesadaran dari seluruh ormas-ormas Islam nan ada untuk membangun kekuatan ekonomi umat ini, dan selain itu juga membangun pendidikan, agar mempunyai sumber daya manusia, nan memahami tentang pentingnya teknologi dan pengetahuan pengetahuan nan mumpuni,” sambungnya.

Selain membangun ekonomi, Anwar juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan pengetahuan pengetahuan dan teknologi.

“Ukhuwah kita bakal kita gunakan untuk memberikan kontribusi nan positif terhadap pembangunan bangsa dan negara, lantaran kita percaya bahwa apa nan diinginkan oleh pemerintah kita bakal memberi faedah kepada umat Islam dan kita perlu membersamai pemerintah di dalam melaksanakan pembangunan untuk menuju masyarakat nan maju dan modern, untuk menuju Indonesia nan mandiri,” kata Anwar.

“Dan nan kedua bakal kita gunakan kekuatan ukhuwah ini untuk membangun ekonomi umat, jangan sampai lemah, dan selanjutnya bakal kita gunakan untuk menjadikan umat Islam ini, umat Islam nan melek teknologi, melek pengetahuan pengetahuan,” tambah dia.

Anwar juga membujuk seluruh umat Islam menjadikan HUT ke-51 MUI sebagai momentum memperkuat persatuan untuk menyelesaikan beragam tantangan nan tetap dihadapi umat.

“Banyak pekerjaan rumah dari kita semuanya nan tetap kudu kita kerjakan. Marilah kita bergandeng tangan, marilah kita bersatu, insyaallah seberat apa pun nan menjadi tanggung jawab kita semuanya, tanggung jawab kita semuanya bakal dapat kita selesaikan jika kita bersatu. Jangan seperti orang dulu nan cengeng,” tutur Anwar.

“Orang kita dulu mengatakan, ‘maksud hati memeluk gunung, tapi apa daya tangan tak sampai’. Itu terlalu cengeng. Kita sekarang berubah, ‘maksud hati memeluk gunung, mari kita gandeng tangan kita bersama-sama dan bakal kita peluk gunung itu, gunung kehormatan‘,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan