Ilustrasi(MI/Usman Iskandar)
KESEPAKATAN antara Amerika Serikat dan Iran untuk membentuk unit de-konflikasi (deconfliction cell) guna meredakan ketegangan regional, termasuk di Libanon, dinilai tetap mempunyai kesempatan besar untuk sukses meskipun Israel menolak menarik pasukannya dari Libanon selatan.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia (UI), Suzie Sudarman, saat dimintai tanggapan mengenai prospek keberhasilan kesepakatan Washington dan Teheran di tengah sikap keras pemerintah Israel.
Menurut Suzie, sejumlah kajian hubungan internasional menunjukkan bahwa posisi Israel dalam hubungan dengan Amerika Serikat dapat mengalami perubahan jika kepentingan strategis Washington bergeser.
"Sangat besar kemungkinan menurut Mearsheimer setelah resizing Israel (di turunkan level persahabatanya) maka mungkin AS sendiri bisa menyerang Israel," kata Suzie dihubungi Media Indonesia, Senin (22/6).
Ia juga menyoroti perubahan pendekatan Amerika Serikat terhadap Iran nan menurutnya semakin terlihat dalam pernyataan-pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump.
Menurut Suzie, selama bertahun-tahun Iran sering dipersepsikan sebagai negara nan bertindak tidak rasional, ideologis, dan condong mengambil langkah berisiko. Namun, dia memandang adanya perubahan langkah pandang dari Washington terhadap Teheran.
"Iran nan tadinya dianggap irrational, ideological dan suicidal sekarang Trump menyatakan Amerika Serikat sangat senang berbicara ocehan dengan Iran itu sangat lah menyenangkan lantaran ramah dan baik," ujarnya.
Sementara itu, Suzie menilai pembentukan deconfliction cell berpotensi menciptakan sistem keamanan baru di Timur Tengah nan tidak lagi sepenuhnya berjuntai pada peran Amerika Serikat sebagai penjamin stabilitas kawasan.
"Akan muncul langkah baru untuk mengawasi keamanan kawasan. Negara-negara Teluk mulai menyadari bahwa Amerika Serikat tidak bisa diandalkan sebagai penjaga keamanan negara-negara Teluk," jelasnya.
Ia menilai negara-negara Teluk mulai menyadari perlunya membangun pendekatan keamanan nan lebih berdikari seiring berkurangnya kepercayaan terhadap komitmen Washington dalam menjaga kepentingan mereka.
Terkait langkah nan mungkin ditempuh Amerika Serikat andaikan Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Libanon, Suzie kembali merujuk pada pandangan intelektual politik Amerika Serikat, John Mearsheimer.
Menurutnya, terdapat kemungkinan Washington mengambil langkah nan lebih tegas demi menjaga kredibilitas kesepakatan nan telah dibangun dengan Iran.
"Menurut Mearsheimer bahwa mungkin Amerika bakal menyerang Israel," pungkas Suzie. (Fer)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·