Ilustrasi(MI/M IQBAL AL MACHMUDI)
Pariwisata ramah muslim atau muslim friendly tourism merupakan salah satu segmen pariwisata nan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan baik dalam perjalanan wisata di dalam negeri maupun di mancanegara.
"Konsep itu tidak hanya berangkaian dengan kesiapan makanan legal dan akomodasi ibadah saja, namun juga mencakup kemudahan akses, kenyamanan, keamanan, serta kualitas pelayanan nan sesuai dengan kebutuhan wisatawan," kata Kepala Subdit Standarisasi dan Kerja Sama Angkutan Udara Kementerian Perhubungan, Yudhonur Setyaji Paridjo di Jakarta, Jumat (16/10).
Yudho menjelaskan dalam mendukung pengembangan pariwisata tersebut, transportasi udara merupakan salah satu nan mempunyai peran strategis dalam menghubungkan beragam lokasi wisata serta meningkatkan mobilitas masyarakat dan mendukung perdukungan ekonomi.
Oleh lantaran itu, Kementerian Perhubungan terus berupaya memperkuat konektivitas udara melalui pengembangan jaringan penerbangan baik domestik maupun internasional, peningkatan kualitas pelayanan serta penyelenggaraan transportasi nan selamat, aman, dan terjangkau bagi masyarakat.
Menurut Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index 2026, jumlah visitor Muslim internasional mencapai sekitar 196 juta pada 2025, meningkat 11,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini diproyeksikan mencapai 262 juta pada 2030.
Dalam indeks nan sama, Indonesia menempati ranking kedua berbareng Turki dan Arab Saudi sebagai destinasi ramah muslim terkemuka di dunia. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa wisata ramah muslim bukan lagi sekadar segmen khusus, melainkan kesempatan strategis bagi industri perjalanan untuk menghadirkan jasa nan semakin inklusif dan relevan dengan kebutuhan wisatawan.
Selain akomodasi legal dan tempat ibadah, aspek keselamatan, kemudahan akses informasi, pengalaman autentik, serta support teknologi juga semakin krusial dalam menentukan pilihan perjalanan.
Ketua Umum ASTINDO, Pauline Suharno, menyampaikan bahwa perkembangan pasar ini perlu direspons dengan memperkuat peran travel agent dalam memberikan solusi perjalanan nan terpercaya dan beragam.
“Indonesia mempunyai potensi besar dalam ekosistem wisata ramah muslim, baik sebagai negara tujuan maupun sebagai pasar visitor nan mau menjelajahi dunia,” ujar Pauline.
Tantangannya, lanjut Pauline, bukan hanya menyediakan paket wisata, tetapi juga memastikan visitor mendapatkan info nan tepat, pilihan jasa nan sesuai, serta rasa kondusif dan nyaman selama perjalanan.
"Melalui ASTINDO Muslim Friendly Travel Fair 2026, ASTINDO mau membantu masyarakat menemukan lebih banyak pilihan destinasi dan pengalaman wisata nan ramah Muslim, sekaligus mendorong travel agent untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan," jelasnya.
Menurut Pauline, prinsip The Empowering Travel Agents menjadi landasan ASTINDO dalam mendorong anggotanya agar bisa menghadirkan solusi perjalanan dengan pilihan maskapai, destinasi, dan produk nan beragam. Dengan support tenaga profesional, visitor dapat memperoleh pendampingan untuk merencanakan perjalanan nan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara III Kementerian Pariwisata, Indra Dewanto mengatakan Indonesia menjadi ranking kedua dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 naik dari ranking kelima di tahun lalu.
"Tentunya capaian ini memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi unggulan bagi visitor muslim bumi dan perlu kita manfaatkan untuk meningkatkan promosi, kualitas jasa dan penjualan paket visitor muslim," ujar Indra.
Tahun ini sektor pariwisata menunjukkan pertumbuhan nan positif. Pada periode Januari hingga Agustus 2026 kunjungan visitor mancanegara mencapai 10,5 juta, naik 5,38% dari periode nan sama tahun 2025.
Kemudian juga jumlah perjalanan visitor Nusantara periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai 842 juta perjalanan visitor meningkat 4,29% dibandingkan periode nan sama tahun 2025.
"Kementerian Pariwisata di tahun 2026 ini mentargetkan kunjungan visitor 16 hingga 17 juta kunjungan wisman dan 1,17 miliar perjalanan visitor Nusantara," pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·